Legenda : LARANGAN BERAMBUT PANJANG

Di desa Cikedung dulu ada sebuah pantangan untuk para pemudanya yaitu dilarang berambut panjang atau gondrong.

Cerita ini didapat langsung dari seorang tokoh Cikedung yang bernama Bapak Warsita, beliau adalah pensiunan guru, penyusun silsilah masyarakat desa Cikedung, dan penyusun sejarah desa Cikedung.


Dengan memiliki latar belakang sebagai seorang intelektual/pendidik dan juga mantan kepala desa, juga kerabat sepuh keluarga besar kami juga, maka bagi saya pribadi pantangan ini menjadi hal yang menarik adapun diyakini atau tidak kembali kepada diri kita masing-masing.

Lalu kenapa ada pantangan seperti itu ?

Sebagian besar cerita masa lalu Cikedung tidak lepas dari kisah perang Amis dijaman Walangsungsang atau Perang Ki Bagus Rangin, untuk mitos pantangan berambut panjang muncul dari sebagian Cerita Ki Bagus Rangin.

Menurut Bapak Warsita (alm), ketika pasukan Ki Bagus Rangin melakukan penyerangan diwilayah Lohbener, dimana jalur komoditas padi, kopi, hasil pertanian lain atau hasil rampasan penjajah melalui tempat ini (disekitar desa Pamayahan sekarang) dan sebagai basecamp sebelum dikumpulkan di pelabuhan Dermayu, saat itu belum dibangun jembatan Bangkir.

Di sekitar Pamayahan terjadi kerusuhan antara pasukan Ki Bagus Rangin dan  penjajah sebagai sasaran utama, dalam Babad Dermayu II Bagus Rangin dan pasukannya disebut sebagai perampok.

Pihak penjajah merespon dengan segera mengirim pasukan kompeninya yang konon berpengalaman dalam perang Napoleon, resimen Boloduphak Mataram dan dibantu oleh pasukan Keadipatian Dalem Dermayu, dalam upaya penyerangan ini dari pihak pasukan Ki Bagus Rangin banyak yang gugur misalnya Ki Buyut Urang, ki Buyut Jago dan Ciliwidara yang konon bisa terbang kesana kemari.

Disamping itu ada juga yang tertangkap yakni tiga orang anggota pasukan, salah satunya dari Cikedung.

Kemudian mereka dibawa ke Batavia, di penjara dibawah tanah, diinterogasi, dipukuli bahkan ditembak pakai kanon namun tidak luka sedikitpun.

Ketika akan dikirim ke tanah andalas,  diselat sunda, tahanan dari Cikedung ini melompat ke laut namun tertangkap kembali karena prajurit Belanda menangkap rambutnya yang panjang, kemudian ketiga tawanan ini dibawa ke Cirebon untuk menerima hukuman disana.

Perlu diketahui akibat Perang Cirebon ini, pihak kolonial menderita banyak kerugian, menurut literatur dua jung (kapal laut) milik penjajah dibakar dan satu batalyon mengalami kehancuran.

Akibatnya perang ini juga pihak penjajah menuntut pihak Demayu untuk mengganti kerugian tersebut sebesar Rp 10.150,- kepada adipati Dermayu.

Banyak dikunjungi :

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel