Orang Nakal, Kekuasaan, dan Cara Kita Dianggap Bukan Orang
Orang Nakal, Kekuasaan, dan Cara Kita Dianggap Bukan Orang
Oleh: Akang Marta
Postingan dari orang nakal, oleh orang nakal, untuk orang nakal. Kalimat ini terdengar seperti guyonan, tetapi sesungguhnya memuat kritik yang pahit sekaligus jujur tentang bagaimana kekuasaan bekerja, bagaimana manusia diklasifikasikan, dan bagaimana sebagian masyarakat perlahan-lahan didorong untuk menerima peran sebagai “bukan orang”. Dalam dunia semacam ini, pengorbanan dimasyarakatkan, sementara masyarakat justru dikorbankan. Semua dibungkus dalam bahasa akrab, canda, dan istilah sehari-hari agar terasa wajar.
Di ruang sosial kita, istilah “orang” bukan sekadar menunjuk pada manusia secara biologis. “Orang” adalah status. Ia adalah pengakuan. Ia adalah akses. Ketika seseorang dianggap “bukan orang”, maka ia bukan hanya kehilangan hak bicara, tetapi juga kehilangan legitimasi untuk bermimpi. Ia boleh hidup, tapi tidak boleh berharap. Ia boleh bekerja, tapi tidak boleh menuntut. Ia boleh menderita, tapi tidak boleh protes. Dan yang lebih menyakitkan, semua itu sering dianggap normal.
Dalam logika ini, “orang nakal” justru sering menjadi figur yang ambigu. Nakal bukan selalu soal melanggar hukum, melainkan soal cara bertahan hidup di tengah struktur yang tidak adil. Orang-orang yang dianggap nakal, kasar, nyeleneh, atau tidak tahu aturan sering kali adalah mereka yang paling lama hidup dalam keterbatasan. Mereka belajar dari pengalaman bahwa kejujuran saja tidak cukup, kesabaran saja tidak mengenyangkan, dan kepatuhan saja tidak menjamin keselamatan.
Ada gagasan menarik dalam narasi ini: bahwa orang-orang yang dianggap bukan orang, bahkan orang-orangan yang nakal, sebenarnya bisa menjadi orang baik jika sering diajak duduk bareng. Dodok bareng. Ngobrol akrab sambil makan, minum, ngebul, dan menyedot kopi sampai habis. Gagasan ini sederhana, tapi subversif. Ia menantang jarak sosial yang sengaja diciptakan oleh sistem. Ia mengingatkan bahwa banyak konflik lahir bukan karena kebencian, melainkan karena keterpisahan.
Dalam kebersamaan yang cair, sekat status sering runtuh. Obrolan yang dimulai dari guyon bisa berujung pada pengakuan. Dari keluhan bisa lahir pemahaman. Dari piring yang dibagi bersama, tumbuh kesadaran bahwa hidup tidak seharusnya dimonopoli oleh segelintir orang. Tetapi justru karena itulah, kebersamaan semacam ini jarang difasilitasi. Sebab kekuasaan lebih nyaman bekerja dari jarak jauh.
Sindiran tentang “ngumpul mengkonon kuh berakhir di piring” adalah kritik halus terhadap budaya elitisme. Dalam banyak pertemuan resmi, wacana besar sering dibicarakan, tetapi hasilnya selalu jatuh ke piring yang sama. Yang kenyang tetap itu-itu saja. Yang lapar diminta bersabar lagi. Solidaritas hanya menjadi jargon, bukan praktik.
Gagasan tentang sawah susun juga menarik. Ia lahir dari ironi. Kalau rumah bisa disusun ke atas, mengapa sawah tidak? Sindiran ini sebenarnya menunjuk pada absurditas pembangunan yang sering lebih mementingkan simbol modernitas daripada kebutuhan dasar. Tanah pertanian terus menyempit, sementara solusi yang ditawarkan sering tidak berpihak pada petani kecil. Sawah susun bukan solusi teknis, tetapi metafora tentang bagaimana akal sehat sering dikalahkan oleh kepentingan.
Rujukan pada ranjang tidur santri di pesantren senior juga sarat makna. Di sana, keterbatasan ruang tidak melahirkan pengucilan, melainkan kebersamaan. Tidur berdesakan bukan karena miskin nilai, tetapi karena kaya solidaritas. Ironisnya, dalam masyarakat luas, keterbatasan justru sering dijadikan alasan untuk menyingkirkan mereka yang lemah.
Narasi ini juga membedakan dua tipe “orang nakal”. Ada yang memanfaatkan kekuasaan, ada pula yang memanfaatkan sampah untuk konten. Perbandingan ini bukan untuk menghakimi individu, melainkan untuk menunjukkan skala dampak. Nakal yang pertama merugikan banyak orang secara struktural. Nakal yang kedua mungkin hanya mengganggu selera atau memancing debat. Tetapi dalam wacana publik, sering kali yang disorot justru yang kedua, sementara yang pertama dilindungi oleh sistem.
Kalimat “uang tidak berbicara tetapi berbicara banyak soal” adalah ironi yang telak. Uang memang tidak bersuara, tetapi ia menentukan siapa yang didengar. Ia menentukan siapa yang disebut orang dan siapa yang dianggap bukan siapa-siapa. Pertanyaan “sirae wonge sapa?” bukan sekadar basa-basi. Ia adalah mekanisme seleksi sosial. Jika jawabannya salah, maka pintu akan tertutup rapat.
Ketika seseorang berkata, “jare dudu wonge,” ia sedang menegaskan hierarki yang tidak tertulis. Ada yang pantas mendapat fasilitas, ada yang pantas menderita. Ada yang wajar hidup nyaman, ada yang wajar hidup susah. Dalam logika ini, sedikit nakal menjadi wajar bagi mereka yang hidupnya selalu ditekan. Nakal setitik dianggap bentuk perlawanan kecil terhadap sistem yang tidak pernah adil.
Namun, tulisan ini tidak sedang meromantisasi kenakalan. Ia justru mengajak kita memahami konteksnya. Mengapa orang menjadi nakal? Mengapa sebagian memilih jalan licik, keras, atau sinis? Jawabannya sering kali bukan karena moral yang rusak, melainkan karena harapan yang terlalu sering dikhianati. Ketika akses tertutup, orang mencari celah. Ketika suara diabaikan, orang berteriak dengan caranya sendiri.
Yang paling menyakitkan adalah ketika masyarakat mulai menerima keadaan ini sebagai kodrat. Ketika penderitaan dianggap takdir, dan ketimpangan dianggap lumrah. Di titik itulah, pengorbanan benar-benar dimasyarakatkan, dan masyarakat benar-benar dikorbankan. Mereka diminta mengerti, bersabar, dan mengalah, sementara keuntungan terus mengalir ke arah yang sama.
Tulisan ini, dengan gaya nakal dan bahasa sehari-hari, sejatinya sedang mengajukan pertanyaan serius: sampai kapan kita membiarkan status “orang” ditentukan oleh kedekatan dengan kekuasaan? Sampai kapan kita menerima bahwa sebagian manusia layak diabaikan? Dan sampai kapan kenakalan struktural dibiarkan, sementara kenakalan kecil dipermasalahkan?
Mungkin jawabannya tidak datang dari kebijakan besar atau pidato panjang. Mungkin ia justru dimulai dari hal-hal sederhana: duduk bareng, makan bareng, dan mengakui satu sama lain sebagai manusia. Bukan orang dan bukan orang. Tetapi sesama orang, dengan hak yang sama untuk hidup bermartabat.
