Di Antara Model dan Makna: Belajar Rendah Hati dalam Berpengetahuan
Di Antara Model dan Makna: Belajar Rendah Hati dalam Berpengetahuan
Kalimat bernada sinis tentang psikologi, fisika, primbon, dan dukun kerap dilontarkan dengan rasa percaya diri yang tinggi. Ia seolah mewakili kemenangan nalar modern atas cara-cara lama memahami dunia. Di balik kalimat itu tersembunyi asumsi kuat bahwa sains adalah puncak pengetahuan manusia, sementara yang tidak sejalan dengannya dianggap sebagai sisa masa lalu yang seharusnya ditinggalkan. Rasionalitas diperlakukan sebagai identitas moral, bukan sekadar metode berpikir. Namun, sikap semacam ini justru menunjukkan persoalan mendasar dalam memahami apa itu sains dan apa itu kebenaran.
Sains sering diposisikan sebagai pencari kebenaran mutlak, padahal secara epistemologis ia bekerja dengan cara yang jauh lebih sederhana dan sekaligus lebih jujur. Sains tidak pernah mengklaim dirinya sebagai pemilik realitas sebagaimana adanya. Yang dilakukan sains adalah membangun model: representasi simbolik tentang bagaimana suatu fenomena diperkirakan bekerja. Model ini diuji, digunakan, diperbaiki, lalu diganti jika tidak lagi memadai. Dengan demikian, sains bergerak bukan menuju kepastian final, melainkan menuju kegunaan yang semakin baik.
Model sains bersifat fungsional. Ia dinilai dari sejauh mana mampu menjelaskan, memprediksi, dan diterapkan. Sebuah model dianggap berhasil bukan karena ia “benar” dalam arti ontologis, melainkan karena ia bekerja dalam konteks tertentu. Di sinilah letak kesalahpahaman yang sering muncul dalam perdebatan publik: kegunaan disamakan dengan kebenaran, dan keberhasilan praktis dipersepsikan sebagai legitimasi absolut. Padahal, sesuatu bisa sangat berguna tanpa harus sepenuhnya mencerminkan hakikat realitas.
Perbedaan antara truth dan right menjadi krusial dalam memahami hal ini. Truth menunjuk pada kebenaran dalam pengertian terdalam, sesuatu yang mungkin selalu melampaui kemampuan konseptual manusia. Sementara right lebih dekat pada kebenaran sistemik: benar menurut aturan, asumsi, dan kerangka tertentu. Sains beroperasi terutama di wilayah kedua. Ia menyusun kebenaran yang konsisten di dalam sistemnya sendiri, bukan klaim tentang keseluruhan kenyataan yang bersifat final.
Ketika perbedaan ini diabaikan, sains mudah berubah menjadi ideologi. Ia tidak lagi dipahami sebagai metode yang terbuka, tetapi sebagai otoritas yang menutup kemungkinan lain. Pada titik ini, rasionalitas justru kehilangan sifat reflektifnya. Segala sesuatu yang tidak dapat dimodelkan secara ilmiah langsung dicap sebagai irasional, tanpa upaya memahami logika internal yang bekerja di dalamnya. Sikap ini bukan tanda kedewasaan intelektual, melainkan bentuk kemalasan berpikir yang dibungkus jargon modern.
Kepercayaan pada primbon, pawang hujan, atau praktik simbolik lain sering dipahami secara keliru sebagai klaim kausalitas ilmiah. Padahal, dalam banyak kasus, sistem pengetahuan semacam ini tidak beroperasi pada wilayah sebab-akibat mekanis. Ia lebih dekat pada upaya membaca makna, menjaga harmoni, dan mengelola ketenangan batin. Simbol, ritual, dan intuisi bekerja sebagai bahasa psikologis dan kultural yang membantu manusia menavigasi ketidakpastian hidup.
Dalam kerangka ini, menyebut praktik tersebut sebagai kebodohan berarti menilai satu sistem dengan kriteria sistem lain. Ini serupa dengan mengkritik puisi karena tidak bisa dijadikan rumus matematika. Setiap sistem pengetahuan memiliki tujuan, metode, dan ukuran keberhasilannya sendiri. Ketika semua dipaksa tunduk pada satu standar, yang terjadi bukan pencerahan, melainkan penyempitan cara pandang.
Pluralitas epistemik bukan ancaman bagi sains, justru sebaliknya. Kesadaran bahwa ada banyak cara memahami realitas membantu sains tetap rendah hati. Ia diingatkan bahwa wilayah kerjanya terbatas, dan bahwa ada dimensi pengalaman manusia yang tidak sepenuhnya dapat direduksi menjadi data. Kesadaran ini juga mencegah sains dijadikan alat superioritas kultural yang meminggirkan cara hidup lain.
Di sisi lain, tradisi simbolik dan spiritual juga diuntungkan ketika tidak memaksakan diri menjadi sains. Ia tidak perlu mencari legitimasi dengan bahasa laboratorium, karena kekuatannya justru terletak pada makna dan pengalaman subjektif. Ketika masing-masing sistem berdiri dengan kesadaran akan batasnya, dialog menjadi mungkin tanpa rasa saling mengancam.
Masalah utama dalam perdebatan antara rasionalitas dan mistik bukan terletak pada perbedaan keduanya, melainkan pada hasrat manusia untuk memiliki kepastian tunggal. Ketidakpastian sering dirasakan sebagai kelemahan, padahal justru di sanalah ruang pertumbuhan pengetahuan terbuka. Menerima bahwa tidak semua hal bisa dijelaskan dengan satu cara adalah langkah awal menuju kematangan intelektual.
Kedewasaan berpengetahuan ditandai oleh kemampuan menempatkan sesuatu pada porsinya. Sains digunakan untuk membangun teknologi, memahami gejala alam, dan menyusun kebijakan berbasis prediksi. Sementara sistem simbolik digunakan untuk menjaga makna, identitas, dan keseimbangan batin. Keduanya tidak saling meniadakan, tetapi saling melengkapi dalam pengalaman manusia yang utuh.
Ketika seseorang menertawakan kepercayaan orang lain dengan mengatasnamakan sains, sering kali yang sedang dipertahankan bukan kebenaran, melainkan identitas diri sebagai manusia modern. Sikap ini menjadikan sains bukan lagi alat berpikir, tetapi simbol status. Padahal, esensi sains justru terletak pada keraguan metodologis, bukan pada keyakinan dogmatis.
Dengan memahami sains sebagai pembuat model, bukan pemilik realitas, kita belajar bersikap lebih jujur dan rendah hati. Kita tidak lagi tergesa menilai, tetapi mencoba memahami konteks. Dunia pengetahuan manusia ternyata jauh lebih luas daripada sekadar pertarungan antara rasional dan irasional. Ia adalah lanskap kompleks tempat model, makna, dan pengalaman saling berkelindan.
Pada akhirnya, menghargai pluralitas epistemik bukan berarti menolak rasionalitas, melainkan mengembalikannya ke posisi yang sehat. Rasionalitas menjadi alat, bukan hakim terakhir. Dengan cara ini, pengetahuan tidak berubah menjadi arena saling merendahkan, tetapi menjadi ruang belajar bersama, tempat manusia dapat tumbuh tanpa harus meniadakan yang lain.
Kontributor
Akang Marta
