Ads

Setahun Mengubah Bangsa: MBG sebagai Batu Penjuru Menuju Indonesia Emas 2045

Setahun Mengubah Bangsa: MBG sebagai Batu Penjuru Menuju Indonesia Emas 2045

Oleh Akang Marta



Setiap tanggal 25 Januari, Indonesia memperingati Hari Gizi Nasional. Biasanya, peringatan ini diisi dengan kampanye makan sehat, seminar, dan kegiatan simbolik. Namun pada tahun 2026, maknanya terasa berbeda. Hari Gizi Nasional tidak lagi sekadar seremoni, melainkan momentum refleksi atas satu tahun perjalanan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diluncurkan pada awal 2025. Dalam kurun waktu singkat, MBG telah menjelma menjadi salah satu agenda transformasi terbesar dalam sejarah pembangunan manusia Indonesia.

MBG bukan hanya soal memberi makan. Ia adalah strategi kebudayaan, kesehatan, dan ekonomi yang dirancang untuk menyiapkan fondasi Indonesia Emas 2045. Di balik sepiring nasi, telur, susu, dan sayur, tersimpan visi besar: membentuk manusia Indonesia yang sehat, cerdas, kuat, dan berdaya saing global. Karena pada akhirnya, bangsa tidak dibangun dari beton dan baja, tetapi dari kualitas manusianya.

Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dr. Dadan Hindayana, menegaskan bahwa gizi merupakan pondasi dasar kualitas Sumber Daya Manusia (SDM). Tanpa gizi yang baik, pendidikan setinggi apa pun akan kehilangan maknanya. Dalam berbagai forum, ia mengungkapkan fakta sosiologis yang menantang: sebagian besar anak Indonesia lahir dari keluarga dengan tingkat pendidikan orang tua yang belum tuntas wajib belajar sembilan tahun. Di Jawa Barat, misalnya, rata-rata lama sekolah hanya sekitar 8,8 tahun. Kondisi ini berkorelasi dengan kemampuan ekonomi keluarga dan akses terhadap pangan bergizi.

Ketika orang tua memiliki pendidikan terbatas, pola asuh, pengetahuan gizi, dan daya beli juga ikut terbatas. Akibatnya, anak tumbuh dalam lingkungan yang secara biologis dan psikologis tidak optimal. Di sinilah negara harus hadir. MBG dirancang bukan sebagai bantuan karitatif, tetapi sebagai intervensi struktural untuk memotong rantai kemiskinan, ketertinggalan, dan gizi buruk yang diwariskan lintas generasi.

Strategi MBG bertumpu pada dua titik kritis kehidupan manusia. Pertama adalah 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), sejak janin hingga usia dua tahun. Pada fase ini, sel-sel otak berkembang sangat cepat. Jika ibu hamil kekurangan zat gizi, atau bayi tidak mendapatkan asupan tepat, dampaknya bersifat permanen. Stunting bukan hanya soal tinggi badan, tetapi juga kecerdasan, emosi, dan produktivitas. Otak yang tidak berkembang optimal sulit diperbaiki di usia selanjutnya.

Kedua adalah fase usia 8 sampai 18 tahun, masa di mana tubuh dan karakter disempurnakan. Pada periode ini, tulang memanjang, otot menguat, hormon bekerja aktif, dan kapasitas fisik manusia ditentukan. Banyak orang mengira tinggi badan dan kekuatan fisik hanya faktor genetik. Padahal, genetika hanya menyediakan potensi, sementara gizi menentukan apakah potensi itu tercapai atau tidak. Karena itu, MBG hadir di sekolah sebagai instrumen negara untuk memastikan anak-anak Indonesia tidak hanya pintar, tetapi juga kuat dan sehat.

Satu tahun berjalan, skala MBG menunjukkan lompatan besar. Hingga 2026, tercatat lebih dari 21.005 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) telah beroperasi dan melayani sekitar 58 juta penerima manfaat. Angka ini bukan sekadar statistik, melainkan gambaran mesin pertumbuhan manusia yang sedang dibangun secara masif dan terstruktur. Dari kota hingga pelosok desa, dapur-dapur SPPG bekerja setiap hari menyiapkan asupan terbaik bagi siswa dan kelompok sasaran lainnya.

Di sekolah, dampaknya langsung terasa. Kehadiran siswa meningkat. Anak-anak yang sebelumnya datang tanpa sarapan kini lebih fokus belajar. Guru melaporkan perubahan perilaku: siswa lebih ceria, tidak mudah lelah, dan lebih aktif bertanya. MBG mengubah sekolah dari sekadar ruang transfer ilmu menjadi ruang pemulihan biologis dan pembentukan karakter.

Namun, revolusi gizi ini tidak berhenti di kelas. MBG juga menggerakkan ekonomi rakyat. Setiap SPPG membutuhkan pasokan beras, telur, sayur, ikan, daging, susu, dan bumbu dalam jumlah besar. Sekitar 70 persen anggaran digunakan untuk membeli bahan baku dari lingkungan sekitar. Artinya, uang negara tidak berhenti di dapur sekolah, tetapi mengalir ke sawah petani, kandang peternak, kolam nelayan, dan UMKM desa. MBG menciptakan pasar baru yang stabil melalui prinsip creating demand.

Efeknya berlapis. Petani mendapat kepastian serapan hasil panen. Peternak ayam dan sapi memiliki pembeli tetap. UMKM pangan desa belajar memenuhi standar higienitas dan konsistensi produksi. Bahkan, MBG membuka peluang bagi generasi muda untuk kembali ke desa sebagai pemasok logistik, pengelola pertanian modern, atau pengusaha pangan lokal. Program gizi berubah menjadi mesin ekonomi kerakyatan.

Yang membuat MBG semakin kuat adalah sinergi lintas sektor. BGN tidak bekerja sendiri. Kementerian Pertahanan mendukung kedisiplinan SDM, Kementerian Dalam Negeri mengoordinasikan pemerintah daerah, Kementerian Kesehatan memantau dampak kesehatan, BPOM menjamin keamanan pangan, dan Kementerian Koperasi serta UMKM mengelola rantai pasok lokal. Birokrasi yang biasanya lamban dipaksa bergerak ramping dan kolaboratif.

Selain aspek fisik dan ekonomi, MBG juga mengusung perubahan budaya. Anak-anak tidak hanya diberi makan, tetapi juga diedukasi tentang gaya hidup sehat: cuci tangan, memilih jajanan, olahraga terukur, dan istirahat cukup. Prof. Hardinsyah bahkan mendorong pendekatan seni dan budaya, seperti lagu, permainan, dan senam, agar pesan gizi tertanam sebagai kebiasaan, bukan paksaan. Dari sini lahir filosofi “Sehat, Kuat, Cerdas, Ceria” sebagai roh pendidikan karakter.

Dalam konteks Indonesia Emas 2045, MBG adalah investasi jangka panjang. Bonus demografi tidak akan berarti jika manusianya lemah, pendek, mudah sakit, dan kurang cerdas. Negara boleh memiliki sumber daya alam melimpah, tetapi tanpa SDM unggul, semua itu sulit dikelola secara berdaulat. MBG menyiapkan generasi yang bukan hanya banyak, tetapi berkualitas.

Tentu, tantangan masih ada. Pengawasan mutu, konsistensi distribusi, pendampingan petani, serta edukasi keluarga harus terus diperkuat. MBG tidak boleh menjadi rutinitas administratif. Ia harus tetap menjadi gerakan sosial yang hidup di sekolah, keluarga, dan desa.

Setahun pertama MBG telah membuktikan satu hal penting: perubahan besar bisa dimulai dari hal paling sederhana, yaitu makanan. Dari satu piring bergizi, lahir energi belajar. Dari satu dapur sekolah, bergerak ekonomi desa. Dari satu kebijakan gizi, dibangun masa depan bangsa.

Hari Gizi Nasional 2026 bukan lagi sekadar peringatan, melainkan penanda revolusi. Revolusi yang tidak berisik, tetapi bekerja di tubuh, otak, dan karakter anak-anak Indonesia. Jika konsistensi ini terjaga, maka Indonesia Emas 2045 bukan utopia. Ia sedang disiapkan hari ini, lewat kerja sunyi para pengelola SPPG, guru, petani, ibu, dan negara yang memilih berinvestasi pada manusia.

Karena pada akhirnya, kejayaan bangsa tidak diukur dari tingginya gedung, tetapi dari tegaknya generasi yang sehat, cerdas, kuat, dan bermartabat. Dan MBG telah menancapkan batu penjuru menuju arah itu.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel