Ads

Santri dan Mobilitas Sejarah yang Berubah Arah

Santri dan Mobilitas Sejarah yang Berubah Arah



Jika ditarik ke belakang, perjalanan santri menuju ruang-ruang strategis lahir dari konteks sosial yang panjang dan tidak selalu ramah. Ada masa ketika santri diposisikan sebagai warga kelas dua. Mereka dianggap cukup untuk mengurus urusan ritual, tetapi diragukan kapasitasnya dalam mengelola negara atau berkiprah di arena pengambilan keputusan. Cita-cita santri seolah dipagari: maksimal menjadi guru madrasah, pegawai KUA, atau pembaca doa dalam acara kenegaraan. Santri jarang dibayangkan menjadi hakim, profesor hukum, diplomat, atau perancang kebijakan publik.

Namun sejarah tidak pernah berhenti. Ia bergerak pelan, kadang nyaris tak terasa, tetapi pasti. Salah satu titik balik penting adalah kebijakan penyetaraan ijazah madrasah dengan sekolah umum. Kebijakan ini bukan sekadar administratif, melainkan perubahan paradigma. Ketika jalur pendidikan disilangkan, ketika santri dapat masuk universitas umum dan siswa sekolah umum dapat belajar di madrasah, tembok dikotomi perlahan runtuh. Mobilitas sosial umat Islam tidak lagi bergantung pada belas kasih dari atas, tetapi tumbuh seperti mata air yang memancar dari dalam.

Sejak itu, generasi demi generasi lahir dengan wajah baru. Santri menjadi dokter, ahli hukum, ekonom, ilmuwan, dan profesor. Mereka tidak lagi terkungkung dalam satu profesi simbolik, melainkan menjelajah berbagai disiplin ilmu. Pada dekade berikutnya, peran itu melampaui batas geografis. Di Jerman, Jepang, Korea, Kanada, dan Amerika Serikat, santri Indonesia mengajar, meneliti, dan berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan. Mereka hadir bukan sebagai tamu eksotis, tetapi sebagai bagian dari ekosistem akademik global yang setara.

Fenomena ini jelas bukan kebetulan. Ia merupakan hasil dari proses panjang integrasi keislaman dan keindonesiaan yang bersifat kosmopolit. Islam di Indonesia tumbuh bukan melalui penutupan diri, melainkan melalui perjumpaan, dialog, dan keterbukaan terhadap perubahan. Dari posisi minoritas simbolik, santri bertransformasi menjadi kontributor nyata dalam peradaban. Bukan dengan meninggalkan identitas, tetapi dengan mematangkannya melalui ilmu dan pengalaman sejarah.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel