Ads

Riuh Dukungan, Sunyi Tanggung Jawab

 Riuh Dukungan, Sunyi Tanggung Jawab

Oleh: Akang Marta



Ada satu hal yang selalu menarik dari ruang percakapan publik: ia tidak pernah benar-benar sunyi. Di sana, suara keluhan berdampingan dengan pujian, kritik berbaris sejajar dengan doa, dan harapan bertemu dengan kekecewaan. Semua bercampur dalam satu arus yang kadang tampak gaduh, kadang terasa jujur, kadang juga melelahkan. Dari percakapan itulah tergambar wajah sebuah amanah yang tidak ringan, amanah yang disaksikan banyak mata dan diukur oleh banyak lidah.

Keluhan tentang jalan yang cepat rusak, anggaran yang terasa cepat habis, hingga pendidikan yang terasa makin sempit ruang geraknya bukanlah cerita baru. Ia adalah potret kegelisahan yang berulang, disampaikan dengan bahasa yang kadang lugas, kadang bercanda, kadang pula getir. Ada yang melaporkan dengan nada formal, ada yang menyelipkan tawa, seolah ingin berkata bahwa persoalan ini terlalu sering muncul hingga lelah untuk ditangisi. Namun di balik gaya penyampaian itu, tersimpan satu pesan yang sama: ada harapan agar sesuatu dibenahi.

Di sisi lain, muncul suara yang lebih santai, seakan berkata bahwa semua itu sebenarnya sudah terlihat jelas tanpa perlu dilaporkan. Ungkapan bercanda, tawa kecil, dan emoji menjadi penanda bahwa masyarakat sering kali berada di posisi serba tahu namun serba tak berdaya. Mereka melihat, merasakan, dan menilai, tetapi tidak selalu punya ruang untuk memperbaiki secara langsung. Maka laporan, komentar, dan unggahan menjadi cara paling dekat untuk ikut terlibat.

Percakapan itu lalu berkembang. Dari sekadar laporan kondisi, beralih menjadi pengingat tentang peran, tentang tim, tentang siapa melakukan apa. Ada keyakinan bahwa informasi harus bergerak cepat agar perubahan tidak tertunda. Ada pula rasa terima kasih karena suara yang terwakili, karena tidak semua orang berani atau mampu menyampaikan sendiri. Di titik ini, media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan ruang legitimasi: siapa yang bersuara dianggap peduli, siapa yang diam kerap dicurigai abai.

Dukungan pun mengalir deras. Doa, harapan, dan pujian disampaikan dengan bahasa yang beragam, dari yang singkat hingga panjang dan penuh kisah. Ada yang mengenang dedikasi masa lalu, menegaskan bahwa perjuangan bukanlah hal baru bagi sosok yang diberi amanah. Ada pula yang menilai bahwa niat sudah berada di tingkat yang lebih tinggi, bukan lagi soal keuntungan pribadi, melainkan soal pengabdian. Kata-kata seperti “amanah”, “ikhlas”, dan “barokah” berulang kali muncul, seolah menjadi pagar moral yang diharapkan mampu menjaga langkah.

Namun dukungan yang ramai tidak menghapus kritik. Di sela-sela pujian, terselip pertanyaan-pertanyaan tajam. Tentang struktur, tentang program, tentang target, tentang transparansi. Ada yang mempertanyakan mengapa sebuah tim tidak ditempatkan dalam kerangka anggaran yang jelas. Ada yang meminta penjelasan terbuka agar publik tidak hanya menjadi penonton. Kritik ini tidak selalu dibungkus dengan bahasa halus, tetapi justru di situlah letak kejujurannya. Masyarakat tidak hanya ingin diyakinkan, mereka ingin dilibatkan.

Permintaan konkret juga muncul. Ada yang berharap sektor tertentu diperhatikan lebih serius. Ada yang menyuarakan kegelisahan soal sampah yang kian tak terkendali. Ada pula yang mengajukan aspirasi agar potensi wisata dikelola lebih adil dan memberi ruang bagi generasi muda. Permintaan ini sering kali disampaikan dengan nada memohon, seakan sadar bahwa tidak semua keinginan bisa dipenuhi, tetapi berharap setidaknya didengar.

Menariknya, di tengah harapan besar itu, muncul pula suara peringatan. Jangan sampai peran diambil alih pihak yang tidak tepat. Jangan salah memilih tim. Jangan tergoda istilah besar tanpa kerja nyata. Peringatan ini menunjukkan kedewasaan publik: dukungan tidak berarti cek kosong, doa tidak menghapus kewajiban untuk mengawasi. Justru karena ada harapan, maka kewaspadaan harus dijaga.

Percakapan ini juga menyingkap paradoks klasik: masyarakat ingin perubahan cepat, tetapi perubahan itu sendiri terikat pada proses panjang. Di satu sisi, ada desakan agar pembangunan merata dan segera terasa. Di sisi lain, ada kesadaran bahwa tidak semua bisa diselesaikan seketika. Ketegangan antara harapan dan realitas inilah yang kerap memicu kekecewaan, sekaligus menjadi ujian terbesar bagi siapa pun yang memikul amanah.

Di antara riuh itu, terselip suara-suara kecil yang sederhana namun kuat: harapan agar semua sehat, agar tugas dijalankan dengan lancar, agar niat baik dimudahkan. Kalimat-kalimat ini mungkin terdengar klise, tetapi justru di situlah kekuatannya. Ia menunjukkan bahwa di balik kritik keras dan tuntutan rasional, masih ada dimensi spiritual yang dijadikan sandaran. Masyarakat tidak hanya menilai dengan logika, tetapi juga dengan doa.

Ada pula komentar yang bernada getir, mengingatkan bahwa sebagian pihak menikmati hasil, sementara kerusakan ditanggung bersama. Kritik semacam ini membuka luka lama tentang ketimpangan tanggung jawab. Ia mengajak merenung bahwa pembangunan bukan hanya soal membangun, tetapi juga soal menjaga. Bukan hanya soal mengambil manfaat, tetapi juga soal memperbaiki dampak.

Keseluruhan percakapan ini menggambarkan satu hal penting: amanah publik bukan hanya soal kebijakan, melainkan soal relasi. Relasi antara pemegang peran dengan masyarakat yang mengamati, mendukung, mengkritik, dan berharap. Relasi ini tidak selalu harmonis, tetapi justru dari ketegangan itulah lahir dinamika yang sehat, asalkan kedua belah pihak mau saling mendengar.

Di tengah banjir komentar, pujian, kritik, dan doa, satu pertanyaan besar menggantung: sejauh mana semua suara ini akan diterjemahkan menjadi tindakan nyata? Apakah ia akan berhenti sebagai riuh di layar, atau menjelma menjadi langkah-langkah kecil yang konsisten? Jawaban atas pertanyaan itu tidak bisa lahir dari kata-kata semata, melainkan dari kesungguhan menjalani amanah hari demi hari.

Pada akhirnya, riuh dukungan akan selalu ada, begitu pula sunyi tanggung jawab yang harus ditanggung sendirian. Tepuk tangan bisa ramai, komentar bisa ribuan, tetapi keputusan dan konsekuensinya tetap harus dipikul oleh segelintir orang. Di situlah ujian sesungguhnya: menjaga niat tetap lurus ketika dipuji, tetap teguh ketika dikritik, dan tetap rendah hati ketika dipercaya.

Masyarakat telah berbicara dengan caranya masing-masing. Ada yang lantang, ada yang lembut, ada yang bercanda, ada yang serius. Semua itu adalah cermin. Tinggal bagaimana cermin itu digunakan: apakah untuk sekadar melihat bayangan, atau untuk memperbaiki diri sebelum melangkah lebih jauh. Karena pada akhirnya, amanah tidak diukur dari seberapa ramai dukungan, melainkan dari seberapa nyata perubahan yang dirasakan bersama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel