Ads

Realistiskah Geografis Indramayu Menjadi Lahan Perkebunan Tebu?

Realistiskah Geografis Indramayu Menjadi Lahan Perkebunan Tebu?

Oleh Akang Marta



Kabupaten Indramayu selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Sawah membentang dari timur ke barat, sistem irigasi teknis menopang ribuan hektare pertanian, dan kehidupan sosial masyarakatnya bertaut erat dengan padi, palawija, serta perikanan pesisir. Namun belakangan muncul wacana dan praktik pengembangan lahan tebu di sejumlah wilayah. Pertanyaannya kemudian muncul: realistiskah secara geografis dan ekologis Indramayu dijadikan lahan perkebunan tebu?

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita tidak bisa hanya melihat potensi ekonomi, tetapi juga karakter alam, sejarah agraria, pola air, serta keberlanjutan sosial masyarakat Indramayu. Setiap komoditas memiliki “watak” geografis sendiri. Tebu bukan sekadar tanaman industri, melainkan tanaman yang sangat menuntut kesesuaian lahan, ketersediaan air, dan manajemen tanah jangka panjang.

Secara geografis, Indramayu berada di pesisir utara Jawa Barat dengan karakter dominan dataran rendah. Ketinggian wilayah rata-rata berkisar 0–50 meter di atas permukaan laut. Tanahnya didominasi aluvial muda hasil sedimentasi sungai besar seperti Cimanuk. Kondisi ini sejak lama cocok untuk tanaman padi sawah yang membutuhkan genangan, tekstur tanah liat, dan sistem irigasi stabil.

Tebu sendiri memang tumbuh baik di dataran rendah, tetapi memiliki syarat khusus: drainase harus baik, tanah tidak boleh terlalu jenuh air, dan pH tanah relatif seimbang. Tebu membutuhkan air cukup, namun tidak tahan terhadap genangan lama. Di sinilah muncul persoalan Indramayu. Banyak wilayahnya justru dirancang untuk menahan air, bukan membuangnya cepat. Sistem sawah irigasi teknis Indramayu dibangun untuk padi, bukan untuk tanaman perkebunan tebu.

Artinya, jika sawah dialihfungsikan menjadi tebu, perlu perubahan besar pada tata air: saluran, pematang, hingga struktur tanah. Tanpa rekayasa itu, tebu berisiko tumbuh tidak optimal, mudah terserang penyakit, atau menghasilkan rendemen rendah. Secara ekologis, ini bukan perkara murah atau sederhana.

Selain soal air, Indramayu juga dikenal dengan tingkat salinitas tertentu di wilayah pesisir. Intrusi air laut di musim kemarau sering masuk ke lahan pertanian. Padi relatif adaptif terhadap kondisi tertentu, tetapi tebu lebih sensitif terhadap garam. Jika tidak dikontrol, produktivitas tebu di lahan pesisir bisa menurun drastis. Maka, secara geografis murni, Indramayu bukan habitat ideal tebu jika dibandingkan dengan daerah-daerah tradisional tebu seperti Jawa Timur bagian selatan atau wilayah berdrainase baik.

Aspek iklim juga penting. Indramayu memiliki musim kering cukup panjang dan suhu tinggi. Ini memang baik untuk fase pematangan tebu, tetapi menjadi masalah jika ketersediaan air tidak stabil. Tebu memerlukan pasokan air konsisten sejak awal tanam sampai fase pembentukan batang. Di Indramayu, konflik air sering terjadi antara pertanian, rumah tangga, dan industri. Jika tebu masuk skala luas, tekanan terhadap air akan meningkat.

Dari sisi sosial-ekonomi, Indramayu telah membangun budaya padi selama puluhan tahun. Petani memahami kalender tanam, varietas, irigasi, dan risiko padi. Ketika lahan dipaksa beralih ke tebu, terjadi perubahan struktur kerja. Tebu adalah tanaman jangka panjang, panen 10–12 bulan, dan membutuhkan modal lebih besar. Tidak semua petani sanggup menunggu hasil lama atau menanggung risiko gagal panen tebu.

Lebih jauh, padi adalah pangan, tebu adalah industri. Jika terlalu banyak sawah produktif berubah menjadi tebu, maka ketahanan pangan lokal bisa terganggu. Indramayu bukan sekadar wilayah ekonomi, tetapi penyangga beras nasional. Menggeser fungsi lahan tanpa perhitungan matang berarti mempertaruhkan peran strategis daerah.

Dari perspektif kebijakan, pengembangan tebu sering dibungkus dengan jargon diversifikasi ekonomi dan swasembada gula. Secara nasional, itu tujuan baik. Namun kebijakan nasional harus berdialog dengan realitas lokal. Tidak semua daerah cocok menjadi basis tebu. Peta agroekologi seharusnya menjadi rujukan utama, bukan sekadar ketersediaan lahan luas.

Jika Indramayu dipaksakan menjadi sentra tebu, risiko ekologisnya adalah degradasi tanah. Tebu dikenal sebagai tanaman yang menyerap unsur hara cukup besar. Tanpa rotasi dan pemupukan tepat, tanah bisa cepat menurun kualitasnya. Sawah yang semula subur untuk padi bisa menjadi keras, miskin unsur organik, dan sulit dipulihkan.

Selain itu, penggunaan alat berat dan pola perkebunan skala besar dapat mengubah struktur kepemilikan lahan. Petani kecil berpotensi tersisih, digantikan sistem sewa atau kemitraan yang seringkali timpang. Dalam jangka panjang, petani kehilangan kedaulatan atas tanahnya sendiri.

Namun bukan berarti tebu sepenuhnya mustahil di Indramayu. Yang realistis adalah pengembangan terbatas, selektif, dan berbasis kajian agroklimat. Tebu bisa ditempatkan di lahan marginal, bukan sawah produktif. Bisa juga dikembangkan dengan sistem integrasi, bukan monokultur masif.

Pendekatan realistis berarti menempatkan Indramayu sesuai karakternya: basis pangan, bukan semata industri gula. Jika ingin menambah komoditas, harus melengkapi, bukan menggantikan fungsi utama. Tebu harus mengikuti geografi Indramayu, bukan geografi Indramayu dipaksa mengikuti tebu.

Pertanyaan “realistiskah Indramayu menjadi lahan tebu?” pada akhirnya kembali pada keberanian pemerintah dan pemangku kebijakan membaca alam. Alam tidak bisa dipaksa dengan kebijakan administratif. Ia hanya bisa diajak berdialog melalui ilmu, pengalaman petani, dan kehati-hatian jangka panjang.

Indramayu tumbuh dari sawah, air, dan masyarakat tani. Jika hari ini kebijakan pertanian mulai menjauh dari karakter geografis itu, maka risiko yang muncul bukan hanya gagal produksi, tetapi juga krisis sosial, pangan, dan lingkungan. Maka realistis atau tidaknya tebu di Indramayu bukan soal bisa tanam atau tidak, tetapi soal apakah kebijakan itu selaras dengan watak alam dan masa depan masyarakatnya.

Karena pertanian bukan sekadar menanam komoditas, melainkan merawat hubungan antara manusia, tanah, air, dan keberlanjutan hidup. Dan Indramayu, dengan segala kekhasannya, layak diperlakukan sebagai ekosistem pangan, bukan sekadar objek eksperimen industri.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel