Ketika Kebenaran Diperdebatkan: Antara Keyakinan, Ego, dan Etika Sosial
Ketika Kebenaran Diperdebatkan: Antara Keyakinan, Ego, dan Etika Sosial
Oleh Akang Marta
Di era keterbukaan informasi, perdebatan tentang kebenaran menjadi pemandangan yang nyaris tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari. Setiap orang merasa memiliki ruang untuk menyampaikan pendapat, keyakinan, dan penilaiannya terhadap dunia. Namun persoalan muncul ketika pencarian kebenaran tidak lagi dimaknai sebagai proses memahami, melainkan berubah menjadi upaya memaksakan. Banyak orang hari ini menganggap bahwa kebenaran sejati hanya sah jika orang lain harus sama persis dengan dirinya. Di titik inilah dialog kehilangan makna, dan perbedaan tidak lagi dipahami sebagai rahmat, melainkan dianggap sebagai kesalahan.
Fenomena tersebut tampak dari cara orang berkomentar, berdiskusi, bahkan saling menyapa. Bahasa yang seharusnya menenangkan justru berubah menjadi senjata. Sebuah nasihat sederhana tentang kehati-hatian di tengah cuaca buruk bisa dibelokkan menjadi bahan ejekan. Candaan, sindiran, hingga caci maki sering muncul tanpa mempertimbangkan perasaan orang lain. Di balik layar, manusia lupa bahwa yang mereka hadapi bukan sekadar teks, melainkan individu dengan latar, emosi, dan nilai yang berbeda.
Masalah utama bukan pada perbedaan pandangan, melainkan pada cara memandang perbedaan itu sendiri. Banyak orang merasa paling benar, paling paham, dan paling layak menghakimi. Ego lalu berdiri di depan akal sehat. Ketika ego menguasai, diskusi tak lagi bertujuan mencari kebenaran bersama, tetapi memenangkan perdebatan. Yang penting bukan siapa yang paling jujur, melainkan siapa yang paling keras suaranya.
Dalam konteks sosial, kebenaran sering disederhanakan menjadi slogan. Kata-kata besar tentang moral, agama, atau idealisme diucapkan tanpa diiringi kerendahan hati. Padahal kebenaran sejati tidak lahir dari teriakan, melainkan dari sikap yang konsisten. Seseorang boleh berbicara tentang nilai, tetapi jika tutur katanya melukai, maka pesan itu kehilangan ruhnya. Kebenaran tanpa etika hanya akan menjadi alat pembenaran diri.
Di sisi lain, ada pula kecenderungan untuk menertawakan pandangan orang lain. Sesuatu yang berbeda dianggap lucu, aneh, atau layak diremehkan. Sikap ini perlahan membentuk budaya komunikasi yang tidak sehat. Alih-alih mengajak berpikir, orang justru sibuk menciptakan label. Setiap pendapat dipaksa masuk ke dalam kotak benar atau salah secara instan, tanpa ruang penjelasan dan refleksi.
Ketika diskusi bergeser menjadi ejekan, kualitas ruang publik pun menurun. Orang yang seharusnya belajar justru sibuk menyerang. Yang semestinya mendengarkan malah berlomba membalas. Akhirnya, kebenaran tidak pernah benar-benar ditemukan, karena semua pihak sibuk mempertahankan gengsi. Inilah paradoks zaman modern: akses informasi semakin luas, tetapi kebijaksanaan semakin sempit.
Persoalan semakin rumit ketika kebenaran dikaitkan dengan kekuasaan, status, atau kedudukan. Tidak sedikit orang yang ketika berada di posisi tertentu justru lupa pada nilai yang dahulu mereka agungkan. Dunia menawarkan kenyamanan, pujian, dan pengaruh, sementara kesadaran spiritual sering tertinggal. Ketika orientasi hidup bergeser hanya pada pencapaian materi atau popularitas, maka kebenaran mudah diperalat demi citra, bukan demi makna.
Sebagian orang menganggap bahwa kebenaran mutlak harus dikaitkan dengan sumber nilai tertentu. Namun ironisnya, nilai itu sering hanya menjadi simbol, bukan perilaku. Kata-kata suci dikutip, tetapi sikap tidak mencerminkan kesucian itu sendiri. Di sinilah muncul jurang antara wacana dan tindakan. Kebenaran yang seharusnya menenangkan justru menjadi bahan konflik karena dipakai tanpa kebijaksanaan.
Dalam kehidupan sosial, manusia sebenarnya tidak dituntut untuk seragam. Perbedaan cara berpikir adalah keniscayaan. Setiap orang dibentuk oleh pengalaman, pendidikan, lingkungan, dan luka masing-masing. Memaksa orang lain untuk sama persis berarti mengabaikan kemanusiaan itu sendiri. Kebenaran tidak identik dengan keseragaman, melainkan dengan kesediaan memahami.
Sayangnya, banyak yang salah memaknai dialog. Mereka mengira berdiskusi adalah ajang mengalahkan. Padahal esensi dialog adalah bertumbuh bersama. Mendengar tidak berarti kalah, dan berbeda tidak berarti musuh. Ketika seseorang mampu menahan diri untuk tidak langsung menyerang, di situlah kedewasaan sosial lahir. Kebenaran tidak lagi berdiri sebagai tembok, tetapi sebagai jembatan.
Budaya komunikasi yang sehat menuntut empati. Sebelum menulis atau berbicara, seseorang seharusnya bertanya: apakah kalimat ini memperbaiki atau justru memperkeruh? Apakah tujuan saya memberi manfaat atau sekadar meluapkan emosi? Pertanyaan-pertanyaan kecil ini sering diabaikan, padahal dampaknya besar. Satu kalimat kasar bisa merusak kepercayaan, sedangkan satu kalimat bijak bisa menumbuhkan harapan.
Dalam masyarakat yang terus bergerak cepat, kesabaran menjadi nilai langka. Semua ingin segera ditanggapi, segera dibenarkan, dan segera diakui. Proses berpikir dipangkas demi kepuasan instan. Akibatnya, banyak pernyataan lahir bukan dari perenungan, tetapi dari reaksi spontan. Padahal kebenaran memerlukan waktu, keheningan, dan kesediaan untuk mengoreksi diri.
Ada pula kecenderungan menjadikan perdebatan sebagai hiburan. Konflik dipelihara karena menarik perhatian. Semakin keras, semakin ramai. Semakin tajam, semakin viral. Dalam situasi ini, substansi sering kalah oleh sensasi. Orang lebih tertarik pada pertengkaran daripada pada pemahaman. Kebenaran akhirnya bukan lagi tujuan, melainkan korban dari keramaian itu sendiri.
Jika ditarik lebih dalam, masalah ini bukan sekadar persoalan komunikasi, tetapi juga persoalan karakter. Masyarakat yang dewasa adalah masyarakat yang mampu berbeda tanpa saling merendahkan. Kekuatan suatu bangsa bukan pada kesamaan suara, tetapi pada kematangan cara menyikapi perbedaan. Ketika setiap orang merasa paling benar, yang lahir bukan kemajuan, melainkan kebuntuan.
Kebenaran sejati seharusnya membuat manusia lebih rendah hati, bukan lebih angkuh. Semakin seseorang merasa tahu, seharusnya semakin ia sadar bahwa masih banyak yang belum dipahami. Kesadaran ini melahirkan sikap terbuka. Dari keterbukaan muncul dialog. Dari dialog lahir kebijaksanaan. Tanpa itu, kebenaran hanya menjadi topeng ego.
Dalam kehidupan sehari-hari, etika berbicara menjadi fondasi penting. Kritik boleh, tetapi harus beradab. Perbedaan sah, tetapi harus santun. Nasihat indah, tetapi harus disertai keteladanan. Ketika kata dan sikap berjalan seiring, maka kebenaran tidak lagi terasa memaksa, melainkan mengajak.
Pada akhirnya, pencarian kebenaran bukan tentang membuat orang lain tunduk, melainkan tentang memperbaiki diri. Dunia tidak membutuhkan lebih banyak orang yang merasa paling benar, tetapi membutuhkan lebih banyak manusia yang mau belajar. Di tengah hujan perdebatan dan angin emosi, yang paling berharga adalah sikap saling menjaga, agar kebenaran tidak berubah menjadi luka, dan keyakinan tidak menjelma menjadi kesombongan.
Karena sejatinya, kebenaran bukan soal siapa yang paling keras berbicara, melainkan siapa yang paling tulus menjaga makna kemanusiaan.
