Ads

Seni Berpura-Pura Baik: Bertahan di Tengah Wajah Ganda

Seni Berpura-Pura Baik: Bertahan di Tengah Wajah Ganda

Oleh Akang Marta



Ada satu pelajaran hidup yang tidak pernah diajarkan di sekolah, tidak tertulis di buku agama secara eksplisit, dan jarang dibahas di ruang-ruang motivasi: bahwa dalam hidup, tidak semua orang layak dihadapi dengan kejujuran penuh. Ada kalanya, kita perlu berpura-pura baik. Bukan karena kita munafik, tetapi karena kita ingin bertahan di tengah orang-orang yang bermuka dua.

Kalimat “perlu berpura-pura baik menghadapi orang munafik dan bermuka dua” sering terdengar sinis. Seolah-olah ia mendorong kepalsuan. Padahal, jika direnungkan lebih dalam, ia justru lahir dari pengalaman. Dari luka. Dari pengkhianatan kecil yang berulang. Dari pelajaran mahal bahwa tidak semua senyum itu tulus, dan tidak semua pujian itu doa.

Di dunia yang ideal, kejujuran adalah nilai utama. Kita diajarkan untuk berkata apa adanya, bersikap lurus, dan percaya bahwa kebaikan akan selalu dibalas kebaikan. Namun dunia nyata sering kali tidak bekerja seperti itu. Ada orang yang ramah di depan, tetapi merobohkan kita dari belakang. Ada yang mengangguk setuju, namun diam-diam menyiapkan jebakan. Di hadapan orang seperti ini, kejujuran polos justru bisa menjadi senjata makan tuan.

Berpura-pura baik bukan berarti menjadi sama jahatnya. Ini bukan soal membalas tipu daya dengan tipu daya. Ini soal menjaga diri. Tentang memilih sikap yang paling aman agar tidak terus-menerus menjadi korban. Karena menghadapi orang bermuka dua dengan keterbukaan total sering kali hanya akan membuat kita lelah dan kecewa.

Aku belajar bahwa ada perbedaan besar antara tulus dan polos. Tulus adalah memberi dengan sadar. Polos adalah memberi tanpa batas. Orang munafik menyukai yang polos, bukan yang tulus. Mereka memanfaatkan keterbukaan, memancing cerita, lalu menggunakannya sebagai alat. Maka berpura-pura baik di hadapan mereka adalah bentuk kecerdasan emosional, bukan pengkhianatan terhadap nilai.

Di banyak lingkungan—pekerjaan, komunitas, bahkan keluarga—orang bermuka dua sering justru tampil paling rapi. Mereka pandai memilih kata, lihai membangun citra, dan sangat mahir memainkan peran. Menghadapi mereka dengan konfrontasi langsung sering kali tidak efektif. Mereka akan menyangkal, memutarbalikkan fakta, bahkan menjadikan kita terlihat sebagai pihak yang berlebihan.

Di titik itulah, berpura-pura baik menjadi strategi. Kita tetap sopan, tetap ramah, tetapi tidak membuka pintu terlalu lebar. Kita tersenyum, tetapi tidak menyerahkan rahasia. Kita menyapa, tetapi tidak memberi akses penuh ke dalam hidup kita. Ini bukan kemunafikan, ini batas.

Ada orang-orang yang salah paham, mengira bahwa bersikap tegas berarti kasar, dan menjaga jarak berarti sombong. Padahal, menjaga jarak dengan orang bermuka dua adalah bentuk sayang pada diri sendiri. Kita tidak sedang bermain peran, kita sedang mengelola risiko.

Berpura-pura baik juga mengajarkan kita tentang kesabaran. Tidak semua kebohongan perlu dibongkar. Tidak semua topeng perlu dicabut oleh kita. Waktu sering kali lebih jujur daripada emosi. Orang bermuka dua biasanya jatuh oleh caranya sendiri. Kita hanya perlu cukup cerdas untuk tidak ikut tenggelam bersama mereka.

Namun penting untuk diingat: berpura-pura baik bukanlah tujuan hidup. Ia hanya alat. Kita tidak boleh terlalu lama hidup dengan topeng, karena itu melelahkan. Kita hanya mengenakannya di ruang-ruang tertentu, kepada orang-orang tertentu. Di luar itu, kita tetap berhak menjadi diri sendiri. Tetap berhak jujur. Tetap berhak tulus.

Ada kelelahan yang khas ketika terlalu sering berhadapan dengan kemunafikan. Lelah yang tidak selalu bisa dijelaskan, tetapi terasa di dada. Maka salah satu bentuk perlawanan terbaik adalah tidak ikut menjadi seperti mereka. Kita tidak perlu ikut bermuka dua. Kita hanya perlu cukup pintar untuk tidak mudah dibaca.

Berpura-pura baik juga berarti memilih pertempuran. Tidak semua hal harus diperjuangkan. Tidak semua konflik layak dimenangkan. Kadang, kemenangan terbesar adalah tetap waras. Tetap utuh. Tetap tidak kehilangan diri sendiri di tengah permainan orang lain.

Aku percaya, orang baik tidak harus selalu terlihat baik. Kadang, orang baik justru terlihat dingin karena terlalu sering disalahpahami. Mereka belajar bahwa kebaikan tanpa batas sering kali diartikan sebagai kelemahan. Maka mereka belajar mengemas kebaikan dengan kewaspadaan.

Dalam perjalanan ini, kita juga belajar memaafkan tanpa harus mempercayai kembali. Memaafkan adalah urusan hati, tetapi mempercayai adalah urusan akal. Orang munafik sering pandai memanfaatkan maaf sebagai celah. Maka memaafkan tidak berarti membuka pintu yang sama.

Pada akhirnya, berpura-pura baik adalah tentang keseimbangan. Tentang bagaimana tetap menjadi manusia yang beretika tanpa menjadi korban. Tentang bagaimana menjaga nilai tanpa harus mengorbankan keselamatan batin.

Jika hari ini kita harus tersenyum di hadapan orang yang kita tahu tidak tulus, tidak apa-apa. Selama senyum itu tidak mengkhianati diri kita sendiri. Selama kita tahu batasnya. Selama kita tidak kehilangan kejujuran di ruang-ruang yang aman.

Karena hidup bukan hanya tentang menjadi baik, tetapi juga tentang bertahan. Dan bertahan di dunia yang penuh wajah ganda membutuhkan lebih dari sekadar niat baik. Ia membutuhkan kebijaksanaan. Ia membutuhkan kecerdikan. Dan kadang, ia membutuhkan seni berpura-pura baik.

Bukan untuk menipu, tetapi untuk melindungi diri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel