Ads

Bencana di Petak Sawah: Ketika Salah Obat Menjadi Petaka bagi Petani

Bencana di Petak Sawah: Ketika Salah Obat Menjadi Petaka bagi Petani

Penulis: Akang Marta



Sawah bukan sekadar hamparan tanah berlumpur bagi masyarakat agraris. Ia adalah tumpuan harapan, tabungan masa depan, dan simbol keberlangsungan hidup. Namun, harapan itu bisa sirna dalam sekejap hanya karena satu kesalahan kecil yang fatal: salah penggunaan obat pertanian. Narasi yang beredar baru-baru ini menggambarkan kesedihan seorang petani (atau kerabat petani yang disebut "Pak Dewan") yang mendapati tanamannya meranggas setelah penyemprotan.

"Wis pada tandur ya pak dewan ning kono. Waduh.. kudu tandur maning pak." Kalimat ini mencerminkan keputusasaan. Menanam ulang (tandur maning) berarti kerugian dua kali lipat—rugi waktu, rugi biaya bibit, dan rugi tenaga.

Mengapa Salah Obat Bisa Terjadi?

Pertanyaan muncul: "Apakah habis nyemprot obat suket (herbisida) terus tangkinya tidak dibersihkan dulu?" Ini adalah salah satu penyebab paling umum di lapangan.

  1. Kontaminasi Sisa Herbisida: Herbisida sistemik kuat seperti glifosat atau parakuat meninggalkan residu di dalam tangki semprot (sprayer). Jika setelah menyemprot rumput di pematang, tangki tidak dicuci bersih menggunakan deterjen dan dibilas berkali-kali, sisa racun tersebut akan tercampur dengan pupuk daun atau pestisida pada penyemprotan berikutnya. Hasilnya? Tanaman padi ikut mati.

  2. Kesalahan Dosis dan Jenis: Terkadang, petani keliru memilih jenis herbisida. Ada herbisida selektif (hanya membunuh gulma tertentu) dan non-selektif (membunuh semua tanaman hijau). Menggunakan herbisida non-selektif di tengah tanaman padi tentu merupakan vonis mati bagi tanaman tersebut.

  3. Kondisi Cuaca: Menyemprot saat terik matahari yang ekstrem atau sesaat sebelum hujan deras juga bisa mengubah efikasi obat dan justru meracuni jaringan tanaman (fitotoksisitas).

Dampak Psikologis dan Ekonomi

Melihat padi yang menguning sebelum waktunya bukan hanya soal kehilangan materi. Ada ikatan batin antara petani dan tanahnya. Frasa "Ya Allah itu salah kenapa?" menunjukkan keterkejutan yang mendalam. Secara ekonomi, kesalahan ini bisa menyebabkan kerugian hingga jutaan rupiah per hektar, tergantung pada usia tanaman saat terkena paparan kimia tersebut.

Solusi: Apa yang Harus Dilakukan Jika Sudah Terlanjur?

Jika nasi sudah menjadi bubur, atau dalam hal ini, jika padi sudah terlanjur "terbakar" obat, langkah-langkah darurat harus segera diambil. Seperti yang disarankan dalam narasi, ada "obat pemulihan atau penetralan".

1. Penggenangan dan Pembuangan Air (Drainase)

Langkah pertama adalah segera menggenangi sawah dengan air baru yang mengalir, lalu membuangnya kembali. Proses ini bertujuan untuk melarutkan sisa racun yang ada di tanah maupun yang masih menempel di pangkal batang tanaman. Jangan biarkan air beracun itu mengendap.

2. Aplikasi Bahan Penetral (Adjuvan atau Antidot)

Beberapa produk di toko pertanian berfungsi sebagai penetral racun. Secara tradisional, penyemprotan dengan air kelapa muda atau larutan susu murni sering dilakukan oleh petani berpengalaman karena kandungan elektrolit dan proteinnya dipercaya mampu membantu tanaman melewati masa stres akibat keracunan kimia.

3. Pemberian Bio-Stimulan dan Unsur Mikro

Setelah tanaman terlihat mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan (tumbuh pucuk baru), berikan pupuk daun yang mengandung asam amino tinggi. Asam amino berfungsi sebagai "makanan siap saji" bagi tanaman yang sedang sakit, sehingga ia tidak perlu bekerja keras melakukan fotosintesis di saat sel-selnya sedang rusak.

4. Penggunaan Humic Acid (Asam Humat)

Taburkan asam humat ke tanah untuk mengikat residu kimia di dalam tanah agar tidak terus diserap oleh akar tanaman. Asam humat juga membantu memperbaiki struktur tanah yang mungkin rusak akibat paparan bahan kimia dosis tinggi.

Pencegahan: Belajar dari Pengalaman 

Agar kejadian serupa tidak terulang pada "sedulur" (saudara) atau tetangga galeng lainnya, berikut adalah protokol wajib bagi setiap penyemprot:

  • Pemisahan Alat: Jika memungkinkan, bedakan tangki semprot untuk herbisida (obat suket) dengan tangki untuk pupuk/pestisida. Beri tanda warna yang kontras.

  • Prosedur Pencucian Standar: Jika hanya punya satu tangki, cuci menggunakan air sabun/deterjen setelah digunakan untuk herbisida. Pastikan selang dan nozzle juga terbilas sempurna.

  • Konsultasi Ahli: Jangan hanya mengandalkan ingatan. Sebelum membeli, bertanyalah ke penyuluh pertanian atau pemilik toko obat yang terpercaya, seperti "toko obat tikungan Kebuyut" yang disebutkan dalam narasi. Mereka biasanya memiliki pengalaman lapangan mengenai merek mana yang aman dan mana yang berisiko tinggi.

Seni Mengelola Alam

Pertanian adalah seni mengelola alam, dan manusia adalah tempatnya salah serta lupa. Insiden yang menimpa sawah Pak Dewan adalah pelajaran berharga bagi kita semua. Meskipun "bakale bagus kuh awale" (awalnya terlihat akan bagus), kecerobohan kecil bisa mengubah segalanya.

Bagi para sedulur petani, tetaplah semangat. Jika tanaman masih bisa diselamatkan dengan obat pemulihan, lakukan dengan segera. Jika memang harus "tandur maning", anggaplah itu sebagai sedekah tenaga dan awal yang baru dengan ilmu yang lebih matang.

Semoga panen ke depan tetap melimpah dan dijauhkan dari marabahaya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel