Ads

Kita Keder Kih Dadine: Tentang Minder, Relasi, dan Dunia yang Terlalu Mengagungkan Kenalan

Kita Keder Kih Dadine: Tentang Minder, Relasi, dan Dunia yang Terlalu Mengagungkan Kenalan

Oleh Akang Marta



“Kita keder kih dadine, mo kate mendi garep dolan ning sapa bli duwe kenalan.”

Kalimat sederhana ini terdengar seperti candaan, tapi jika direnungkan lebih dalam, ia menyimpan potret sosial yang begitu nyata. Tentang rasa keder, tentang minder, tentang perasaan kecil di tengah dunia yang terasa besar dan eksklusif. Tentang bagaimana arah langkah seseorang sering kali tidak ditentukan oleh kemampuan, niat, atau keberanian, melainkan oleh satu hal yang terdengar remeh tapi menentukan: punya kenalan atau tidak.

Aku sering memikirkan kalimat itu di banyak momen hidup. Saat hendak melangkah ke tempat baru, saat ingin mencoba hal baru, atau saat berdiri di persimpangan antara berani dan ragu. Keder itu bukan selalu soal takut gagal. Kadang ia lahir dari kesadaran pahit bahwa dunia ini tidak sepenuhnya adil. Bahwa banyak pintu tidak dibuka oleh usaha semata, tetapi oleh siapa yang kita kenal.

Kita hidup di masyarakat yang diam-diam memuja relasi. Kenalan menjadi mata uang sosial. Bukan cuma soal pekerjaan, tapi juga pergaulan, akses, bahkan rasa percaya diri. Orang yang punya kenalan melangkah dengan lebih ringan. Orang yang tidak, sering kali berjalan sambil menunduk, menimbang-nimbang setiap langkah.

“Kita keder” bukan berarti kita tidak mampu. Justru sering kali sebaliknya. Kita punya niat, punya potensi, punya semangat. Tapi semua itu terasa kecil ketika berhadapan dengan sistem yang lebih menghargai kedekatan daripada kelayakan. Maka wajar jika banyak orang akhirnya memilih diam, memilih menyingkir, atau memilih bermain aman.

Narasi ini bukan tentang iri. Ini tentang realitas. Tentang bagaimana banyak orang akhirnya bertanya bukan “aku bisa apa?”, tetapi “aku kenal siapa?”. Dan ketika jawabannya kosong, rasa keder itu datang perlahan. Bukan sebagai ledakan, tetapi sebagai bisikan yang melemahkan: “Ah, percuma. Bukan dunia kita.”

Aku melihat ini terjadi di banyak ruang. Di dunia kerja, di lingkungan akademik, di komunitas, bahkan dalam urusan sederhana seperti ingin ikut nongkrong atau dolan ke tempat baru. Ada rasa sungkan yang bercampur minder. Takut dianggap tidak pantas. Takut merasa asing. Takut tidak punya sandaran.

“Karep dolan ning sapa?” Pertanyaan ini terdengar ringan, tapi maknanya dalam. Seolah-olah kehadiran kita harus selalu disahkan oleh orang lain. Seolah-olah kita tidak cukup hanya menjadi diri sendiri. Harus ada jaminan sosial. Harus ada pintu yang dibukakan orang dalam.

Di titik ini, aku mulai bertanya: sejak kapan kita diajarkan bahwa nilai diri kita ditentukan oleh jaringan, bukan oleh integritas? Sejak kapan keberanian harus menunggu restu relasi? Dan sejak kapan keder menjadi kondisi normal?

Namun refleksi ini tidak berhenti pada keluhan. Justru dari rasa keder itu, aku belajar banyak hal. Bahwa rasa minder sering kali bukan tanda kelemahan, tetapi tanda kesadaran. Kesadaran bahwa kita hidup di sistem yang tidak selalu ramah. Dan kesadaran ini, jika dikelola dengan baik, bisa menjadi sumber kebijaksanaan.

Keder mengajarkan kita rendah hati. Ia membuat kita lebih peka. Lebih berhati-hati. Lebih menghargai proses. Orang yang datang dari nol, tanpa kenalan, sering kali membangun dirinya dengan kerja keras yang sunyi. Tidak banyak sorak sorai, tetapi penuh ketekunan.

Aku juga belajar bahwa kenalan memang mempermudah jalan, tetapi tidak selalu menjamin arah. Banyak orang yang masuk ke ruang-ruang tertentu karena relasi, tetapi kebingungan bertahan karena tidak siap. Sementara mereka yang masuk dengan pelan, meski penuh keder, sering kali punya daya tahan yang lebih kuat.

“Kita keder kih dadine” seharusnya tidak menjadi vonis seumur hidup. Ia boleh hadir, tetapi tidak boleh memimpin. Rasa keder boleh diakui, tetapi tidak harus ditaati. Ia adalah sinyal, bukan perintah. Ia memberi tahu bahwa kita sedang berada di zona asing, bukan bahwa kita tidak pantas berada di sana.

Perlahan, aku belajar melangkah meski keder. Datang meski tidak kenal siapa-siapa. Duduk meski merasa asing. Bicara meski suara sedikit gemetar. Karena aku sadar, jika terus menunggu punya kenalan, aku tidak akan pernah benar-benar hidup.

Ironisnya, banyak kenalan justru lahir dari keberanian awal itu. Dari langkah kecil yang melawan rasa keder. Dari kehadiran yang tidak diundang tetapi tulus. Dari sikap sopan, jujur, dan konsisten. Dunia memang tampak tertutup, tetapi tidak sepenuhnya terkunci.

Refleksi ini juga membuatku berpikir tentang tanggung jawab kita ketika suatu hari punya posisi. Ketika suatu hari kita menjadi “kenalan” bagi orang lain. Apakah kita akan menjadi pintu, atau justru tembok? Apakah kita akan membuka ruang, atau memperkuat eksklusivitas?

Karena rasa keder itu menyakitkan. Dan orang yang pernah merasakannya seharusnya tahu betapa berharganya satu sikap ramah. Satu ajakan duduk. Satu kalimat, “ayo gabung”. Hal kecil itu bisa mengubah banyak hal dalam hidup seseorang.

“Karep dolan ning sapa bli duwe kenalan” juga bisa dibaca sebagai kritik sosial. Tentang bagaimana ruang publik sering terasa bukan milik bersama. Tentang bagaimana inklusivitas masih menjadi jargon, bukan praktik. Dan tentang bagaimana banyak potensi akhirnya mati muda karena tidak pernah diberi ruang.

Namun aku memilih menutup refleksi ini dengan keyakinan sederhana: meski dunia mengagungkan kenalan, karakter tetap lebih panjang umurnya. Relasi bisa membuka pintu, tetapi sikaplah yang menentukan apakah kita boleh tinggal di dalam.

Jika hari ini kita masih keder, tidak apa-apa. Jika hari ini kita belum punya kenalan, juga tidak apa-apa. Yang penting, kita tidak berhenti berjalan. Tidak berhenti belajar. Tidak berhenti menjadi manusia yang layak, meski belum dikenal.

Karena pada akhirnya, keberanian paling murni bukanlah datang dengan pengawal, tetapi melangkah sendiri meski tangan gemetar. Dan dari langkah-langkah itulah, pelan-pelan, dunia yang semula terasa asing mulai memberi ruang.

Kita keder kih dadine, iya. Tapi kita juga sedang tumbuh. Dan itu tidak kalah penting.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel