http://www.google.com/2005/gml/expr'> BAGUS SIDUM, MISTERI KIJANG DAN SUMUR SINDU - Indramayu Tradisi
SELAMAT DATANG ! Anda sedang mengunjungi website terbaik dan terpercaya di Indramayu dan sekitarnya. Silahkan PASANG IKLAN ANDA DISINI

BAGUS SIDUM, MISTERI KIJANG DAN SUMUR SINDU

Panembahan Paseh II yang berkerabat dengan sultan Cirebon memilki putra yang bernama Kiai Waridah. Kiai Waridah diberi gelar Pangeran Tambak Baya oleh Sultan Cirebon , serta diberi kekuasaan untuk mendirikan padepokan di Cisambeng. Ketika itu Cisambeng merupakan wilayah Cirebon di Ujung Barat, sehingga berdirinya padepokan di Cisambeng merupakan benteng Cirebon dibagian barat. Cisambeng sekarang berada diwilayah Jatitujuh, Majalengka.
Ki Waridah memiliki putra yang bernama Bagus Sidum atau Ki Sidum atau ada pula yang menyebutnya Buyut Sidum, tapi bukan bagian dari rangkaian penguasa kerajaan Talaga.

Sebagai seorang putra padepokan, Bagus Sidum banyak memprlajari ilmu agama dan ilmu beladiri.
Suatu hari Bagus Sidum berkehendak untuk berkelana ke wilayah Banten. Ki Waridah memberikan restu. Pergilah Bagus Sidum menuju barat.
Setelah melakukan perjalanan yang lama akhirnya Bagus Sidum sampai disuatu daerah yang disebut Tegalpapak yaitu tempat untuk menyabung ayam.
Jagoan dari segala penjuru Banten sering berkumpul di sana. Mereka menyabung ayam.


Hutan Sinang

Bagus Sidum di Tegalpapak membuka lahan untuk berladang, ia pun mulai bertanam palawija, tetapi apabila telah berbuah, Bagus Sidum tidak pernah menjual hasilnya, siapapun yang membutuhkan akan diberikan dengan gratis.
Sewaktu-waktu Bagus Sidum pun turut menyambung ayam melawan ayam para jagoan Banten. Anehnya, ayam Bagus Sidum tak pernah kalah, tetapi uang hasil taruhannya selalu ia kembalikan kepada lawannya. Hal ini membuat para jagoan terheran-heran. 
Salah satu jawara dari mereka pun bertanya : 
“Wahai kisanak, kenapa uang taruhan kemenanganmu selalu engkau kembalikan ?"
Bagus Sidum menjawab   :
“Namaku Sidum, uang itu bukan hasil jerih payahku, tetapi hasil usaha kalian,   saya hanya sekedar mencoba ayamku”.
“Saya  juga mendengar kamu  tidak  menerima uang  pembayaran  hasil  kebunmu,   Apakah kamu tidak membutuhkan uang ?” tanya jawara kembali
“Sebagai  manusia  saya  pun mempunyai  kebutuhan untuk keperluan hidup,     tetapi hasil kebunku sangat banyak melebihi kebutuhanku sendiri. Oleh karena  itu, saya berterima kasih apabila orang lain membutuhkannya." jawab Bagus Sidum
Mendengar pengakuan Bagus Sidum yang tulus itu, para jawara pecandu adu ayam pun mulai menghentikan kegemaran buruknya. Tegalpapak pun tidak lagi menjadi menjadi tempat menyabung ayam lagi.
Selain berkebun palawija, Bagus Sidum pun sering mengobati orang sakit, sehingga kebaikan Bagus Sidum ini tersebar sampai ke pelosok desa dan menjadi buah bibir masyarakat di sana.
Kemampuan tabib Bagus Sidum terdengar oleh sang sultan maka, dipanggillah Bagus Sidum ke istana.
“Siapa nama dan darimana asalmu ?” tanya sultan.
“Hamba bernama Sidum dan berasal dari Cisambeng Cirebon”.
“Saya dengar kamu sering mengobati orang sakit, benarkah ?" tanya sang sultan yang ternyata bernama Sebakingking ini
Bagus Sidum pun menjawab : “Pengetahuan hamba tentang obat-obatan sangat kurang, andaikata  yang  saya  obati  itu sembuh,  kesembuhannya   hanya  karena ridho Allah SWT semata, gusti !”.
Kemudian sultan Sabakingking pun berkata :
“Istriku sakit payah, tolong   obati   dia,   mudah-mudahan jalan kesembuhannya berasal dari kamu”.
Bagus Sidum mengamati istri sang sultan yang sedang terbaring lemah. Kemudian dia meracik dedaunan serta akar pepohonan untuk dijadikan ramuan obat.
Setelah itu Bagus Sidum memohon kepada Yang Maha Kuasa agar terkabul yang menjadi maksudnya. Dengan ijin Allah SWT permohonan Bagus Sidum terkabul dan setelah berpamit untuk kembali pulang ke rumahnya di Tegalpapak.
Setelah beberapa hari kesehatan permaisuri Sultan Sabakingking berangsur-angsur membaik dan sembuh. Sultan bersyukur dan memuji keahlian Bagus Sidum dalam mengobati orang sakit. Tetapi, timbullah pertanyaan dalam hati Sultan, siapa sebenarnya Sidum itu ?
Bagus Sidum kembali dipanggil ke istana dan menghadap sultan.
Sultan Sabakingking kemudian bertanya pada Bagus Sidum :
“Coba jelaskan asal usulmu, Sidum. Siapa nama ayah serta kakekmu?
Bagus Sidum akhirnya menjelaskan keadaan sebenarnya.
Setelah mendengar penjelasan Sidum,   Sultan Sabakingking kaget, tidak disangka bahwa pemuda dihadapannya itu masih saudaranya juga. Sebagai tanda terima kasih, Bagus Sidum dianugrahi sebilah keris bernama Kiai Arab dan seperangkat jubah, serta dinikahkan dengan putrinya.
Konon kabarnya, hasil dari pernikahan dengan putri Sultan Sabakingking itu dikaruniai seorang putra yang kelak bergelar Demang Secayuda.
Kelak Bagus Sidum mempunyai istri lagi dan dikaruniai seorang putra pula yang bernama Bagus Sander, yang bergelar Demang Wirayuda.
------
Bagus Sidum sudah merasa cukup mengembara di daerah Banten, pada suatu hari Bagus Sidum mohon ijin kepada mertuanya untuk pulang ke Cisambeng.

Dalam perjalanan pulang ke Cisambeng, sampailah Bagus Sidum didaerah Cipunegara. Bagus Sidum didatangi seorang pemuda yang sedang mencari muara Cimanuk.
Bagus Sidum yang sedang menyamar seperti kakek-kakek dan berkebun palawija tersebut membantu pemuda yang bernama Wiralodra itu.
Bagus Sidum  menunjukan arah kepada Wiralodra :
“Kamu   harus kembali   ke  arah timur,  apabila  nanti   menemukan  seekor  Kijang,  turuti  Kijang
tersebut.   Bila   Kijang  hilang dari   pandanganmu, disitulah Muara Cimanuk tempatnya".
Wiralodra gembira mendapat petunjuk tersebut dan berkatalah Wiralodra :
”Terima kasih, Kek ! Saya permisi akan meneruskan perjalanan”.
“Selamat jalan. Nak ! Semoga Allah selalu melindungimu”.

Setelah beberapa tumbak Wiralodra berjalan, terlihatlah seekor Kijang sedang merumput. Ketika Kijang melihat Wiralodra, larilah Kijang tersebut.

Wiralodra tidak mensia-siakan kesempatan tersebut, secara kilat ia mengejarnya, secepat-cepatnya manusia berlari, tetap tertinggal jauh. Anehnya, apabila Wiralodra tertinggal, sang Kijang berhenti sambil merumput, seolah-olah menanti Wiralodra.

Demikianlah akhirnya di suatu tempat (sekarang Pasekan) Kijang yang dikejar menghilang dari pandangan Wiralodra.
Konon kabarnya yang terlihat Kijang itu sebenarnya Bagus Sidum. Hanya pandangan Wiralodra yang melihat Bagus Sidum seperti Kijang.

------

Dari Cipunegara Bagus Sidum menuju arah tenggara dan timur. Banyak tempat yang ia singgahi sehingga tidak heran dikemudian hari sampai sekarang banyak tempat tapakan atau peninggalan Ki Sidum atau Bagus Sidum ini, misalkan di Temiyangsari, Mundakjaya, Tunggulpayung dan lain-lain.

Perjalanan kembali Bagus Sidum sampailah dihutan Sinang. Konon hutan Sinang di sana banyak penghuni ghaibnya dan bisa berkomunikasi dengan manusia.
Jika manusia salah ucap bisa menimbulkan malapetaka, bisa hujan mendadak, angin taufan atau sang raja hutan datang mengganggu.
Suatu ketika Bagus Sidum tiba-tiba saja kedatangan Natawana dan Jagawana pemilik Kerajaan Sinang, dengan pakaian kerajaanya, raja yang kena supatawali, karena lari mengasingkan diri takut masuk Islam. Natawana dan Jagawana bukan enggan masuk Islam, tetapi mereka takut disunat sebelum masuk Islam.
Kehadiran Bagus Sidum di hutan Sinang menimbulkan hawa panas bagi penghuni hutan Sinang, sebab Bagus Sidum memiliki Keris Kiai Arab dan orang yang selalu bertafakur. Tapanya tanpa batas, ia makan sekedar untuk hidup.
Natawana dan Jagawana sadar, bahwa hawa panas ini bukan dikarenakan alam, tetapi ada penyebab lain, pandangannya tajam sebagai bangsa siluman.
Dari jauh tampak duduk seorang manusia. Tentu saja Natawana dan Jagawana segera datang menghampirinya.
Sesampainya didepan Bagus Sidum, Natawana  bertanya pada Bagus Sidum : “Hai manusia! siapa nama dan darimana asalmu? Lalu mengapa engkau berada disini ?"
Bagus Sidum sadar dihadapannya sebangsa siluman, ia pun menjawab : “Namaku Sidum, berasal dari Cisambeng, kedatanganku kesini sekedar menumpang istirahat saja".
Namun Natawana dan Jagawana mengusirnya agar segera meninggalkan hutan Sinang. Tapi Bagus Sidum terlalu kuat untuk dilawan. Natawana dan Jagawana kalah pengaruh, tiba-tiba mereka minta ampun.
“Ampunilah kami, Bagus Sidum ! Kami berdua berjanji akan tunduk kepadamu, kami ingin mengabdi kepadamu”.
Bagus Sidum pun menjawab :
“Baiklah  janjimu  saya terima tetapi kamu  harus mengikuti  adat  kebiasaan   seperti semula”.
Dengan disanggupinya permintaan Bagus Sidum, maka sejak itu Bagus Sidum mempunyai pembantu kawula yaitu Natawana dan Jagawana namanya kemudian diganti menjadi Ki Baniyem dan Ki Juasih.
----
Dari Hutan Sinang Bagus Sidum bersama Ki Natawana dan Ki Jagawana menuju daerah sebelah timur ketika waktu tengah hari dan mereka pun sholat dzuhur berjamaah.
Seusai sholat, Bagus Sidum berkata :
“Ki Natawana tongkat saya tertinggal”.
“Dimana tertinggalnya, Kiai ?” tanya Ki Natawana.
“Coba saja cari, sanggup tidak ?" perintah Bagus Sidum.
”Sanggup, Kiai !” kata Ki Natawana.
Setelah itu Ki Natawana memejamkan matanya memanggil bekas rakyatnya yang ada di Sinang agar mengantarkan tongkat Kiai Sidum.
Sekejap mata tongkat Kiai Sidum datang, seolah-olah berjalan sendiri, padahal dibawa oleh makhluk halus taklukan Ki Natawana.
Kemudian Ki Natawana  berkata :
“Inilah tongkatnya, Kiai”
"Kau temukan dimanna tingkat itu Ki Natawana ?"
“Di Tegal Grumbiyang, Kiai." jawab Ki Natawana
”Kelak disuatu saat nanti di Tegal Grumbiyang akan ada pabrik .” kata Bagus Sidum.
Ki Jaganata pun bertanaya :
"Apa pabrik itu, Kiai ?”
"Nanti saja kamu kelak akan tahu..” jawab Bagus Sidum.
Setelah Bagus Sidum, Ki Natawana dan Ki Jagawana melepaskan lelah beberapa saat, mereka pun meneruskan perjalanan.
----
Sampailah mereka di hutan jati Danasari,  di situ Bagus Sidum bermaksud bertapa, mendekatkan diri dengan Yang Maha Suci.
Tetapi Bagus Sidum masih melihat pakaian Ki Natawana yang tetap mengenakan pakaian kerajaan sehingga Bagus Sidum pun berkata :
“Ki Natawana, beberapa hari lagi kita sampai ke Cisambeng, pakaianmu harus   disimpan di sini.”
“Bagaimana cara menyimpannya, Kiai?”
“Kuburkan saja di bawah pohon Tenggulun bersama-sama dengan payung dan pusakamu itu.." kata Bagus Sidum.
Lalu pakaian kerajaan Ki Natawana beserta payung dan perkakas perangnya di kubur di bawah pohon Tenggulun.
Setelah selesai, Bagus Sidum berkata : “Sekarang saya akan istirahat,  dan ingin mendekatkan diri kepada Gusti Yang Maha Suci, sebagai tanda syukur bahwa perjalananku selamat sampai ke daerah Cisambeng kembali”.
Berbulan-bulan Bagus Sidum berhujlah, mendekatkan diri kehadirat Yang Maha Kuasa, lain halnya dengan Ki Natawana dan Ki Jagawana, mereka tidak membawa bekal, apalagi mereka bertugas menjaga junjungannya bukan untuk bertapa.
Oleh karena itu, tentu saja buah-buahan disekitar hutan habis dimakan kedua pembantu Bagus Sidum itu, ketika pohon-pohon itu tidak berbuah, Ki Natawana dan Ki Jagawana harus menahan lapar.
Berkatalah Ki Natawana:
“Jagawana, bagaimana nasib kita berdua ? Sedangkan Kiai terlihatnya belum ada tanda-tanda untuk menghentikan hujlahnya !”.
“Ya, kita tidak berani membangunkan beliau" jawab Ki Jagawana.
“Bagaimana kalau kita pura-pura berkelahi saja supaya menimbulkan  kegaduhan sehingga Kiai merasa terganggu dan bangun dari semedinya. Nanti jika Kiai sudah bangun barulah kita jelaskan maksud yang sebenarnya!” usul Ki Natawana.
“Pendapatmu itu baik Ki Natawana, aku setuju !” kata Ki Jagawana.
Akhirnya kedua kaula itu pura-pura berkelahi sehingga situasi menjadi gaduh. Pepohonan disekitarnya rusak oleh ulah kedua panakawan itu, perlahan-lahan Bagus Sidum pun bangun menghentikan semedinya.
Berkatalah Bagus Sidum   :
“Hai … Natawana dan Jagawana ! Sedang apa kalian ini ? Mengapa  dengan teman sendiri sampai mengadu tenaga ?”.
Ki Natawana menjawab :
“He .. he … he ..…terima kasih ! Kalau Kiai sudah bangun. Kami tidak benar-benar berkelahi, karena telah lama menunggu Kiai bersemedi, kita kehabisan bekal dan lihatlah ! Buah-buahan telah habis kami makan".
"Lalu, sekarang apa keinginana kalian ?” tanya Bagus Sindu.
“Sebelum pulang ke Cisambeng, hamba ingin makan nasi dahulu, kiai. Saya sudah  lama  tidak menikmati nasi putih dengan ayam panggang” jawab Ki Jagawana.
“Aneh sekali kamu ini, Jagawana, ditengah-tengah hutan yang sunyi ini minta makan ! Darimana kita mendapatkan nasi ?” kata Bagus Sidum.
"Kalau Kiai pergi ke kesultanan tentu akan membawa oleh-oleh dari  kotapraja, sekarang kami lapar dan kami lama menunggu kiai bertapa" kata Ki Jagawana.
Bagus Sidum kemudian berkata :
“Kamu ini selalu mendesak saja kalau mempunyai kehendak. Baiklah,  coba pejamkan mata kalian sebentar !”
Kedua panakawan memejamkan kedua mata mereka dan Bagus Sidum memohon ridho Allah agar terkabul permintaannya, lalu mengambil tanah dan diletakkan di bawah pohon bersama-sama dengan beberapa kulit kayu jati.
Bagus Sidum berkata :
“Sudah,  Ki Natawana dan Ki Jagawana buka matamu, itu nasi dan ayam panggang untuk kalian".
Betapa terkejut Ki Natawana dan Ki Jagawana, melihat nasi putih yang masih berasap serta ayam panggang yang masih hangat. Tanpa berkata lagi keduanya melalap sampai habis.
Tiba-tiba Ki Natawana timbul kesangsian akan kebenaran nasi tersebut, maka disembunyikanlah sebagian nasi dan ikan ayam yang tersisa. Betapa terkejut hati Ki Natawana, setelah membuka sisa nasi yang disembunyikannya itu berubah menjadi tanah dan kulit kayu kembali. Tetapi, karena Ki Natawana merasa haus, maka kejadian itu tidak mengganggu pikirannya.
Ki Natawana pun berkata :
“Kiai,  kami  berdua  sudah  kenyang, hanya  akan  minum airnya  tidak ada !”
“Tentu saja, Ki Natawana sekarang  musim  kemarau,  ada  tidak ada air ”.
"Kalau begitu kami meminta air kiai...".
“Sudahlah, kalian lihat daun apa ini ?” tanya Bagus Sidum
“Daun alang-alang, Kiai " jawab Ki Natawana
Bagus Sidum melanjutkan perkataanya :
“Daun ini akan saya lemparkan, dan kita harus memgikuti jalannya daun ini !”

Bagus Sidum melemparkan daun alang-alang tersebut dan daun tersrbut meluncur ke arah selatan, serta mereka bertiga mengikuti lajunya daun tersebut dari belakang. Kira-kira 10 tumbak daun itu jatuh.
Bagus Sidum pun berkata :
“Nah ! Natawana daun itu telah jatuh”
“Lalu, bagaimana Kiai ?”
Bagus Sidum menghunus cis (keris kecil) ditujukan ke arah daun alang-alang itu jatuh, sambil berkata:
“Ki Jagawana dan Ki Natawana galilah tanah ini dengan tanganmu!”
“Bagaimana menggalinya, Kiai ? Tanah sekeras ini harus digali dengan jari " tanya Ki Natawana
“Coba saja dahulu, tanah itu tidak akan keras " jawab Bagus Sindu
Akhirnya Ki Natawana dan Ki Jagawana menusukkan kedua tangannya ke dalam tanah. Betapa terkejutnya hati kedua panakawan itu. Sebab, begitu tanah diangkat, tiba-tiba memancarlah air dari dalamnya. Bukan main girangnya hati Ki Natawana dan Ki Jagawana. Mereka minum dan mandi  sepuas-puasnya.
Bagus Sidum pun menciduk air serta merasainya lalu berkata:
”Sejuk benar air ini, seperti air sewindu”
“Air apa, Kiai?” tanya Ki Jagawana
“Air sewindu, tempat ini kelak akan menjadi desa dan sumur ini banyak dikunjungi orang, dan anak cucuku akan tinggal di sini !”
Tempat itu kemudian bernama desa Sumber dan sumurnya bernama sumur Sindu.
Bagus Sidum, Ki Natawana dan Ki Jagawana meneruskan perjalanan ke Cisambeng.

Subscribe to receive free email updates:

Banyak dikunjungi :