Judul Website

SELAMAT HARI IBU KITA KARTINI, Semangat juang Kartini adalah inspirasi bagi wanita Indramayu untuk masa depan yang lebih baik

DI SINI AKAN DIBANGUN RUMAH SAKIT ISLAM

 Antara Realitas dan Imajinasi

Ditulis Akang Marta

Papan kayu itu sudah tiga kali berganti kulit. Pertama kali ia berdiri, warnanya hijau segar dengan tulisan putih kaku: "DI SINI AKAN DIBANGUN RUMAH SAKIT ISLAM". Saat itu, aku masih berseragam merah putih, sering melompat-lompat di atas gundukan tanah merahnya sambil membayangkan betapa megahnya bangunan itu nanti.
Ibu pernah bilang, "Nanti kalau kamu sakit, tidak perlu jauh-jauh ke kota. Cukup jalan kaki ke sana."
Waktu berlalu. Seragamku berubah menjadi biru, lalu abu-abu. Papan pertama sudah lama roboh, dimakan rayap dan hujan. Tulisan putihnya terkelupas, menyisakan kata "RUMAH... IS...". Tanah kosong itu sempat menjadi rimba kecil tempat anak-anak mencari belalang, lalu menjadi lapangan bola dadakan setiap sore.
Suatu pagi saat aku sudah kuliah, aku melihat papan baru. Kayunya lebih kokoh, tulisannya dicetak profesional di atas spanduk plastik. Kalimatnya masih sama, namun ada tambahan nama yayasan yang berbeda di bawahnya. Harapan warga kembali tumbuh. Pak RT sempat berujar di warung kopi, "Alhamdulillah, sudah ada investor baru."
Namun, tahun-tahun berikutnya hanyalah drama tentang rumput yang meninggi. Papan kedua itu memudar tersengat matahari hingga warnanya menjadi abu-abu pucat, lalu akhirnya sobek berkibar ditiup angin kencang seperti bendera kekalahan.
Pagi ini, aku pulang kampung untuk berlebaran. Aku sudah bekerja, rambutku sudah mulai menipis di bagian depan. Di tanah itu, aku melihat papan ketiga. Kali ini bahannya dari besi seng, anti-karat katanya. Tulisannya masih sama: "DI SINI AKAN DIBANGUN RUMAH SAKIT ISLAM".
Aku berdiri di pinggir jalan, memandangi papan itu. Seorang anak kecil berseragam SD lewat di depanku, berlari mengejar temannya. Ia berhenti sejenak, membaca papan itu, lalu bertanya pada ayahnya, "Yah, kapan rumah sakitnya jadi?"
Ayahnya hanya tersenyum tipis, merangkul bahu anaknya, dan menjawab, "Mungkin nanti, saat kamu sudah sebesar kakak itu."
Ia menunjuk ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum getir. Papan itu bukan lagi sekadar penanda pembangunan, melainkan sebuah prasasti penantian yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanah itu tetap sunyi, hanya suara jangkrik yang menyahut, seolah menertawakan janji yang lapuk sebelum sempat berdiri.


Belum ada Komentar untuk "DI SINI AKAN DIBANGUN RUMAH SAKIT ISLAM"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel