Ads

Air Mata di Balik Papan Tulis: Jeritan Keadilan Guru Honorer di Negeri Sendiri

Air Mata di Balik Papan Tulis: Jeritan Keadilan Guru Honorer di Negeri Sendiri

Oleh Akang Marta

sumber photo: fb @Sri Nursari

Di balik ruang kelas yang tampak tenang, tersimpan kisah perjuangan yang jarang terdengar. Setiap pagi, para guru honorer datang dengan senyum, menyapa murid, menulis di papan tulis, dan menanamkan harapan pada generasi masa depan. Namun, di balik ketulusan itu, banyak dari mereka menyimpan beban berat. Bukan hanya tentang tanggung jawab mendidik, tetapi juga tentang bagaimana bertahan hidup dengan penghasilan yang jauh dari layak.

Dalam sebuah suasana penuh haru, curahan hati para guru honorer terdengar lirih namun menyentuh. Ada yang menyampaikannya sambil menangis, menahan perasaan yang selama ini dipendam. Mereka mengaku bahwa gaji yang diterima sangat kecil, bahkan lebih rendah dibandingkan pekerjaan lain yang tidak bersentuhan langsung dengan misi mencerdaskan bangsa. Ironisnya, anggaran yang digunakan bersumber dari dana pendidikan, yang seharusnya berpihak pada mereka yang berada di garis depan proses belajar mengajar.

Bagi para honorer, mengajar bukan sekadar pekerjaan, melainkan pengabdian. Mereka menyiapkan materi, membimbing murid, menenangkan yang menangis, memotivasi yang hampir menyerah, dan menjadi teladan dalam sikap. Namun ketika pulang ke rumah, realitas ekonomi sering memukul keras. Gaji yang diterima tidak sebanding dengan tenaga, waktu, dan pikiran yang dicurahkan setiap hari di sekolah.

Banyak dari mereka harus mencari pekerjaan tambahan. Ada yang berjualan kecil-kecilan, menjadi ojek, buruh, atau mengerjakan apa saja demi mencukupi kebutuhan keluarga. Padahal, esok paginya mereka tetap harus berdiri di depan kelas dengan kondisi fisik dan mental yang seharusnya segar. Perjuangan ini membuat profesi guru honorer bukan hanya soal intelektual, tetapi juga soal ketahanan hidup.

Yang lebih menyakitkan adalah rasa ketidakadilan. Para honorer melihat bahwa anggaran pendidikan begitu besar, tetapi yang mereka terima justru paling kecil. Mereka sering bertanya dalam hati: mengapa orang yang langsung membentuk karakter dan masa depan anak bangsa justru berada di posisi paling rentan? Pertanyaan itu tidak lahir dari iri, tetapi dari kebutuhan dasar akan keadilan.

Tangisan yang pecah bukan sekadar keluhan ekonomi. Itu adalah akumulasi dari rasa lelah, kecewa, dan takut akan masa depan. Banyak guru honorer tidak memiliki kepastian karier. Status mereka bisa berakhir kapan saja, tergantung kebijakan. Tidak ada jaminan hari tua, tidak ada kepastian kenaikan kesejahteraan, dan sering kali tidak ada perlindungan ketika menghadapi persoalan di sekolah.

Dalam dunia pendidikan, guru honorer memegang peran strategis. Mereka mengisi kekosongan tenaga pendidik, terutama di daerah-daerah yang sulit dijangkau. Tanpa mereka, banyak sekolah tidak bisa berjalan normal. Namun ironisnya, posisi strategis ini tidak sejalan dengan penghargaan yang diterima. Mereka menjadi tulang punggung, tetapi tulang punggung yang rapuh karena tekanan ekonomi.

Kondisi ini juga berdampak pada kualitas pendidikan. Guru yang terus dibayangi masalah ekonomi tentu sulit berkonsentrasi penuh. Bukan karena tidak profesional, tetapi karena manusiawi. Pikiran mereka terbagi antara mendidik dan memikirkan bagaimana membayar kebutuhan rumah tangga. Pendidikan seharusnya ditopang oleh ketenangan, bukan kecemasan.

Lebih jauh, persoalan guru honorer bukan hanya masalah individu, tetapi masalah sistem. Ketika negara berbicara tentang generasi emas, maka yang harus diperkuat pertama kali adalah para pendidiknya. Tidak mungkin membangun masa depan dengan tenaga pendidik yang hidup dalam ketidakpastian. Kesejahteraan guru bukan hadiah, melainkan kebutuhan agar pendidikan berjalan sehat.

Harapan para honorer sebenarnya sederhana. Mereka tidak menuntut kemewahan, hanya kelayakan. Gaji yang manusiawi, kepastian status, serta perhatian nyata dari pembuat kebijakan. Mereka ingin merasa dihargai sebagai profesi, bukan sekadar pengisi kekosongan. Mereka ingin bekerja dengan bangga, bukan dengan rasa terpaksa.

Keadilan dalam pendidikan tidak hanya diukur dari fasilitas sekolah atau kurikulum modern, tetapi juga dari bagaimana negara memperlakukan gurunya. Jika guru honorer terus berada di posisi paling bawah, maka pesan yang tersampaikan kepada generasi muda adalah bahwa mengabdi di dunia pendidikan tidak menjanjikan masa depan. Ini berbahaya bagi keberlanjutan profesi guru itu sendiri.

Selain ekonomi, aspek psikologis juga perlu diperhatikan. Guru honorer sering merasa tidak aman. Mereka khawatir kontrak tidak diperpanjang, takut bersuara karena posisi lemah, dan terpaksa menerima kondisi apa adanya. Padahal, pendidikan membutuhkan guru yang berani, kreatif, dan sejahtera secara batin.

Tangisan para honorer sejatinya adalah alarm sosial. Ia mengingatkan bahwa ada yang keliru dalam prioritas. Dana pendidikan seharusnya lebih banyak menyentuh manusia, bukan hanya program. Guru bukan angka dalam laporan, melainkan individu yang memikul tanggung jawab besar terhadap masa depan bangsa.

Ketika seorang guru menangis karena gaji, sesungguhnya yang terluka bukan hanya dirinya, tetapi juga martabat pendidikan. Negara boleh memiliki visi besar, tetapi visi itu akan rapuh jika pondasinya—para pendidik—tidak diperkuat. Tanpa keadilan, pendidikan hanya menjadi slogan, bukan gerakan nyata.

Perubahan memang tidak mudah, tetapi harus dimulai. Kebijakan harus berpihak pada kesejahteraan guru honorer. Penataan sistem penggajian, pengangkatan yang transparan, serta pembinaan berkelanjutan menjadi kebutuhan mendesak. Jika tidak, air mata akan terus jatuh di ruang-ruang yang seharusnya dipenuhi senyum dan harapan.

Di tengah semua kesulitan, para honorer tetap bertahan. Mereka tetap mengajar, tetap membimbing, dan tetap berharap. Harapan itulah yang membuat mereka kuat, meski sering kali terabaikan. Mereka percaya bahwa suatu hari, pengabdian mereka akan dilihat bukan sebagai beban anggaran, tetapi sebagai investasi peradaban.

Pada akhirnya, keadilan bagi guru honorer bukan soal belas kasihan, tetapi soal tanggung jawab bersama. Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghormati pendidiknya. Jika air mata guru terus mengalir, maka ada yang salah dalam arah kita membangun masa depan.

Sudah saatnya suara hati para honorer tidak lagi hanya menjadi cerita sedih, tetapi menjadi pemantik perubahan. Agar ruang kelas tidak lagi menjadi tempat air mata tersembunyi, melainkan ruang di mana guru mengajar dengan tenang, sejahtera, dan penuh martabat demi generasi yang lebih baik.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel