Yen Wis Melatar Kudu Eling: Tarling sebagai Jejak Nada, Sejarah, dan Kesadaran Asal-Usul di Indramayu
Yen Wis Melatar Kudu Eling: Tarling sebagai Jejak Nada, Sejarah, dan Kesadaran Asal-Usul di Indramayu
Oleh: Akang Marta
Nada yang Lahir dari Pesisir
Di sepanjang pesisir Pantura, ada satu kesenian yang tumbuh bukan hanya sebagai hiburan, tetapi juga sebagai penanda identitas budaya masyarakatnya. Kesenian itu dikenal dengan nama Tarling. Ia lahir dari perjumpaan sederhana antara gitar dan seruling, namun berkembang menjadi ekspresi sosial, kultural, bahkan filosofis. Di balik denting dawai dan desah sulingnya, tarling menyimpan cerita panjang tentang asal-usul, perjalanan zaman, dan pesan hidup yang terus relevan: yen wis melatar kudu eling—jika telah jauh melangkah, jangan lupa dari mana berasal.
Tarling dan Pertanyaan tentang Asal-Usul
Hingga hari ini, asal-usul tarling masih menjadi perbincangan yang menarik. Ada yang menyebut Indramayu sebagai tanah kelahirannya, sementara sebagian lain meyakini Cirebon sebagai tempat awal berkembangnya seni ini. Perbedaan pendapat tersebut justru menunjukkan betapa tarling tumbuh secara organik di wilayah Pantura, mengikuti arus pergaulan masyarakat pesisir yang dinamis dan terbuka.
Di tengah beragam versi cerita, satu nama kerap muncul dalam ingatan kolektif: Mang Sakim. Sosok ini sering disebut sebagai figur penting dalam proses awal kelahiran tarling, terutama di wilayah Indramayu.
Eksperimen Nada di Tangan Mang Sakim
Sekitar tahun 1920–1930-an, Mang Sakim, warga Desa Kepandean, dikenal sebagai pribadi yang gemar bereksperimen dengan bunyi. Kisah yang beredar menyebutkan bahwa semuanya bermula dari sebuah gitar milik orang Belanda yang rusak dan tak kunjung diambil kembali. Dari benda itulah, sebuah perjalanan seni dimulai.
Mang Sakim mencoba menyelaraskan petikan gitar dengan sistem nada gamelan yang akrab di telinganya. Ia tidak sekadar memainkan gitar sebagaimana mestinya, melainkan mengolahnya agar mendekati nuansa pentatonis gamelan. Percobaan ini menjadi jembatan antara musik tradisional dan instrumen Barat, sebuah langkah yang pada masanya terbilang berani dan inovatif.
Peran Generasi Penerus dalam Pembentukan Tarling
Eksperimen Mang Sakim tidak berhenti pada dirinya sendiri. Putranya, Mang Sugra, melanjutkan proses kreatif tersebut dengan pendekatan yang lebih sistematis. Ia memindahkan nada-nada gamelan ke dalam sistem dawai gitar diatonis, menciptakan karakter bunyi yang khas dan mudah diterima oleh masyarakat.
Permainan Mang Sugra mulai menarik perhatian warga sekitar. Denting gitar yang terasa “dekat” dengan rasa lokal, ditambah iringan seruling bambu, menciptakan warna musik baru. Dari sinilah istilah tarling gabungan kata gitar dan suling perlahan dikenal dan digunakan untuk menyebut kesenian ini.
Tarling Menyapa Masyarakat Luas
Memasuki tahun 1940-an, tarling mulai dikenal lebih luas di Indramayu. Musik ini tidak lagi terbatas pada ruang-ruang kecil atau eksperimen pribadi, melainkan hadir dalam berbagai hajatan, pertemuan warga, dan acara sosial. Tarling menjadi media hiburan yang merakyat, mudah dimainkan, dan dekat dengan kehidupan sehari-hari masyarakat Pantura.
Keunggulan tarling terletak pada kesederhanaannya. Dengan gitar, suling, dan vokal yang bertutur menggunakan bahasa lokal, tarling mampu menyampaikan cerita, kritik sosial, hingga nasihat hidup dengan cara yang ringan namun mengena.
Perjalanan Menuju Cirebon dan Wilayah Lain
Pada tahun 1950-an, tarling mulai menyeberang wilayah. Salah satu tokoh yang dikenal berjasa dalam penyebaran tarling adalah Jayana dari Kecamatan Karangampel. Kepiawaiannya memainkan tarling membawanya berkeliling ke berbagai daerah, termasuk Cirebon.
Sejak saat itu, tarling berkembang di dua wilayah utama: Indramayu dan Cirebon. Masing-masing daerah memberi sentuhan khas, baik dalam gaya bermain, tema lagu, maupun cara penyajiannya. Perbedaan ini bukan menjadi pemisah, melainkan kekayaan yang memperkaya khazanah tarling itu sendiri.
Masa Pertumbuhan dan Ragam Gaya
Tahun 1960–1970-an menjadi periode penting bagi tarling. Banyak seniman baru bermunculan, membawa semangat dan kreativitas masing-masing. Di Cirebon, tarling berkembang dengan ciri yang lebih variatif, sementara di Indramayu, tarling tetap kuat dengan nuansa tutur dan cerita keseharian masyarakat pesisir.
Pada masa ini, tarling tidak hanya dimainkan sebagai musik, tetapi juga dipadukan dengan drama. Cerita-cerita rakyat, kisah rumah tangga, hingga kritik sosial disajikan dalam bentuk pertunjukan yang utuh, menggabungkan musik, dialog, dan akting.
Transformasi di Tengah Perubahan Zaman
Memasuki era 1980-an, tarling kembali menggema kuat di Indramayu dengan munculnya generasi seniman muda. Namun, perubahan zaman membawa tantangan sekaligus peluang. Selera masyarakat bergeser, teknologi berkembang, dan bentuk hiburan semakin beragam.
Tarling pun bertransformasi. Dari tarling klasik yang sarat drama, muncul tarling yang berkolaborasi dengan irama dangdut, bahkan format organ tunggal. Meski ada yang memandang perubahan ini sebagai pergeseran nilai, banyak pula yang melihatnya sebagai upaya adaptasi agar tarling tetap hidup dan relevan.
Filosofi “Yen Wis Melatar Kudu Eling”
Di balik segala bentuk dan perubahannya, tarling menyimpan filosofi hidup yang kuat. Ungkapan yen wis melatar kudu eling menjadi pengingat bahwa sejauh apa pun seseorang melangkah, ia tidak boleh melupakan asal-usulnya.
Filosofi ini tercermin dalam lirik-lirik tarling yang kerap menyinggung kehidupan sederhana, perjuangan hidup, dan nilai-nilai kebersahajaan. Tarling mengajarkan bahwa kemajuan dan popularitas tidak seharusnya menghapus ingatan akan akar budaya dan jati diri.
Taman Tarling sebagai Simbol Penghargaan
Sebagai bentuk penghargaan terhadap kesenian ini, Kabupaten Indramayu membangun Taman Tarling di wilayah Kepandean. Kehadiran taman ini bukan sekadar monumen fisik, melainkan simbol pengakuan atas peran tarling dalam sejarah dan budaya daerah.
Taman Tarling sering dikaitkan dengan kisah awal lahirnya tarling, terutama peran Mang Sakim dan lingkungan Kepandean. Ia menjadi ruang ingatan kolektif, tempat masyarakat dapat mengenang, belajar, dan merayakan warisan seni yang telah menemani perjalanan hidup mereka selama puluhan tahun.
Tarling sebagai Identitas yang Terus Hidup
Hari ini, tarling tidak lagi sekadar milik masa lalu. Ia terus hidup dalam berbagai bentuk, dari panggung tradisional hingga rekaman digital. Tarling menjadi bukti bahwa seni lokal mampu bertahan jika dijaga, dirawat, dan diberi ruang untuk berkembang.
Lebih dari sekadar musik, tarling adalah cermin perjalanan masyarakat Pantura. Ia merekam perubahan zaman, pergulatan sosial, dan nilai-nilai hidup yang diwariskan lintas generasi. Dalam setiap petikan gitar dan tiupan suling, terselip pesan sederhana namun mendalam: jangan pernah lupa pada asal, sebab di sanalah identitas bermula dan makna kehidupan menemukan pijakannya.
