CINCIN KULIT BERLIAN NABI KHIDIR

Usai baca tulisan Gus Mus: “Amplop-amplop Abu-abu” dalam buku: LUKISAN KALIGRAFI (2009:21), saya langsung tancap gas ke TB Gramedia TP, Togamas Petra Pucang, Uranus Ngagel, dan TB Manyar untuk borong buku apa saja terkait Nabi Khidir. 


Dalam tulisan Gus Mus di atas, saya terperangah, khususnya di paragrap-paragrap akhir tulisan tersebut:

“Paaak!” Terdengar suara isteriku berteriak histeris.“Lihat kemari, Pak!” Aku terburu-buru menghambur menyusulnya ke kamar. Masya Allah. Kulihat lemari pakaian isteriku terbuka dan dari dalamnya berhamburan uang-uang baru seratus ribuan, seolah-olah isi lemari itu memang hanya uang saja. Isteriku terpaku dengan mata terbelalak seperti kena sihir, melihat lembaran-lembaran uang yang terus mengucur dari lemarinya.

Uang-uang yang tak terhingga dalam tulisan itu ternyata bersumber dari 6 amplop abu-abu pemberian orang misterius di beberapa pengajian Gus Mus dengan waktu dan tempat yang berbeda.

Orang misterius itu menulis di amplop yang ke enamnya, lengkap: Arafah, 9 Dzulhijjah 1418. Hamba Allah, Khidir.

Sebagai santri awam, sayapun kepingin mengalami keajaiban seperti Gus Mus. Maka beberapa buku hasil perburuan mendadak di toko-toko buku di atas saya lahap dalam waktu singkat, seperti: Misteri Nabi Khidir (Asqalani, 2015), Menyimak Kisah dan Hikmah Kehidupan Nabi Khidir (Rois, 2014), Nabi Khidir dan Keramat Para Wali (At-Tarmasi, 2016) dan lain-lain.

Kesimpulannya, kalau kepingin meraih keajaiban seperti yang dialami Gus Mus, rasanya “mission impossible”.

Meski demikian, saya tidak menyerah begitu saja. Saya tetap percaya dengan ungkapan para motivator terkenal, bahwa “nothing impossible”, tidak ada yang tidak mungkin.

Akhirnya, saya bertanya kepada guru spiritual saya, Almaghfurlah KH. Ahmad Thobib Alhafidz, teman bermain Gus Dur, yang juga santri langsung Hadratussyeikh Hasyim Asy’ari.

Abahyai (demikian saya biasa memanggilnya) bercerita bagaimana beliau sering ditemui Nabi Khidir, baik di Pesantrennya (Al Muhyiddin Gebang Kidul Surabaya) maupun saat beliau Umrah rutin Ramadhan, di Madinah, Makkah, kadang di Masjid Apung Jeddah.

Pada 2015 atau 3 tahun sebelum beliau wafat, Abahyai menghadiahkan cincin pemberian Nabi Khidir kepada saya. Cincin yang pas melingkar di jari manis tangan kanan saya itu berwarna hitam, dan terbuat dari kulit berlian.

Saya terharu sekali menerima hadiah itu. Saya langsung mencium tangannya sangat lama sekali sambil mbrebes mili, dan berkata: "maturnuwun Abahyai, maturnuwun Abahyai.. qabiltu, qabiltu.." dan seterusnya.

Seratus persen saya percaya bahwa Nabi Khidir masih hidup, dan bisa menjumpai siapapun yang diinginkannya. Salah satu Kyai sepuh Jawa Timur yang masih sering ditemui Nabi Khidir adalah KH. Chusaini Ilyas Mojokerto.

Beliau kisahkan beberapa kali perjumpaannya dengan Nabi Khidir dan viral di youtube.

Saya beruntung bisa beberapa kali berada di ruangan khusus bersama beliau, karena tawasulan dengan Mudir Al Ma’had Al Jami’ah Al Islamiyah Al Hukumiyyah Sunan Ampel Surabaya.

Wallahu a’lam.. 🙏🏻

Penulis  : Dr. H. Syarif Thayib, S.Ag. M.Si. 

(Dosen UINSA Surabaya, Alumni Ponpes Jagasatru Cirebon)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel