Ads

Antara Bertahan dan Melepaskan: Seni Hidup dalam Kalimat Sederhana

Antara Bertahan dan Melepaskan: Seni Hidup dalam Kalimat Sederhana

Oleh Akang Marta



Ada kalimat sederhana yang sering terdengar di warung kopi, di sudut obrolan santai, atau di status media sosial tanpa banyak penjelasan: “Kuat ya dilakoni, ora kuat ya ditinggal ngopi.” Kalimat ini terdengar ringan, bahkan seperti candaan. Namun jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan kebijaksanaan hidup yang tidak kecil. Ia bukan ajakan untuk lari dari tanggung jawab, tetapi pengingat tentang batas manusia, tentang kesadaran diri, dan tentang seni memilih dalam menjalani hidup.

Hidup sering kali dipahami sebagai keharusan untuk terus bertahan. Sejak kecil, banyak dari kita diajarkan bahwa menyerah adalah kelemahan. Bahwa berhenti berarti kalah. Bahwa meninggalkan sesuatu sama artinya dengan tidak bertanggung jawab. Akibatnya, banyak orang bertahan terlalu lama dalam keadaan yang sebenarnya sudah melampaui batas kemampuan dirinya—entah itu pekerjaan, hubungan, ambisi, atau bahkan luka batin yang tak kunjung sembuh.

Di sinilah kalimat “kuat ya dilakoni” menemukan maknanya. Selama seseorang masih sanggup, selama masih ada daya, niat, dan harapan, maka menjalani adalah bentuk tanggung jawab. Bertahan bukan soal keras kepala, melainkan soal komitmen. Ada nilai kesetiaan, ketekunan, dan kejujuran pada proses. Tidak semua hal bisa diselesaikan dengan cepat. Tidak semua kesulitan harus segera ditinggalkan. Ada fase-fase dalam hidup yang memang harus dijalani dengan sabar, meskipun berat.

Namun hidup tidak hanya tentang bertahan. Ada kalanya seseorang harus jujur pada dirinya sendiri dan mengakui bahwa ia sudah tidak kuat. Di titik inilah bagian kedua dari kalimat itu berbicara: “ora kuat ya ditinggal ngopi.” Menariknya, ungkapan ini tidak menggunakan kata “kabur” atau “lari”, melainkan “ngopi”. Sebuah simbol jeda, refleksi, dan ketenangan.

Ngopi dalam konteks ini bukan sekadar minum kopi. Ia adalah metafora tentang berhenti sejenak, menarik napas, dan memberi ruang bagi diri sendiri. Kadang, yang dibutuhkan manusia bukan solusi instan, melainkan waktu untuk diam. Bukan nasihat panjang, tetapi kesempatan untuk mendengar suara hatinya sendiri. Ngopi adalah ruang aman untuk berpikir ulang tanpa tekanan.

Banyak orang terjebak dalam situasi yang merusak kesehatan mental dan emosionalnya karena takut dicap tidak kuat. Padahal, mengenali batas diri adalah bentuk kedewasaan. Tidak semua orang memiliki kapasitas yang sama. Tidak semua beban harus dipikul sendirian. Dan tidak semua perjuangan layak diteruskan jika hanya menyisakan luka tanpa makna.

Dalam dunia kerja, misalnya, ada orang yang bertahan di lingkungan yang toksik demi status atau gaji, meskipun setiap hari pulang dengan kelelahan batin. Ada pula yang tetap memaksakan diri mengejar target yang tidak lagi sejalan dengan nilai hidupnya. Dalam relasi, tak sedikit yang bertahan atas nama cinta, padahal yang tersisa hanya rasa sakit dan kehilangan diri sendiri. Di sinilah pertanyaan sederhana itu relevan: masih kuat atau tidak?

Keputusan untuk meninggalkan sesuatu bukan selalu tanda kegagalan. Kadang justru itu adalah bentuk keberanian. Keberanian untuk berkata jujur bahwa ada jalan lain yang lebih sehat. Bahwa hidup tidak harus selalu keras. Bahwa diri sendiri juga pantas diperjuangkan. Ditinggal ngopi bukan berarti menyerah pada hidup, melainkan menata ulang langkah.

Budaya kita sering memuliakan penderitaan sebagai bukti kesungguhan. Padahal, penderitaan yang tidak disadari hanya akan melahirkan kepahitan. Hidup seharusnya dijalani dengan kesadaran, bukan sekadar ketahanan. Ada perbedaan antara kuat dan memaksa. Orang yang kuat tahu kapan harus bertahan dan kapan harus berhenti.

Ungkapan ini juga mengajarkan tentang keseimbangan. Hidup bukan hitam-putih antara bertahan atau menyerah. Ada ruang abu-abu bernama jeda. Ada momen di mana seseorang tidak langsung meninggalkan, tetapi juga tidak memaksakan diri. Ia berhenti sejenak, menata ulang pikiran, lalu memutuskan dengan kepala dingin. Ngopi menjadi simbol dialog batin yang jujur.

Dalam konteks spiritual, kalimat ini juga sejalan dengan nilai keikhlasan. Ikhlas bukan berarti pasrah tanpa usaha, dan bukan pula memaksakan diri melampaui batas. Ikhlas adalah menerima bahwa manusia punya keterbatasan. Bahwa tidak semua rencana harus berhasil. Bahwa kegagalan dan perpisahan pun bisa menjadi jalan menuju pertumbuhan.

Menjalani sesuatu karena kuat adalah bentuk amanah. Meninggalkannya karena tidak kuat adalah bentuk kejujuran. Keduanya sama-sama bermartabat jika dilakukan dengan kesadaran dan niat yang lurus. Yang keliru adalah bertahan karena takut omongan orang, atau pergi karena emosi sesaat tanpa refleksi.

Di era media sosial, tekanan untuk terlihat kuat semakin besar. Banyak orang memamerkan ketahanan, kesuksesan, dan kebahagiaan seolah hidup selalu baik-baik saja. Padahal di balik layar, banyak yang lelah, kosong, dan bingung. Ungkapan sederhana ini seperti tamparan halus: tidak apa-apa jika tidak kuat. Tidak semua hal harus dipamerkan sebagai kemenangan.

Ngopi, dalam makna simboliknya, adalah ruang manusiawi. Di sana ada obrolan jujur, tawa ringan, dan keheningan yang menenangkan. Di sanalah seseorang bisa kembali menjadi dirinya sendiri, tanpa topeng, tanpa tuntutan. Dari secangkir kopi, sering kali lahir keputusan besar: bertahan dengan cara baru, atau pergi dengan hati yang lebih lapang.

Pada akhirnya, hidup adalah tentang memilih. Memilih bertahan ketika masih ada harapan, dan memilih berhenti ketika yang tersisa hanya luka. Tidak ada rumus yang sama untuk semua orang. Setiap orang punya kapasitas, konteks, dan perjalanan yang berbeda. Yang penting adalah keberanian untuk mendengar diri sendiri.

Kuat ya dilakoni, ora kuat ya ditinggal ngopi bukan ajaran malas, melainkan filsafat hidup yang membumi. Ia mengajarkan keseimbangan antara tanggung jawab dan welas asih pada diri sendiri. Antara keteguhan dan kelembutan. Antara perjuangan dan jeda.

Mungkin, kebijaksanaan sejati bukan terletak pada seberapa lama kita bertahan, tetapi pada seberapa sadar kita menjalani hidup. Dan jika suatu hari kita memilih untuk ngopi, semoga itu bukan pelarian, melainkan awal dari langkah yang lebih jujur dan manusiawi.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel