Gotong Royong: Napas Utama Koperasi Desa Merah Putih
Gotong Royong: Napas Utama Koperasi Desa Merah Putih
Di tengah arus individualisme dan persaingan ekonomi yang kian ketat, desa justru menyimpan kekuatan besar yang kerap terlupakan: gotong royong. Nilai kebersamaan inilah yang sejak lama menjadi ciri khas masyarakat pedesaan. Kini, semangat tersebut menemukan ruang aktualisasinya kembali melalui Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Lebih dari sekadar lembaga ekonomi, KDMP menjadi wadah sosial yang menumbuhkan kembali napas gotong royong sebagai fondasi utama pembangunan desa.
Selama ini, koperasi sering dipahami hanya sebagai tempat simpan pinjam atau jual beli. Padahal, ruh koperasi sejatinya adalah kebersamaan. Dalam KDMP, warga desa tidak hanya datang sebagai pelanggan, tetapi sebagai anggota sekaligus pemilik. Setiap keputusan diambil melalui musyawarah, setiap keuntungan dibagi secara adil, dan setiap tantangan dihadapi bersama. Inilah praktik nyata gotong royong dalam konteks ekonomi modern.
Gotong royong dalam KDMP dimulai dari kesadaran bahwa kesejahteraan tidak bisa dicapai sendiri-sendiri. Banyak warga desa memiliki usaha kecil, lahan sempit, atau modal terbatas. Jika bergerak sendiri, daya saing mereka lemah. Namun, ketika disatukan dalam koperasi, kekuatan kecil berubah menjadi kekuatan kolektif. Produk dikumpulkan, modal digabung, dan pasar diperluas bersama-sama.
Ketua KDMP di salah satu desa menggambarkan koperasi sebagai rumah bersama. “Di sini tidak ada yang lebih tinggi atau lebih rendah. Semua anggota punya suara. Kami duduk satu meja, membahas masalah, dan mencari solusi bersama. Inilah gotong royong dalam arti sesungguhnya,” ujarnya.
Setiap anggota KDMP memiliki peran. Ada yang menjadi pemasok produk, ada yang mengelola toko koperasi, ada yang mengurus administrasi, dan ada pula yang membantu pemasaran. Pembagian peran ini membuat warga merasa terlibat, bukan sekadar menjadi penonton. Ketika koperasi maju, semua merasa memiliki. Ketika ada masalah, semua ikut bertanggung jawab.
Semangat gotong royong juga terlihat dalam pengelolaan modal. Dana yang terkumpul dari simpanan anggota diputar kembali untuk kepentingan bersama. Anggota yang membutuhkan modal usaha dibantu melalui mekanisme koperasi. Namun, bantuan ini bukan sekadar transaksi, melainkan bentuk solidaritas ekonomi. Setiap orang sadar bahwa uang yang dipinjam adalah amanah dari anggota lain yang harus dijaga.
Dalam praktiknya, KDMP tidak hanya membangun ekonomi, tetapi juga membangun hubungan sosial. Rapat anggota bukan hanya forum formal, tetapi ruang dialog warga. Di sana, mereka bertukar pikiran, menyampaikan aspirasi, bahkan menyelesaikan persoalan bersama. Koperasi menjadi titik temu yang memperkuat komunikasi antarwarga desa.
Gotong royong dalam KDMP juga tercermin dalam pembagian manfaat. Keuntungan koperasi tidak hanya dinikmati pengurus, tetapi dibagikan kepada anggota sesuai prinsip keadilan. Sebagian keuntungan juga dialokasikan untuk pengembangan usaha, dana sosial, dan kegiatan kemasyarakatan. Dengan demikian, koperasi bukan hanya menguntungkan secara ekonomi, tetapi juga menghidupkan solidaritas sosial.
Di tengah perubahan zaman, nilai gotong royong sering tergerus oleh logika pasar yang individualistik. Setiap orang berlomba mencari keuntungan sendiri. KDMP hadir sebagai penyeimbang. Ia mengajarkan bahwa keuntungan sejati bukan hanya angka, tetapi juga rasa aman, kebersamaan, dan kepercayaan. Ketika warga saling percaya, biaya sosial menurun, konflik bisa diminimalkan, dan kerja sama menjadi lebih mudah.
Peran generasi muda dalam menjaga napas gotong royong juga sangat penting. KDMP melibatkan pemuda desa dalam pengelolaan koperasi, mulai dari administrasi, pemasaran digital, hingga pengembangan produk. Anak muda membawa energi dan kreativitas, sementara nilai gotong royong memberi arah agar inovasi tetap berpijak pada kepentingan bersama, bukan hanya ambisi pribadi.
Selain itu, gotong royong dalam KDMP juga tampak dalam pengembangan produk lokal. Petani, pengrajin, dan pelaku UMKM saling mendukung. Produk satu anggota dipasarkan bersama produk anggota lain. Tidak ada persaingan tidak sehat, melainkan kolaborasi. Ketika satu produk laku, citra koperasi ikut naik, dan manfaatnya dirasakan bersama.
KDMP juga menjadi ruang belajar kolektif. Anggota yang lebih berpengalaman berbagi pengetahuan dengan yang lain. Ada pelatihan, diskusi, dan pendampingan usaha. Proses belajar ini bukan dari atas ke bawah, tetapi horizontal, sesama warga. Inilah gotong royong dalam bentuk transfer pengetahuan yang memperkuat kapasitas desa secara keseluruhan.
Dalam konteks sosial, koperasi juga membantu menjaga harmoni. Ketika ekonomi warga membaik dan hubungan sosial terjalin kuat, potensi konflik berkurang. Warga tidak mudah iri atau saling menjatuhkan, karena mereka merasa berada dalam satu perahu yang sama. KDMP menjadi perekat sosial yang menyatukan kepentingan individu ke dalam tujuan kolektif.
Tentu, menjaga semangat gotong royong bukan hal mudah. Ada tantangan ego, perbedaan kepentingan, dan godaan keuntungan pribadi. Karena itu, KDMP menekankan pentingnya transparansi dan musyawarah. Setiap kebijakan dibahas terbuka, setiap laporan keuangan disampaikan kepada anggota. Dengan keterbukaan, kepercayaan tetap terjaga, dan gotong royong tidak berubah menjadi sekadar slogan.
Dukungan pemerintah desa dan tokoh masyarakat juga penting dalam merawat nilai ini. Keteladanan pengurus, pendampingan, serta ruang partisipasi yang luas membuat warga merasa dihargai. Koperasi tidak berjalan sebagai lembaga kaku, tetapi sebagai gerakan sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Ke depan, KDMP diharapkan menjadi model koperasi yang tidak hanya kuat secara bisnis, tetapi juga kokoh secara sosial. Gotong royong menjadi modal sosial yang tidak ternilai. Dengan modal ini, desa mampu menghadapi perubahan ekonomi tanpa kehilangan jati diri.
Pada akhirnya, Koperasi Desa Merah Putih mengingatkan kita bahwa pembangunan desa bukan hanya soal infrastruktur dan modal, tetapi juga soal nilai. Nilai kebersamaan, kepercayaan, dan solidaritas. Gotong royong adalah napas utama koperasi. Selama napas itu terjaga, desa akan terus hidup, tumbuh, dan bergerak menuju kesejahteraan bersama.
Dari KDMP, kita belajar bahwa ekonomi yang sehat lahir dari hubungan sosial yang kuat. Ketika warga berjalan bersama, saling menopang, dan berbagi manfaat, maka desa tidak hanya maju secara materi, tetapi juga harmonis secara kemanusiaan. Inilah wajah Desa Merah Putih yang berdaulat: kuat ekonominya, hangat solidaritasnya, dan kokoh gotong royongnya.
Penulis: Akang Marta
.png)