Judul Website

SELAMAT HARI RAYA IDUL FIRI 1447 HIJRIYAH | Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mapag Tamba Desa Pegagan Kecamatan Losarang, Tradisi leluhur yang dihidupkan kembali

Acara Adata Mapag Tamba Desa Pegagan 2026

Indramayutradisi.com | Indramayu – Di tengah modernisasi sektor pertanian, masyarakat Desa Pegagan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu tetap menjaga tradisi leluhur yang sarat makna spiritual. Salah satu tradisi yang masih lestari adalah Mapag Tamba, ritual adat yang menjadi bagian penting dalam kehidupan petani setempat.


Mapag Tamba, yang berarti “menjemput obat”, merupakan tradisi khas masyarakat Indramayu sebagai bentuk ikhtiar batin dalam melindungi tanaman padi dari hama dan penyakit. Ritual ini juga menjadi wujud rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus permohonan agar hasil panen melimpah dan terhindar dari bencana.


Di Desa Pegagan, prosesi Mapag Tamba dilakukan dengan melibatkan pamong desa atau utusan yang berjalan kaki mengelilingi batas desa dan area persawahan. Mereka membawa bumbung bambu yang berisi air suci yang telah didoakan oleh tokoh agama. Air tersebut kemudian dipercaya sebagai simbol perlindungan dan keberkahan bagi lahan pertanian warga.


Sepanjang perjalanan, doa-doa dipanjatkan dengan harapan seluruh wilayah persawahan mendapatkan perlindungan dari berbagai ancaman, seperti serangan hama, cuaca ekstrem, maupun gangguan lainnya yang dapat memengaruhi hasil panen.


Tradisi ini tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga memperkuat kebersamaan masyarakat. Keterlibatan pamong desa dan warga mencerminkan tingginya semangat gotong royong serta kepedulian terhadap sektor pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi desa.


Selain itu, Mapag Tamba juga telah diakui sebagai bagian dari kekayaan budaya daerah dan ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB). Hal ini menunjukkan pentingnya tradisi tersebut untuk terus dilestarikan sebagai identitas budaya masyarakat Indramayu.


Kepala Desa Pegagan, Sofyan, mengatakan bahwa tradisi Mapag Tamba masih rutin dilaksanakan oleh masyarakat sebagai bentuk kearifan lokal yang tidak boleh ditinggalkan.


“Ini bukan sekadar tradisi, tetapi juga bentuk doa dan harapan para petani agar tanaman mereka terhindar dari hama dan menghasilkan panen yang maksimal,” ujarnya.


Ia menambahkan, pelestarian tradisi ini juga menjadi sarana edukasi bagi generasi muda agar tetap mengenal dan menghargai budaya leluhur di tengah perkembangan zaman.


Dengan tetap dilaksanakannya Mapag Tamba, masyarakat Desa Pegagan menunjukkan komitmennya dalam menjaga keseimbangan antara usaha pertanian modern dan nilai-nilai spiritual. Tradisi ini menjadi simbol bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh kerja keras, tetapi juga oleh doa dan kebersamaan.


Melalui ritual ini, harapan akan panen yang melimpah dan kesejahteraan petani terus dipanjatkan, menjadikan Mapag Tamba sebagai warisan budaya yang hidup dan terus relevan di tengah kehidupan masyarakat Desa Pegagan, Kecamatan Losarang, Kabupaten Indramayu.

Belum ada Komentar untuk "Mapag Tamba Desa Pegagan Kecamatan Losarang, Tradisi leluhur yang dihidupkan kembali"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel