Judul Website

SELAMAT ATAS DILANTIKNYA PENGURUS ASOSIASI MEDIA KONVERGENSI INDONESIA (AMKI) KABUPATEN INDRAMAYU PERIODE 2026 - 2029

Dari Koneksi Internet ke Koneksi Hati: Menghidupkan Kembali Kehangatan Keluarga Sakinah



Penulis : Sahal Abdul Qohar


Di banyak rumah hari ini, koneksi internet sering kali lebih kuat daripada koneksi hati antar anggota keluarga. Suami pulang kerja lalu sibuk menggulir media sosial. Istri tenggelam dalam berbagai konten yang terus bermunculan. Anak-anak pun lebih akrab dengan gawai daripada percakapan hangat bersama orang tua. Rumah memang masih menjadi tempat tinggal bersama, tetapi kehangatan yang dahulu menjadi ruh keluarga perlahan mulai memudar.


Fenomena ini semakin terasa dalam kehidupan masyarakat modern. Teknologi hadir membawa banyak kemudahan. Informasi dapat diperoleh dengan cepat, komunikasi jarak jauh menjadi mudah, pekerjaan terbantu, bahkan berbagai kebutuhan rumah tangga dapat dipenuhi hanya melalui sentuhan jari. Namun di balik semua kemudahan itu, muncul tantangan baru yang sering tidak disadari, yaitu melemahnya kedekatan emosional dalam keluarga.


Di banyak keluarga, masalah rumah tangga tidak selalu bermula dari persoalan ekonomi, perselingkuhan, atau perbedaan prinsip yang besar. Kadang, konflik justru berawal dari hal sederhana: kurangnya perhatian, minimnya komunikasi, dan kebiasaan terlalu lama menatap layar. Pasangan merasa diabaikan, anak merasa tidak didengarkan, sementara setiap anggota keluarga sibuk dengan dunia digitalnya masing-masing.


Belakangan ini, berbagai media banyak membahas meningkatnya kecanduan digital, baik pada anak-anak maupun orang dewasa. Tidak sedikit pasangan mengeluhkan suasana rumah yang semakin sepi meskipun semua anggota keluarga berada di tempat yang sama. Mereka duduk berdekatan, tetapi pikiran dan perhatiannya berada di tempat lain. Mereka tinggal dalam satu rumah, tetapi hidup dalam dunia masing-masing.


Padahal dalam Islam, keluarga bukan sekadar tempat berkumpul secara fisik. Keluarga adalah ruang tumbuhnya ketenangan, cinta, kasih sayang, dan rasa saling memahami. Al-Qur’an menggambarkan tujuan pernikahan melalui nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah. Tiga kata ini sering diucapkan dalam doa pernikahan, tetapi tidak selalu mudah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.


Sakinah berarti ketenangan. Mawaddah berarti cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Sementara rahmah adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap peduli, memaafkan, dan bertahan meskipun keadaan tidak selalu menyenangkan. Ketiga nilai ini tidak akan tumbuh hanya karena pasangan hidup dalam satu rumah. Ia harus dirawat melalui komunikasi, perhatian, kesabaran, dan kehadiran yang utuh.


Pertanyaannya, bagaimana sakinah, mawaddah, dan rahmah dapat tumbuh jika anggota keluarga lebih sering berbicara dengan layar daripada berbicara satu sama lain? Bagaimana kasih sayang dapat dirasakan jika waktu bersama selalu dipotong oleh notifikasi, video pendek, dan kesibukan digital yang tidak pernah selesai?


Sebagai mahasiswa Hukum Keluarga, saya melihat persoalan ini bukan hanya masalah penggunaan teknologi, melainkan juga masalah relasi dalam rumah tangga. Keluarga yang sehat tidak cukup dibangun dengan pemenuhan hak dan kewajiban secara formal. Suami memang memiliki kewajiban menafkahi keluarga, istri memiliki peran penting dalam menjaga rumah tangga, dan orang tua berkewajiban mendidik anak. Namun, di balik semua itu, ada tanggung jawab moral untuk menghadirkan suasana yang menenangkan bagi seluruh anggota keluarga.


Banyak konflik rumah tangga berawal dari kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan dengan baik. Banyak anak merasa kesepian, bukan karena orang tuanya tidak berada di rumah, tetapi karena orang tuanya tidak benar-benar hadir secara emosional. Banyak pasangan kehilangan kedekatan bukan karena tidak saling mencintai, melainkan karena tidak lagi menyediakan waktu untuk saling mendengarkan.


Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali kehangatan keluarga sakinah. Membangun keluarga harmonis tidak selalu harus dimulai dari hal-hal besar. Kadang, ia cukup dimulai dari kebiasaan sederhana, seperti makan bersama tanpa ponsel, berbincang setelah salat Magrib, menanyakan kabar pasangan dengan tulus, atau mendengarkan cerita anak tanpa terburu-buru menghakimi.


Keluarga sakinah juga membutuhkan keberanian untuk mengatur batas penggunaan teknologi di rumah. Gawai tidak harus ditolak, tetapi harus ditempatkan secara proporsional. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu kehidupan, bukan pengganti kehadiran keluarga. Internet boleh menghubungkan kita dengan dunia luar, tetapi jangan sampai memutus hubungan batin dengan orang-orang terdekat.


Nilai-nilai pesantren sebenarnya sangat relevan untuk menjawab tantangan ini. Tradisi musyawarah, kebersamaan, penghormatan kepada orang lain, adab berbicara, serta budaya saling mendengar merupakan modal sosial yang penting dalam membangun keluarga yang sehat. Dalam tradisi pesantren, ilmu tidak hanya diajarkan melalui kata-kata, tetapi juga melalui keteladanan, kedisiplinan, dan kebersamaan. Nilai-nilai seperti ini perlu dihidupkan dalam keluarga modern agar rumah tidak kehilangan ruhnya.


Di era digital, keluarga Muslim perlu memiliki kesadaran baru bahwa kualitas hubungan tidak ditentukan oleh seberapa sering seseorang hadir secara fisik, tetapi seberapa sungguh-sungguh ia hadir dengan hati. Seorang ayah yang duduk bersama anaknya tetapi terus menatap ponsel belum tentu benar-benar hadir. Seorang ibu yang berada di rumah tetapi pikirannya terus tersedot oleh media sosial juga bisa kehilangan momen penting bersama keluarga. Begitu pula anak-anak yang terlalu akrab dengan layar dapat kehilangan kemampuan untuk berdialog, menghormati, dan merasakan kehangatan keluarga.


Kita tentu tidak bisa menolak perkembangan teknologi. Teknologi adalah bagian dari kehidupan modern yang membawa banyak manfaat. Namun, yang perlu dilakukan adalah mengelolanya dengan bijak. Jangan sampai rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman berubah menjadi ruang sunyi yang dihuni oleh orang-orang yang sibuk dengan layar masing-masing.


Jangan sampai kita memiliki koneksi internet yang kuat, tetapi kehilangan koneksi hati dengan keluarga sendiri. Jangan sampai kita mudah memberi komentar kepada orang jauh di media sosial, tetapi sulit menyapa pasangan dan anak di rumah. Jangan sampai kita mengetahui kabar banyak orang di dunia maya, tetapi tidak mengetahui kesedihan orang terdekat yang duduk di samping kita.


Keluarga sakinah tidak lahir dari rumah yang mewah atau kehidupan yang selalu sempurna. Ia tumbuh dari komunikasi yang hangat, perhatian yang tulus, kesediaan untuk mendengarkan, dan kemampuan untuk hadir sepenuhnya bagi orang-orang yang kita cintai. Keluarga sakinah adalah keluarga yang mampu menjadikan rumah sebagai tempat pulang, bukan sekadar tempat singgah.


Di tengah derasnya arus digitalisasi, sudah saatnya kita kembali bertanya: apakah teknologi yang kita gunakan hari ini benar-benar mendekatkan keluarga, atau justru perlahan menjauhkan mereka? Apakah layar yang setiap hari kita tatap membantu kita menjadi lebih peduli, atau justru membuat kita semakin abai terhadap orang-orang terdekat?


Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan wajah keluarga Indonesia di masa depan. Karena pada akhirnya, keluarga yang kuat bukan hanya keluarga yang mampu mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga keluarga yang mampu menjaga kehangatan, cinta, dan koneksi hati di tengah derasnya koneksi internet.


Profil Singkat Penulis: 
Sahal Abdul Qohar, Mahasiswa UIN Jakarta, Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum. Memiliki minat pada isu hukum keluarga, perlindungan anak, dan kajian sosial keagamaan. Aktif menulis artikel opini di media berbasis pesantren dan kepemudaan. No. HP: 081572244301.


Belum ada Komentar untuk "Dari Koneksi Internet ke Koneksi Hati: Menghidupkan Kembali Kehangatan Keluarga Sakinah"

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel