Keluarga Sakinah di Era Digital: Ketika Kehangatan Rumah Mulai Dikalahkan Layar
Di banyak rumah hari ini, pertengkaran tidak selalu diawali oleh masalah ekonomi atau perselingkuhan. Kadang ia berawal dari sesuatu yang tampak sederhana: layar ponsel.
Suami sibuk menggulir media sosial setelah pulang kerja. Istri tenggelam dalam berbagai konten yang terus bermunculan tanpa henti. Anak-anak pun lebih akrab dengan gawai daripada percakapan bersama keluarga. Rumah memang masih berdiri, tetapi kehangatan yang dahulu menjadi ruh keluarga perlahan memudar.
Fenomena ini semakin terasa dalam kehidupan masyarakat modern. Kita hidup di tengah kemajuan teknologi yang luar biasa. Informasi datang begitu cepat, komunikasi menjadi mudah, dan berbagai kebutuhan dapat dipenuhi hanya dengan sentuhan jari. Namun di balik semua kemudahan itu, muncul tantangan baru yang jarang disadari: krisis kedekatan dalam keluarga.
Belakangan ini, berbagai media ramai membahas meningkatnya kecanduan digital pada anak maupun orang dewasa. Tidak sedikit pasangan yang mengeluhkan minimnya komunikasi di rumah karena masing-masing lebih fokus pada layar daripada orang yang berada di sampingnya. Situasi ini mungkin tidak terlihat sebagai masalah besar, tetapi jika dibiarkan terus-menerus dapat menjadi bibit berbagai konflik rumah tangga.
Padahal dalam Islam, keluarga bukan sekadar tempat berkumpul secara fisik. Keluarga adalah ruang tumbuhnya kasih sayang, ketenangan, dan rasa saling memahami. Al-Qur'an menggambarkan tujuan pernikahan dengan kata sakinah, mawaddah, warahmah. Tiga kata yang sering kita dengar dalam doa pernikahan, tetapi sering pula kita lupakan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.
Sakinah berarti ketenangan. Mawaddah berarti cinta yang diwujudkan dalam tindakan nyata. Sementara rahmah adalah kasih sayang yang membuat seseorang tetap bertahan dan peduli bahkan ketika keadaan tidak selalu menyenangkan.
Pertanyaannya, bagaimana ketiga nilai itu dapat tumbuh jika anggota keluarga lebih sering berbicara dengan layar daripada berbicara satu sama lain?
Sebagai mahasiswa Hukum Keluarga, saya melihat persoalan ini bukan hanya masalah teknologi, melainkan juga masalah relasi keluarga. Banyak pasangan merasa tinggal dalam satu rumah, tetapi sebenarnya hidup dalam dunia masing-masing. Komunikasi yang seharusnya menjadi fondasi keluarga perlahan tergantikan oleh notifikasi, video pendek, dan berbagai kesibukan digital lainnya.
Fenomena ini mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya nyata. Banyak konflik rumah tangga berawal dari kesalahpahaman yang tidak pernah dibicarakan dengan baik. Banyak anak merasa kesepian meskipun kedua orang tuanya berada di rumah. Bahkan tidak sedikit pasangan yang kehilangan kedekatan emosional karena waktu berkualitas bersama semakin berkurang.
Di sinilah pentingnya menghidupkan kembali makna keluarga sakinah. Membangun keluarga harmonis tidak selalu membutuhkan hal-hal besar. Kadang cukup dimulai dari kebiasaan sederhana: makan bersama tanpa ponsel, meluangkan waktu berbincang setelah salat Magrib, atau mendengarkan cerita anggota keluarga tanpa tergesa-gesa.
Dalam perspektif saya sebagai mahasiswa hukum keluarga, menjaga keutuhan rumah tangga bukan hanya soal memenuhi hak dan kewajiban secara formal. Lebih dari itu, ada tanggung jawab moral untuk menghadirkan suasana yang menenangkan bagi seluruh anggota keluarga. Suami dan istri tidak hanya dituntut menjadi pasangan, tetapi juga sahabat yang saling mendengarkan.
Pesantren sebenarnya memiliki nilai-nilai yang sangat relevan untuk menjawab tantangan ini. Tradisi musyawarah, kebersamaan, penghormatan kepada orang lain, serta budaya saling mendengar merupakan modal sosial yang penting dalam membangun keluarga yang sehat. Nilai-nilai tersebut perlu terus dirawat agar tidak terkikis oleh budaya serba instan yang berkembang di era digital.
Kita tentu tidak bisa menolak perkembangan teknologi. Teknologi adalah bagian dari kehidupan modern yang membawa banyak manfaat. Yang perlu dilakukan adalah mengelolanya dengan bijak agar tidak mengambil peran yang seharusnya dimiliki keluarga.
Jangan sampai rumah yang seharusnya menjadi tempat pulang paling nyaman justru berubah menjadi sekumpulan orang yang hidup bersama tanpa benar-benar saling mengenal. Jangan sampai kita memiliki koneksi internet yang kuat, tetapi kehilangan koneksi hati dengan orang-orang terdekat.
Keluarga sakinah tidak lahir dari rumah yang mewah atau kehidupan yang selalu sempurna. Ia tumbuh dari komunikasi yang hangat, perhatian yang tulus, dan kesediaan untuk hadir sepenuhnya bagi orang-orang yang kita cintai.
Di tengah derasnya arus digitalisasi, mungkin sudah saatnya kita kembali bertanya: apakah teknologi yang kita gunakan hari ini mendekatkan anggota keluarga, atau justru menjauhkan mereka?
Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan seperti apa wajah keluarga Indonesia di masa depan.
Profil Singkat Penulis:
Sahal Abdul Qohar, Mahasiswa UIN Jakarta, Program Studi Hukum Keluarga, Fakultas Syariah dan Hukum. Memiliki minat pada isu hukum keluarga, perlindungan anak, dan kajian sosial keagamaan. Aktif menulis artikel opini di media berbasis pesantren dan kepemudaan.
No. Hp. 081572244301

Belum ada Komentar untuk "Keluarga Sakinah di Era Digital: Ketika Kehangatan Rumah Mulai Dikalahkan Layar"
Posting Komentar