Ads

Wong Modelan Mengkene Ora Pantes Dadi Panutan: Ketika Sifat Pribadi Menjatuhkan Harga Diri di Mata Dunia

 Wong Modelan Mengkene Ora Pantes Dadi Panutan: Ketika Sifat Pribadi Menjatuhkan Harga Diri di Mata Dunia

Oleh Akang Marta



“Wong modelan mengkene sing garepan dilorod dunyae kenang sifate dewek, bli pantes dadi panutan.” Kalimat ini terdengar keras, bahkan menyakitkan bagi sebagian orang. Namun justru karena keras itulah ia layak direnungkan. Ia bukan sekadar umpatan, melainkan peringatan sosial. Sebuah refleksi tentang bagaimana sifat dan perilaku seseorang dapat menjatuhkan martabatnya sendiri, bukan karena dunia yang kejam, tetapi karena sikap yang tak dijaga.

Dalam kehidupan sosial, panutan bukanlah gelar yang diberikan lewat jabatan, kekayaan, atau popularitas. Panutan lahir dari konsistensi sikap, dari kemampuan menjaga etika ketika tidak diawasi, dan dari kerendahan hati saat memiliki kuasa. Sayangnya, banyak orang hari ini ingin dihormati, ingin diikuti, ingin didengar, tetapi lupa merawat sifat dasar sebagai manusia yang beradab.

Wong modelan mengkene biasanya merasa dirinya paling benar. Ketika berbicara, ia tidak sedang berdialog, melainkan menghakimi. Ketika menegur, bukan untuk memperbaiki, tetapi untuk meninggikan diri. Ia ingin tampak unggul, meski harus merendahkan orang lain. Ironisnya, ia tidak sadar bahwa sikap seperti itulah yang perlahan melorotkan harga dirinya di mata dunia.

Dunia tidak selalu menilai dari apa yang kita ucapkan, tetapi dari bagaimana kita bersikap. Seseorang bisa pintar, berilmu, bahkan punya pengaruh luas. Namun jika sifatnya kasar, arogan, dan tidak punya empati, maka semua kelebihan itu akan tertutup oleh satu kekurangan besar: akhlak. Dalam jangka panjang, dunia akan mencatat bukan prestasinya, melainkan perangainya.

Banyak orang gagal memahami bahwa menjadi panutan bukan soal tampil sempurna, melainkan soal kejujuran dalam bersikap. Panutan bukan orang yang tidak pernah salah, tetapi orang yang tahu cara bersikap ketika salah. Wong modelan mengkene justru sebaliknya. Ketika salah, ia membela diri. Ketika dikritik, ia menyerang. Ketika diingatkan, ia merasa dihina.

Sifat semacam ini membuat seseorang sulit belajar. Ia terjebak dalam bayangan dirinya sendiri, merasa sudah sampai, padahal baru berjalan. Ia menutup telinga dari nasihat, tetapi membuka mulut lebar-lebar untuk mencela. Akibatnya, ia terasing perlahan. Bukan karena orang lain menjauhi tanpa alasan, tetapi karena sikapnya sendiri yang membuat orang enggan mendekat.

Dalam budaya Jawa, dikenal prinsip “ajining diri saka lathi, ajining raga saka busana”. Harga diri seseorang terlihat dari tutur kata dan sikapnya. Jika lisan dipenuhi amarah dan kesombongan, maka runtuhlah ajining diri itu. Dunia mungkin tidak langsung menghukumnya, tetapi waktu akan melakukan tugasnya: membuka tabir satu per satu.

Fenomena wong modelan mengkene semakin mudah terlihat di era media sosial. Banyak orang merasa berani karena bersembunyi di balik layar. Kata-kata kasar dilontarkan tanpa beban, fitnah disebar tanpa pikir panjang, dan merendahkan orang lain dianggap hiburan. Mereka lupa bahwa jejak digital adalah saksi bisu yang tidak pernah lupa.

Yang lebih memprihatinkan, sebagian dari mereka ingin menjadi panutan. Ingin diikuti, ingin dianggap tokoh, ingin suaranya didengar. Namun panutan tidak lahir dari teriakan, melainkan dari keteladanan. Tidak lahir dari cercaan, melainkan dari kesabaran. Ketika sifat pribadi penuh amarah dan iri, maka wajar jika dunia perlahan melorotkan posisinya.

“Sing garepan dilorod dunyae” bukan kutukan, melainkan konsekuensi. Dunia ini adil dengan caranya sendiri. Ia mungkin memberi panggung kepada orang yang salah untuk sementara, tetapi tidak selamanya. Ketika sifat buruk terus dipelihara, panggung itu akan runtuh. Tepuk tangan berubah jadi bisik-bisik, lalu menjadi keheningan.

Menjadi panutan membutuhkan kedewasaan. Dewasa dalam berpikir, berbicara, dan bersikap. Dewasa untuk menerima bahwa tidak semua hal harus dimenangkan, tidak semua perbedaan harus diserang. Wong sing pantes dadi panutan adalah mereka yang mampu menahan diri, bahkan ketika punya alasan untuk marah.

Tulisan ini bukan untuk menunjuk hidung siapa pun. Wong modelan mengkene bisa jadi ada di sekitar kita, bahkan bisa jadi pernah ada dalam diri kita sendiri. Karena pada dasarnya, setiap manusia punya potensi jatuh pada sifat-sifat yang merusak. Yang membedakan hanyalah kesediaan untuk bercermin dan berubah.

Jika ingin dihormati, mulailah dari menghormati orang lain. Jika ingin diikuti, mulailah dari memberi contoh. Jika ingin menjadi panutan, rawatlah sifat sebelum sibuk mengatur citra. Dunia tidak buta, ia hanya menunggu waktu untuk menunjukkan siapa yang benar-benar pantas.

Pada akhirnya, panutan bukan soal siapa yang paling lantang bicara, tetapi siapa yang paling konsisten menjaga sikap. Wong modelan mengkene, yang sifatnya merusak dirinya sendiri, mungkin masih bisa terkenal, masih bisa ramai diperbincangkan. Tetapi untuk menjadi panutan? Dunia sudah memberi jawabannya dengan tegas: ora pantes.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel