Harapan di Kolom Komentar: Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Doa Kolektif Menuju 2026
Harapan di Kolom Komentar: Ketika Media Sosial Menjadi Ruang Doa Kolektif Menuju 2026
Oleh Akang Marta
Di balik sebuah unggahan sederhana yang meminta orang-orang menyebutkan harapan mereka di Fbpro tahun 2026, tersimpan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lomba komentar berhadiah. Kolom komentar, yang biasanya dipenuhi candaan, debat, atau bahkan amarah, mendadak berubah menjadi ruang pengakuan. Tempat orang-orang menuliskan mimpi, doa, luka, dan harapan yang selama ini mungkin hanya mereka simpan sendiri.
Ajakan itu tampak ringan: sebutkan harapan, share postingan, tag bestie aktif. Hadiahnya pun jelas—uang elektronik, tanda cinta digital. Namun yang membuatnya menyentuh bukanlah nominal 50 ribu rupiah atau sepuluh emoji hati, melainkan keberanian orang-orang untuk jujur tentang apa yang mereka harapkan dari hidup di tahun 2026. Karena pada dasarnya, tidak semua orang berani mengungkapkan harapan. Sebab berharap berarti mengakui bahwa saat ini ada yang belum tercapai.
Di kolom komentar itu, kita bisa menemukan potret Indonesia dalam skala kecil. Ada yang menulis harapan sederhana: semoga tetap sehat, semoga orang tua panjang umur. Ada pula yang menulis dengan nada getir: semoga bisa keluar dari lilitan utang, semoga usaha kecilnya bertahan, semoga tidak lagi kehilangan pekerjaan. Harapan-harapan itu mungkin tampak biasa, tetapi bagi yang menuliskannya, itu adalah segalanya.
Media sosial sering dituduh sebagai ruang kepalsuan. Tempat orang memamerkan kebahagiaan palsu dan kesuksesan instan. Namun sesekali, seperti pada momen ini, media sosial berubah wajah. Ia menjadi ruang doa kolektif. Orang-orang yang mungkin tidak saling mengenal, terhubung oleh satu hal yang sama: keinginan untuk hidup yang lebih baik di masa depan.
Fbpro, bagi sebagian orang, bukan hanya platform monetisasi. Ia adalah harapan baru. Tempat orang-orang kecil mencoba bertahan di tengah ekonomi yang tidak selalu ramah. Di sana ada ibu rumah tangga yang berharap kontennya bisa menghasilkan untuk membantu dapur tetap mengepul. Ada pekerja lepas yang berharap algoritma berpihak agar karyanya dilihat lebih banyak orang. Ada anak muda desa yang berharap suaranya bisa sampai ke kota.
Ketika seseorang menulis harapan di kolom komentar, sesungguhnya ia sedang berbicara kepada dirinya sendiri. Ia sedang menguatkan niat, menegaskan mimpi, dan menyatakan bahwa ia belum menyerah. Apresiasi 50 ribu rupiah mungkin hanya bonus, tetapi pengakuan bahwa harapannya “menyentuh hati” adalah bentuk validasi yang jauh lebih berharga.
Syarat untuk membagikan postingan dan menandai teman-teman aktif pun memiliki makna sosial. Ia menciptakan jejaring harapan. Harapan tidak lagi berdiri sendiri, tetapi disebarkan, dibagikan, dan dirayakan bersama. Dalam proses itu, orang-orang saling membaca harapan satu sama lain, dan tanpa sadar belajar untuk lebih empati.
Ada satu komentar yang mungkin tidak menang hadiah, tetapi memenangkan hati banyak pembaca: “Harapan saya di 2026 sederhana. Saya ingin tetap waras di dunia yang makin bising, tetap jujur di tengah banyaknya jalan pintas, dan tetap bersyukur meski belum kaya.” Komentar seperti ini menyentuh karena jujur. Ia tidak menjanjikan kemewahan, tetapi keteguhan.
Di situlah letak kekuatan cerita-cerita kecil di media sosial. Mereka mengingatkan kita bahwa di balik setiap akun ada manusia dengan perjuangannya masing-masing. Bahwa tidak semua orang mengejar viralitas; sebagian hanya ingin bertahan. Tidak semua orang ingin kaya raya; sebagian hanya ingin cukup dan tenang.
Tahun 2026, bagi banyak orang, terasa dekat sekaligus jauh. Dekat karena kalender terus bergerak, jauh karena ketidakpastian masih membayangi. Namun dengan menuliskan harapan, orang-orang seolah membuat perjanjian dengan dirinya sendiri: jika masih diberi waktu, mereka ingin mencoba lagi. Lebih sabar, lebih tekun, lebih berani.
Ajakan sederhana di Fbpro ini mengajarkan satu hal penting: mendengarkan harapan orang lain adalah bentuk empati. Mengapresiasi harapan yang tulus adalah bentuk kemanusiaan. Dan memberi ruang bagi orang untuk bermimpi, sekecil apa pun, adalah bentuk kebaikan yang sering kita remehkan.
Pada akhirnya, bukan soal siapa yang mendapatkan e-wallet atau emoji hati. Yang lebih penting adalah momen ketika orang-orang berhenti sejenak dari hiruk-pikuk linimasa, lalu bertanya pada dirinya sendiri: apa sebenarnya yang aku harapkan dari hidup ke depan? Pertanyaan itu mungkin tidak langsung mengubah nasib, tetapi ia bisa mengubah arah.
Jika tahun 2026 benar-benar datang dengan segala tantangannya, semoga kolom komentar hari ini menjadi saksi bahwa kita pernah berharap, pernah berdoa, dan pernah saling menguatkan. Karena dalam dunia yang sering terasa dingin, harapan sekecil apa pun adalah bentuk kehangatan yang paling nyata.
