MENAKAR KE-NU-AN KITA
Oleh : Ma'mun, Sekretaris PCNU Indramayu
Nahdlatul Ulama (NU) bukan sekadar organisasi kemasyarakatan dengan struktur dari pusat hingga ranting. NU adalah identitas, cara pandang, sekaligus watak beragama yang melekat dalam kehidupan sehari-hari jutaan umat di Indonesia. Namun, di tengah pergeseran zaman, arus modernisasi, dan dinamika politik yang makin dinamis, pernahkah kita berhenti sejenak untuk bertanya: sejauh mana kadar "ke-NU-an" yang ada dalam diri kita?
Menakar ke-NU-an tentu tidak bisa hanya diukur dari dokumen administratif, kartu anggota, atau warisan keturunan. Ke-NU-an sejati diuji dari sejauh mana kita menghidupi prinsip-prinsip dasarnya dalam kehidupan bermasyarakat.
Membumikan Prinsip Tawasuth dan Tawazun
Nilai inti dari jam'iyyah ini adalah tawasuth (moderasi) dan tawazun (keseimbangan). Dalam praktiknya, menjadi NU berarti mampu berdiri tegak di tengah, tidak mudah terseret ke ekstrem kiri maupun ekstrem kanan. Menakar ke-NU-an kita hari ini berarti melihat bagaimana kita merespons perbedaan pandangan. Apakah kita masih mengedepankan dialog dan kesantunan, atau justru terjebak dalam arus penghakiman sesama?
Amaliah dan Komitmen Keagamaan
Secara amaliah, ritual seperti tahlilan, maulidan, istighotsah, hingga ziarah kubur memang menjadi pilar identitas tradisi Nahdliyin. Namun, ke-NU-an tidak berhenti pada ritual formal belaka. Tradisi tersebut sejatinya adalah sarana merekatkan silaturahmi, merawat kebersamaan, dan memperkuat kepedulian sosial. Jika ritual tersebut hanya menjadi rutinitas tanpa melahirkan empati kepada tetangga dan masyarakat sekitar, maka pilar ke-NU-an kita masih sebatas di permukaan.
Merawat Jiwa Tasamuh di Era Digital
Di era informasi yang serba cepat, tasamuh (toleransi) menjadi ujian paling nyata. Ke-NU-an kita diuji di layar ponsel pintar masing-masing: apakah jempol kita mudah menyebarkan ketakutan, kebencian, dan ujaran kebencian, atau justru membawa pencerahan, ketenangan, dan kesejukan? Seorang Nahdliyin sejati dipanggil untuk menjaga kedamaian, baik di alam nyata maupun di ruang siber.
Menakar ke-NU-an pada akhirnya adalah proses refleksi yang terus menerus. Ini bukan tentang merasa lebih baik dari kelompok lain, melainkan usaha konsisten untuk merawat keimanan, melestarikan tradisi yang baik, serta menjaga keutuhan bangsa dengan sikap yang bijaksana.
Belum ada Komentar untuk "MENAKAR KE-NU-AN KITA"
Posting Komentar