Ads

Intelektualitas sebagai Jalan Dakwah Sunyi

Intelektualitas sebagai Jalan Dakwah Sunyi



Mengajar hukum Islam di salah satu fakultas hukum terbaik dunia bukanlah perkara sederhana. Ruang kelas semacam itu tidak menyediakan panggung untuk glorifikasi syariat atau retorika keimanan. Yang dihadapi adalah mahasiswa kritis dengan tradisi berpikir rasional. Materi yang dibahas pun bukan pujian normatif, melainkan perdebatan serius tentang sumber hukum, metodologi ijtihad, konflik norma, maqashid syariah, hingga relasi kompleks antara hukum agama dan negara modern. Setiap argumen harus dapat diuji, setiap konsep harus bisa dibandingkan, dan setiap klaim wajib disertai landasan metodologis yang jelas. Tidak ada ruang bagi dogma kosong yang kebal kritik.

Justru dalam situasi inilah kekuatan dakwah intelektual menemukan bentuknya. Ketika hukum Islam dipresentasikan sebagai sistem berpikir yang hidup, dinamis, dan sarat perdebatan internal, ia perlahan keluar dari stigma kaku dan ahistoris. Mahasiswa mulai melihat bahwa fikih bukan produk beku, melainkan hasil pergulatan intelektual panjang lintas zaman. Tradisi ini tidak pernah tunggal. Di dalamnya ada perbedaan tajam, kritik keras, dan keberanian untuk tidak selalu sepakat.

Di satu sisi ada Imam Abu Hanifah dengan keberanian istihsannya yang kontekstual. Di sisi lain ada Imam Syafi’i dengan disiplin metodologis dan kritiknya yang tegas. Ada qiyas sebagai jembatan rasional, ada istishab sebagai prinsip kehati-hatian, dan ada maqashid syariah yang menempatkan tujuan kemanusiaan sebagai orientasi hukum. Semua ini menunjukkan bahwa hukum Islam tumbuh melalui dialektika, bukan kepatuhan buta.

Model dakwah semacam ini tidak bertujuan mengajak orang masuk Islam. Ia tidak mengejar konversi, apalagi kemenangan simbolik. Tujuannya lebih sunyi, tetapi mendalam: mengajak orang memahami dan menghormati Islam sebagai salah satu tradisi intelektual besar dunia. Penghormatan itu tidak lahir dari klaim kebenaran sepihak, melainkan dari proses memahami kompleksitas dan kedalaman berpikirnya.

Di titik inilah dakwah menemukan wajah barunya. Tanpa mimbar, tanpa seruan, tetapi hadir melalui argumentasi yang jujur dan terbuka. Sebuah dakwah yang bekerja di wilayah nalar, dan justru karena itu, bertahan lebih lama.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel