Ads

Geger Tugu Nol Indramayu: Ketika Sebuah Tugu Lebih Viral dari Kisah Cinta Mantan!

 Geger Tugu Nol Indramayu: Ketika Sebuah Tugu Lebih Viral dari Kisah Cinta Mantan!

Oleh Akang Marta



Kalau kamu pikir thread curhat soal mantan patah hati atau video kucing joget itu yang paling viral di timeline, berarti kamu belum kenal Tugu Nol Indramayu. Ya, tugu yang tadinya cuma beton polos berdiri tegak di alun-alun ini, tiba-tiba naik daun di media sosial, bikin semua orang nge-scroll sambil senyum-senyum kecut tapi geli.

Mari kita mulai dari awal. Tugu Nol sebenarnya dibangun sebagai simbol kota: titik nol, simbol kehormatan, lambang identitas. Tapi siapa sangka, “titik nol” ini tiba-tiba lebih menarik perhatian daripada drama cinta segitiga di Twitter atau video TikTok kucing yang joget sambil pakai topi?

Semuanya bermula ketika foto-foto tugu ini muncul di timeline warga. Netizen langsung bereaksi, tidak hanya sekadar like atau share, tapi komentar-komentar kocak bermunculan. Ada yang bilang: “Liat nih, tugu kita, lebih kaku dari mantan pas bilang ‘gak apa-apa’.” Ada yang nambahin caption ala K-drama: “Dia diam, tegak, tapi bikin hati berdebar—lebih dramatis dari chat yang nggak dibalas mantan.”

Dan begitulah, viralnya Tugu Nol mulai merambah dari Indramayu sampai nasional. Orang-orang mulai bikin meme, komik mini, bahkan filter TikTok: siapa pun bisa berdiri kaku di depan kamera, meniru pose tugu. Lah, yang biasanya viral cuma curhat galau atau challenge dance, kini beton diam bisa bikin timeline penuh warna dan tawa.

Yang bikin tugu ini “spesial” sebenarnya sederhana: kombinasi antara keseriusan, kebosanan, dan absurditas. Tugu berdiri kaku, polos, nggak ngomong sepatah kata pun—tapi justru dari diam itulah orang menemukan humor, kreativitas, dan momen viral. Bayangkan, beton yang nggak bergerak sama sekali bisa lebih viral daripada mantan yang tiba-tiba update status galau.

Fenomena ini bisa dianalogikan seperti drama: tugu itu protagonis, netizen jadi penonton sekaligus sutradara. Meme muncul, komentar muncul, challenge muncul. Salah satu meme favorit: Tugu Nol berdiri dengan caption “Ketika kamu sadar Senin lagi, tapi harus tetap tersenyum.” Atau versi “pose romantis gagal”, lengkap dengan efek bokeh ala Instagram, seolah tugu itu punya perasaan—padahal dia diam tegak, polos, tapi tetap viral.

Selain itu, ada sisi lucu lainnya. Pedagang lokal mulai memanfaatkan tren ini. Ada yang jual kaos “Aku Kaku Seperti Tugu Nol”, gelas kopi dengan ilustrasi tugu, bahkan spot foto prewedding mendadak jadi viral karena pasangan muda ingin pose kaku ala tugu. Jadi, dari kontroversi dan absurditas muncul ekonomi kreatif. Filosofi ringannya: kadang viral itu bukan soal drama manusia, tapi soal siapa yang bisa bikin orang ketawa.

Yang lebih kocak lagi, netizen membandingkan Tugu Nol dengan berbagai hal yang biasanya viral. Contohnya:

  • Thread curhat mantan patah hati? Tugu Nol lebih konsisten. Beton tidak pernah ghosting.

  • Video kucing joget? Tugu Nol lebih dramatis. Kucing cuma lompat-lompat, tugu berdiri tegak dan bikin orang mikir: “Kenapa gue ngakak sendiri?”

  • Challenge TikTok? Tugu Nol lebih fleksibel. Bisa jadi pose kaku, bisa jadi background prewedding, bisa jadi meme politik.

Nah, yang bikin orang tambah ngakak adalah komentar-komentar absurd. Ada yang bilang, “Kalau Tugu Nol bisa berdiri tegak walau dicemooh netizen, berarti gue juga bisa survive mantan.” Ada juga versi filosofi ringan: “Hidup itu kadang kaku, kadang absurd, tapi selalu bisa viral kalau punya karakter.”

Fenomena ini pun mengajarkan kita satu hal penting: viral bukan soal siapa paling cantik atau paling lucu, tapi siapa yang paling bisa bikin orang ngobrol dan ketawa. Beton diam bisa lebih viral daripada thread curhat panjang lebar, karena ada unsur kejutan dan absurditas yang bikin orang men-stop scrolling.

Tidak berhenti sampai di situ, Tugu Nol juga memunculkan berbagai challenge kreatif: Tugu Challenge. Cara mainnya gampang: tiru pose tugu se-kaku dan se-serius mungkin, lalu upload. Hashtag-nya langsung ramai. Timeline pun penuh dengan orang-orang berdiri di alun-alun, kaku tapi dengan ekspresi lucu, sambil caption: “Lebih Onol-Onol dari mantan, tapi tetap keren.”

Dari semua ini, filosofi ala kadarnya muncul. Tugu Nol mengajarkan kita bahwa sesuatu yang polos, sederhana, atau bahkan kaku, bisa memiliki banyak makna:

  1. Tertawalah pada hal kecil – humor sederhana bisa bikin orang terhibur lebih lama daripada drama panjang.

  2. Tetap tegak meski dikritik – beton diam, tapi viral. Kita juga bisa tetap konsisten, walau dihujani komentar.

  3. Viral itu soal interaksi – siapa pun bisa membuat sesuatu menjadi viral kalau ada kreativitas dan keunikan.

Bahkan ada sisi romantis dari Tugu Nol. Pasangan muda sering menjadikannya spot prewedding. Ada yang bilang, “Kalau tugu bisa berdiri kaku tapi tetap viral dan dihargai orang, kenapa kita nggak bisa menghadapi hidup dan cinta dengan cara yang sama?” Filosofi ringan tapi manis: keras kepala, tapi lucu, dan tetap bisa dicintai.

Selain itu, Tugu Nol mengingatkan kita soal kekuatan nama. Dari “Tugu Nol Kilometer” yang terdengar formal, tiba-tiba viral karena julukan Onol-Onol. Kadang nama unik bisa bikin orang tertarik, bahkan lebih dari hal-hal yang sudah biasa viral. Filosofi ringannya: jangan remehkan kekuatan branding sederhana.

Fenomena ini juga menunjukkan kreativitas warga. Meme, filter, challenge, kaos, gelas kopi, prewedding photoshoot—semua lahir dari tugu sederhana. Filosofi ringan tapi lucu: kalau hidup memberi kamu beton polos, buatlah menjadi Onol-Onol yang viral.

Tentunya, drama Tugu Nol nggak selalu mulus. Ada komentar pedas, ada yang merasa tugu harus dijaga keseriusannya. Tapi justru di situlah keindahan ceritanya: keberagaman opini bikin hidup lebih seru. Filosofi lain: perbedaan perspektif membuat sesuatu lebih menarik, bahkan viral.

Akhirnya, Tugu Nol Indramayu membuktikan satu hal sederhana tapi powerful: bahwa viral itu bukan soal siapa paling populer, tapi siapa paling unik dan kreatif. Sebuah beton polos bisa lebih viral daripada kisah cinta mantan atau kucing joget di TikTok. Bahkan tugu yang kaku bisa menjadi simbol kreativitas, humor, dan interaksi sosial.

Kalau kamu suatu hari jalan-jalan ke Indramayu, jangan cuma lewat. Singgahlah di Tugu Nol, ambil pose kaku, tiru ekspresi serius tapi lucu, dan rasakan getaran viral yang bikin ngakak sambil mikir: hidup itu kadang absurd, tapi selalu bisa dicintai orang kalau punya karakter unik.

Siapa sangka, sebuah tugu polos bisa mengalahkan viralnya kisah mantan atau kucing joget? Di Indramayu, beton diam bisa menjadi bintang. Dan bagi kita semua, Tugu Nol mengajarkan filosofi sederhana: berdirilah kaku, tetap konsisten, jadilah absurd, dan jadilah viral!

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel