Antara Pendatang, Kearifan Lokal, dan Harga Diri Daerah: Membaca Suara Warga di Tengah Hiruk Pikuk Publik
Antara Pendatang, Kearifan Lokal, dan Harga Diri Daerah: Membaca Suara Warga di Tengah Hiruk Pikuk Publik
Oleh Akang Marta
Di tengah derasnya arus informasi, ruang publik hari ini tidak lagi hanya diisi oleh pidato resmi atau berita media arus utama. Percakapan warga, candaan, sindiran, pujian, hingga kritik tajam kini berbaur dalam satu panggung besar: ruang digital. Dari sanalah muncul potret emosional masyarakat—tentang bangga, kecewa, berharap, sekaligus waspada terhadap segala sesuatu yang datang dari luar dan mencoba mempengaruhi kehidupan lokal.
Salah satu tema yang sering mengemuka adalah soal “pendatang” atau pihak luar yang masuk ke sebuah daerah dengan membawa kepentingan, gaya, dan cara berpikir sendiri. Sebagian warga melihatnya sebagai peluang: membawa pengetahuan baru, jejaring, dan profesionalisme. Namun sebagian lain memandang dengan kecurigaan, terutama ketika yang datang terlihat lebih menonjol, lebih mahal, atau seolah-olah merasa lebih hebat dibandingkan warga setempat.
Di sinilah persoalan harga diri daerah muncul. Masyarakat lokal tidak sekadar bicara soal siapa yang paling pintar atau paling terkenal, melainkan soal rasa dihargai. Ketika ada pihak luar yang tampil seakan-akan “mengalahkan” orang daerah sendiri, muncul perasaan bahwa martabat lokal sedang diuji. Bukan karena warga anti perubahan, tetapi karena mereka tidak ingin diperlakukan sebagai penonton di rumahnya sendiri.
Dalam banyak percakapan warga, nada sindiran sering muncul. Ada yang memuji kecerdasan pihak luar, tapi dengan ironi: “cerdas sekali sampai orang lokal terlihat kalah.” Kalimat semacam ini bukan sekadar lelucon. Ia menyimpan pesan bahwa masyarakat ingin diakui sebagai subjek, bukan objek. Mereka ingin dilibatkan, bukan hanya dipamerkan.
Lebih jauh, percakapan publik juga menunjukkan bagaimana humor, guyonan, dan satire menjadi senjata sosial. Saat warga menertawakan situasi, menyebut gaya tertentu, atau memelesetkan jabatan dan peran, itu bukan sekadar hiburan. Itu adalah bentuk kontrol sosial. Humor menjadi cara aman untuk menyampaikan ketidakpuasan tanpa harus berteriak di jalanan.
Namun, di balik kelakar itu, ada kegelisahan serius: jangan sampai daerah kehilangan jati dirinya. Setiap wilayah punya karakter, bahasa, watak, dan etika sosial sendiri. Ada cara bicara yang halus, ada pula yang lugas. Ada masyarakat yang keras di luar tapi lembut di dalam. Ketika pihak luar datang tanpa memahami ini, gesekan mudah terjadi. Yang satu merasa sudah bekerja profesional, yang lain merasa diinjak harga dirinya.
Kearifan lokal bukan slogan kosong. Ia adalah kumpulan nilai yang hidup: bagaimana orang saling menyapa, bercanda, menegur, bahkan marah. Dalam masyarakat tertentu, nada bicara yang terlalu tinggi bisa dianggap jumawa. Sikap terlalu pamer bisa dibaca sebagai tidak tahu adat. Maka, kecerdasan teknis saja tidak cukup. Yang dibutuhkan adalah kecerdasan kultural.
Banyak warga sebenarnya tidak menolak orang luar. Yang mereka tolak adalah sikap sok tahu, sok hebat, dan merasa paling pantas mengatur. Masyarakat ingin melihat pendatang yang mau belajar: belajar bahasa lokal, belajar kebiasaan, belajar menghargai tokoh masyarakat, dan belajar mendengar sebelum berbicara.
Di sisi lain, percakapan publik juga memperlihatkan bahwa warga mulai kritis terhadap simbol-simbol kekuasaan dan popularitas. Tidak semua yang viral dianggap benar. Tidak semua yang tampil meyakinkan otomatis dipercaya. Warga sekarang menilai dari sikap: apakah seseorang rendah hati, mau turun ke bawah, atau hanya hadir untuk pencitraan.
Ada pula suara-suara yang mengajak agar masyarakat lebih sabar dan ikhlas menghadapi situasi. Seruan untuk menenangkan diri, menerima keadaan, dan tidak mudah terpancing emosi juga banyak muncul. Ini menunjukkan bahwa di tengah riuh, masih ada kesadaran kolektif untuk menjaga harmoni. Namun, kesabaran bukan berarti diam tanpa sikap. Ia harus dibarengi dengan keberanian menyampaikan pendapat secara dewasa.
Menariknya, ruang digital membuat hierarki sosial menjadi lebih cair. Siapa pun bisa berbicara. Tukang, petani, pedagang, mahasiswa, hingga pejabat bisa berada di kolom yang sama. Ini menciptakan demokratisasi suara, tetapi juga risiko salah paham. Kalimat bercanda bisa dianggap serius, kritik bisa dianggap serangan pribadi, dan pujian bisa dibaca sebagai sindiran.
Karena itu, etika komunikasi menjadi penting. Mengkritik boleh, bahkan perlu. Tetapi kritik yang baik selalu membawa niat memperbaiki, bukan mempermalukan. Masyarakat pun mulai sadar bahwa gaduh tanpa arah hanya menghabiskan energi. Yang dibutuhkan adalah kritik yang disertai solusi, bukan sekadar adu gengsi.
Dalam konteks ini, keberanian warga menyuarakan keresahan patut diapresiasi. Mereka tidak ingin daerahnya dikelola dengan cara yang asing bagi nilai lokal. Mereka ingin kemajuan, tetapi bukan kemajuan yang mengorbankan jati diri. Mereka ingin profesionalisme, tetapi bukan profesionalisme yang arogan.
Harga diri daerah bukan berarti menutup diri dari luar. Justru sebaliknya, ia menuntut keterbukaan yang bermartabat. Daerah yang kuat adalah daerah yang mampu menerima orang luar tanpa kehilangan kepercayaan pada kemampuan warganya sendiri. Orang lokal tidak ingin hanya jadi figuran, tetapi mitra sejajar.
Ada satu pesan penting yang bisa dibaca dari berbagai percakapan itu: masyarakat tidak ingin diremehkan. Mereka ingin diperlakukan sebagai komunitas yang cerdas, kritis, dan punya pengalaman hidup sendiri. Mereka mungkin tidak selalu punya gelar tinggi, tetapi mereka punya pengetahuan lapangan yang tidak tertulis di buku.
Ketika ada pihak luar datang dengan konsep besar, warga berharap konsep itu diterjemahkan dalam bahasa mereka. Bukan hanya bahasa kata, tetapi bahasa sikap. Duduk bersama, mendengar cerita, memahami luka lama, dan menghargai kebanggaan kecil masyarakat setempat.
Ruang publik hari ini adalah cermin sosial. Dari sana kita bisa melihat emosi kolektif: bangga, tersinggung, berharap, sekaligus lucu. Tertawa, menyindir, dan berdebat adalah tanda bahwa masyarakat masih hidup secara politik dan budaya. Yang berbahaya justru jika warga diam tanpa suara.
Maka, membaca percakapan warga bukan soal mencari siapa benar atau salah. Lebih penting adalah memahami pesan di baliknya: ada keinginan agar pembangunan, kepemimpinan, dan kolaborasi berjalan dengan rasa hormat. Ada harapan agar siapa pun yang datang ke daerah tidak hanya membawa kecerdasan, tetapi juga kerendahan hati.
Pada akhirnya, daerah yang maju bukan yang dipenuhi orang hebat dari luar, melainkan yang mampu membuat orang luar dan orang lokal tumbuh bersama. Kemenangan sejati bukan mengalahkan warga sendiri, tetapi mengangkat mereka agar berdiri sejajar.
Jika kearifan lokal dijadikan fondasi, maka kecerdasan, teknologi, dan popularitas akan menjadi alat, bukan tujuan. Dan ketika itu terjadi, ruang publik tidak lagi dipenuhi ejekan semata, melainkan dialog yang sehat, kritis, dan membangun.
Di sanalah harga diri daerah tidak lagi dipertahankan dengan kemarahan, tetapi dengan kerja bersama, saling menghormati, dan keberanian menjaga jati diri di tengah perubahan zaman.
