http://www.google.com/2005/gml/expr'> PEMBERONTAKAN BAGUS RANGIN DI INDRAMAYU 1802 - Indramayu Tradisi
SELAMAT DATANG ! Anda sedang mengunjungi website terbaik dan terpercaya di Indramayu dan sekitarnya. Silahkan PASANG IKLAN ANDA DISINI

PEMBERONTAKAN BAGUS RANGIN DI INDRAMAYU 1802


Berikut kisah pemberontakan Ki Bagus Rangin dari terjemahan kitab Babad Dermayu II :



Wiralodra adalah putra ketiga dari Raden Gagak Singalodraka. Ia memiliki dua kakak, Raden Tanuwangsa dan Raden Tanuyuda; dan dua adik, Raden Tanujaya dan Raden Tanujiwa.
Suatu hari Wiralodra tertidur di dekat pohon kiara tepat di tepi sungai karena kelelahan mengejar kijang. Di dalam tidurnya ia bermimpi bahwa, tepi sungai tempat ia tertidur bernama Sungai Cimanuk, wilayah yang sudah lama dicarinya. Bersama Ki Tinggil tempat itu dibangun hingga menjadi Dukuh Cimanuk. Pada masa pembangunan, Nyi Endang Darma Ayu bersama 40 pengawalnya ikut membantu. Perempuan itu cantik jelita sekaligus sakti mandraguna. Dikabarkan bahwa kesaktiannya mampu mengalahkan Pangeran Guru, putra Syekh Tarja, cucu Aryadillah. Pangeran Guru berasal dari Palembang. Sumber lain menyebut ia dari Mesir, nama lainnya adalah Bahrul Samsudi.

Darma Ayu menolak ketika akan diperistri oleh Wiralodra. Sang putri hanya berpesan kepada Wiralodra untuk mengganti dukuh Cimanuk menjadi namanya, Darma Ayu, atau Darmayu (sekarang Indramayu). Dalam waktu singkat Darmayu didatangi banyak orang dari berbagai wilayah, sehingga menjadi ramai. Wiralodra memiliki empat anak: Sutamerta, Ayu Inten, Wirapati, dan Drayantaka.
Berita berdirinya Dukuh Darmayu dilaporkan ke Sultan (diduga sultan itu bernama Syarif Hidayatullah) oleh Patih Waru Angkara dan Patih Anggasura (dari Kuningan), setelah mereka berdua kalah berkelahi dengan Wiralodra. Sampai di Puser Bumi (Cirebon), mereka melapor kepada Sultan, dan menceritakan keburukkan Wiralodra. Tanpa diketahui, ternyata Wiralodra mengikutinya dari belakang, dan menyampaikan berita sebenarnya kepada Sultan. Wiralodra pun diizinkan. Persoalan itu tidak diketahui oleh Ki Tinggil, karena ia sedang bersama Bayantaka, Jayantaka, Surantaka, Wanasara, Jagasara, Puspahidah, Puspajaya, dan Ki Pulaha. Setelah Wiralodra wafat, yang menggantikan Dalem Darmayu (Bupati Indramayu) adalah putranya yang ketiga, Wirapati.
Suatu hari Wirapati kedatangan tamu bernama Werdinata, dari Pulo Mas, hendak melamar kakaknya, Nyi Ayu Inten. Oleh karena tidak direstui, terjadilah peperangan, dan Darmayu kalah. Konsekuensinya, keluarga dalem harus menyerahkan Ayu Inten untuk diperistri, dengan syarat akan terus membantu anak keturunannya setiap ada peperangan. Werdinata menyanggupi persyaratannya. Akhirnya, mereka menikah, dan memperoleh keturunan bernama Bagus Waringin Anom. Kemudian mereka pulang ke Pulau Mas bersama anak dan istrinya.


Di Sumedang, seorang mantri melaporkan kepada Dalem Ardikusuma, bahwa wilayahnya akan dipaksa tunduk kepada Dalem Ciamis, Dipasanah, yang memiliki pasukan dedemit. Dalem Sumedang adalah musuh dari Dalem Kuningan, Ki Gadiksura, yang mengandalkan kekuatan wadyabala. Peperangan dua kekuatan itu berhasil dimenangkan oleh Kuningan.
Ardikusuma mengutus delegasi, meminta bantuan Darmayu. Bagus Wirapati yang saat itu sedang berbincang bersama saudara-saudaranya, menyatakan siap membantu. Wirapati segera memanggil pasukan dari Pulo Mas. Akhirnya, terjadilah peperangan besar antara pasukan dedemit Ciamis dengan pasukan lelembut asal Pulo Mas, sedangkan pasukan gabungan Ciamis-Kuningan berhadapan dengan pasukan gabungan Sumedang-Darmayu. Pasukan Ciamis beserta para dedemitnya, juga Kuningan, dapat dikalahkan. Sebagai imbalannya, kepala Negara Pulo Mas, Bagus Waringin Anom, diberi seorang putri oleh Ardikusuma, sementara Bagus Wirapati diberi hadiah dua desa: Sokawanah dan Legok. Setelah itu, mereka pulang ke negaranya masing-masing.

Bagus Wirapati beristri empat, dan memiliki sebelas anak: Raden Kohi, Raden Timur, Raden Wirantaka, Raden Wira Atmaja, Raden Wirantanu, Raden Astrasuta, Raksa Diwangsa, Raden Nayawangsa, Raden Nayasastra, Raden Puspataruna, dan Sastranaya. Setelah Wirapati wafat, kedudukan dalem beralih ke putra sulungnya, Raden Kohi. Dalem baru ini memiliki empat putra: Raden Benggala Wiralodra, Raden Benggali Singalodra, Raden Singawijaya, dan Raden Istriwinata.
Selanjutnya, Raden Kohi melimpahkan kekuasaannya kepada Raden Benggala Wiralodra, tetapi Raden Benggali Singalodra tidak menghendakinya, ingin merebut jabatan dalem, sehingga terjadi pertikaian. Perseteruan baru berhenti setelah Tuan Selutdriyan di Batavia memutuskan bahwa mereka berdua dapat menduduki jabatan dalem masing-masing tiga tahun. Keputusan itu disampaikan melalui utusannya, kakak beradik pun menyetujuinya. 

Benggala Wiralodra merasa sangat malu saat posisinya digeser oleh adiknya. Oleh karenanya ia lebih memilih tinggal dari masjid ke masjid, ziarah ke makam para leluhur, dan berkelana ke Cirebon. Dalam perjalanan itu, putra Benggala Singalodra, Raden Kertawijaya, turut mendampingi. Di Cirebon, Benggala diangkat menjadi ulama (kiai syariat) sementara Kartawijaya menjadi Mantri Istana. Tempat tinggal mereka di Panjunan. Kertawijaya menikah dengan putri Panjunan, Nyi Ratu Atma. Tidak lama setelah Kertawijaya pindah ke Kajaksan, ia diberi tugas untuk menjaga perbatasan Darmayu dengan membawa 40 prajurit. 

Selanjutnya, yang menjadi Dalem Darmayu adalah Raden Semangun Singalodraka. Pada masa ini banyak sekali pemberontakan, sebagaimana dilaporkan oleh Patih Astrasuta dan Patih Purwadarnata. Pemberontakan yang dipimpin oleh Bagus Urang, Bagus Rangin, dan Bagus Persanda itu dapat dikalahkan oleh pasukan kedua patih tersebut. Markas para pemberontak berada di Pamayahan. Para pemimpin pemberontakan memberi peringatan kepada orang- orang Cina agar tidak ikut campur dalam perseteruan. Orang-orang Cina pun sepakat, selama rumahnya tidak dirusak dan harta bendanya tidak dijarah. 

Kepada Demang Wangsanaya, Raden Semangun mengutus untuk membawa surat ke Batavia, memberitahukan bahwa Negara Darmayu sedang dilanda kerusuhan. Selang beberapa waktu, penguasa Batavia (kemungkinan Daendels) mengirim 300 tentara yang dipimpin oleh Tuan Kapten Letnan I dan Letnan II ke Darmayu. Ki Patih Raden Kartawijaya turut membantu melakukan pemberantasan terhadap para pemberontak. Mereka lari tunggang langgang menuju markasnya. Salah seorang pemimpin pemberontakan bernama Nyi Ciliwidara menghilang karena terkena tiwikrama (menjadi raksasa) Kartawijaya. Sebelum pulang ke Cirebon, Kartawijaya melaporkan peristiwa itu ke Dalem Darmayu. 

Para pemberontak (berandal) juga diburu oleh orang-orang Cina Celeng dan Cina Baru yang dipimpin oleh Kai Beng dan Lai Seng. Mengetahui bahwa kelompoknya akan diburu, para kebagusan membuat jebakan di jembatan, di sungai Bantarjati. Tidak ada yang berani melewati jembatan itu kecuali Patih Astrasuta. Sampai di titik jebakan, jembatan dihancurkan, sehingga Astrasuta dan para pengiringnya yang membawa payung terjatuh. Mereka dikeroyok, Patih Astrasuta ditusuk oleh Kiai Serit dengan tombak Si Wedang hingga tewas. Tempat dimakamkannya Patih Astrasuta kemudian dinamakan Ki Buyut Rengas Payung. 

Seorang utusan pemberontak, Ki Dhulangsere, datang membawa surat tantangan perang yang ditujukan kepada Ki Gedeng Pecung dan Kiai Kreti. Saat itu Kiai Kreti sedang bersama anak-anaknya: Ki Grudug, Ki Gintung, Ki Sindanglaya, Ki Jakapatuwakan (pemilik pusaka Penjalin Wulung), dan Jigjakreti. Pembawa surat lari kencang menuju markas karena diserang, lalu melapor ke para kebagusan. Perihal tantangan itu ternyata diketahui oleh Kanjeng Raja Kumpeni di Batavia (Daendels). 

Akhirnya, perang besar pun tak terhindarkan. Dalam peperangan itu, dua mantri pemberontak, Ki Leja dan Ki Sene tertangkap, sementara Bagus Rangin masih terus berkelahi hingga berhasil menumbangkan Ki Grudug dan Ki Jigjakreti. Bagus Rangin baru bisa dikalahkan oleh Ki Wirasetro dengan ajian tiwikrama. Wirasetro dan keempat mantrinya, Surakreti, Jayamegala, Jijakarya, dan Jayakreti adalah orang yang pernah membantu perang Ki Pecung di Pegaden Baru. Semua pemberontak seketika menghilang. Akan tetapi, dua tawanan yang tertangkap berhasil melarikan diri terjun ke Sungai Citarum saat akan dibawa ke Batavia. 

Berita kaburnya Mantri Ki Leja dan Ki Sene disampaikan Raden Kartawijaya dan Raden Welang kepada Dalem Darmayu dan komandan Belanda di Palimanan. Namun demikian, kepada komandan Belanda dan pasukannya, mereka berdua berbalik menyerang karena tidak diizinkan meminta minum air sumur. Akibatnya, banyak tentara tewas. Komandan mengirim surat ke Batavia. Beberapa hari setelah surat diterima, jenderal mengirimkan 40 tentara ke Cirebon untuk menangkap dua orang itu. Mereka ditangkap lalu dibawa ke Batavia; Kertawijaya membawa keris Si Klewang, Raden Welang membawa keris Si Dumung. Sampai disana ia diadili, dan akan dihukum tembak. Akan tetapi, sebelum dieksekusi mati mereka mengamuk sehingga banyak tentara Belanda yang tewas. Kertawijaya dan Raden Welang baru dapat dikalahkan setelah dilumpuhkan dengan peluru intan. Tragedi itulah yang mengakibatkan Cirebon diserang oleh tentara Batavia. 

Kemudian, tentara Batavia berangkat menuju Cirebon. Di sana mereka disambut dengan serangan Sultan Matangaji, Pangeran Suryakusuma, Pangeran Martakusuma, Pangeran Pekik, Pangeran Logawa, dan Pangeran Penghulu Dulkasim. Tentara Batavia lari ke Mataram meminta bantuan karena kalah berperang. Saat itu Sultan Mataram sedang berbicara dengan teman-temannya: Pangeran Purobaya, Pangeran Natabumi, Pangeran Buminata, Pangeran Pakualaman, dan Pangeran Pakunagara. Tentara Belanda datang menghadap. Sultan Mataram siap membantunya dengan mengeluarkan kebijakan bahwa luas kekuasaan Cirebon dibatasi menjadi 1000 kilometer persegi. Sejak saat itu pula nama ‘dalem’ dihilangkan. Kebijakan itu diterima oleh Raden Semangun. Setelah dalem wafat lalu diganti oleh putranya, Raden Krestal. Raden Krestal memiliki enam putra: Raden Marngali, Ki Wiradibrata, Nyi Empuh, Nyi Pungsi, Nyi Otama, dan Bagus Kalib (Demang Yogya) atau Tambak Emas Bangkir. 

Akhirnya, Bagus Serit, Nyi Ayu Sumenep (Putri Bagus Serit), Bagus Rangin, Bagus Kandar, Bagus Leja, dan Bagus Urang, hijrah ke arah ke Barat. Mereka memasuki hutan Sinang, Cikole, Legoksiu, dan Dulangsontak. Dalam perjalanan itu mereka menyeberangi sungai Cilanang, Cibinuwang, Cipedang, Cilege, Cipancu, Ciwidara, Koceyak, Parungbalung, hingga melewati Sungai Cipunagara dan Cigadung. 

Sampai di Cigadung, para kebagusan membuat pondok. Di sana mereka memiliki kegemaran berbeda, ada yang senang berburu binatang di hutan, ada pula yang gemar menangkap ikan di Rawateja, seperti Ki Bagus Leja. Tempat biasa Ki Bagus Rangin duduk merenung di bawah pohon jati kelak dikenal dengan nama Jatilima, sedangkan tempat berkumpulnya kebagusan di sungai Cigadung dinamakan sungai Ciagur. Mereka selalu berpindah dari satu tempat ke lain tempat, melewati perbatasan Pagaden, distrik Pamanukan, Tegalslawi, perbatasan Subang, dst. 
Selama bermukim dua tahun di daerah Pamanukan, banyak orang datang menjadi murid, mengaji ilmu kesaktian atau kejayaan. Para kebagusan berencana akan menaklukan Ki Gedeng Pecung dan akan mengirimkan surat tantangan perang lagi kepada pihak yang menghalanginya jika sudah menghimpun kekuatan.


Sudut Pandang Kolonial Hindia Belanda
Seperti diuraikan di atas, naskah Pabean dan naskah Sri Baduga (tahun 1900), ditulis pada waktu yang berdekatan. Dalam proses penyusunan itu, peran pemerintah Hindia Belanda yang kedudukannya sudah mapan tidak boleh disisihkan karena di dalamnya terdapat suatu pandangan atas mereka yang dianggap sebagai pemberontak.

Digambarkan dalam naskah, para pemberontak itu menakutkan, berandal, selalu membelot, memberontak, pemerkosa, tidak patuh pada aturan pemerintah, dan pelbagai macam tindakan destruktif lainnya. Stereotip yang dilekatkan pada para kebagusan tersebut terus diinternalisir oleh masyarakat Indramayu (khususnya), melalui tradisi penyalinan dan tradisi lisan (cerita tutur). Selama setengah abad lebih naskah-naskah itu diproduksi hingga menghasilkan 13 naskah yang kebanyakan di antaranya memuat citra buruk para kebagusan. Bahkan, dalam seni pertunjukan Sandiwara, seorang pemimpin pemberontakan, Bagus Rangin, menjelma menjadi sosok buta menyeramkan. Sebaliknya, pihak Hindia Belanda yang diwakili oleh Gubernur Jendral Daendels disebut Gusti Kanjeng Raja Kumpeni, bijaksana, suka menolong, tegas, dan gagah berani.

Jika memang dikotomi ini benar adanya, penumpasan atas kelompok Bagus Rangin semestinya didukung oleh masyarakat sekitar. Kenyataannya, dimana pun gerombolan kebagusan berada selalu mendapatkan dukungan dari masyarakat. Mereka yang melakukan penumpasan adalah tentara Hindia Belanda, orang Cina, dan pasukan dalem Indramayu, alih-alih penduduk pribumi. Bahkan, dengan mudahnya para kebagusan merekrut anggota baru setiap kali mereka masuk ke pedesaan. Dari sini kita mafhum, betapa kuatnya campur tangan pemerintah Belanda dalam mempengaruhi kesusastraan pribumi, hal yang sangat mungkin terjadi bagi karya sastra lainnya.


Kondisi Cirebon

Sulit rasanya memisahkan Cirebon dari Indramayu, baik secara historis maupun secara kebudayaan. Hingga menjelang kemerdekaan dua daerah tersebut masih dalam satu atap, Karesidenan Cirebon. Pemenggalan wilayah administratif seperti sekarang baru dilakukan pasca kemerdekaan Indonesia. Dalam persoalan kesusastraan pun demikian, hampir semua genre naskah Indramayu bersumber dari naskah Cirebon. Munculnya pemberontakan di Indramayu juga dilatarbelakangi oleh persoalan yang timbul di Keraton Cirebon.

Menurut Ekadjati dkk. (1990: 98—101), terjadinya pelbagai pemberontakan di wilayah Cirebon disebabkan oleh pihak Belanda mengangkat Pangeran Surantaka sebagai raja yang tidak disukai masyarakat. Seharusnya, yang berhak menggantikan Sultan Anom (wafat 1798) adalah Pangeran Suryanegara. Gejolak pemberontakan semakin besar ketika Raja Kanoman diasingkan ke Ambon (1802) oleh Belanda, sehingga pada tahun 1805 rakyat menuntutnya untuk dibebaskan. Peristiwa ini menjadi titik awal intervensi langsung Hindia Belanda atas Cirebon.

Pada tanggal 1 Juli 1806, Albertus Henricus Wiese mengirim surat pemberitahuan kepada Nicolas Engelhard yang berisi informasi kian memburuknya situasi Cirebon. Wiese memerintahkannya agar satu kompi pasukan Madura dikirimkan untuk menangani huru-hara. Bersama Pangeraan Sicodiningrat, putra sulung Panembahan Madura, Engelhard berangkat ke Cirebon dengan membawa satu bataliyon militer. Sampai di sana, tak seorang pun bisa dimanfaatkan oleh Engelhard untuk mengakhiri pemberontakan, sebagaimana disampaikan mantan Residen Cirebon yang tidak mampu menghentikan kerusuhan, Walbeck. Pada saat yang sama penyakit epidemi mewabah. Pemberontakan baru mereda setelah Engelhard menyetujui surat dari Bagus Sidong dan kedua putranya, Bagus Arisim dan Bagus Suwasam, pada 13 Juli 1806. Adapun isi surat tersebut adalah: mengembalikan Raja Kanoman, Raja Laut, dan Raja Kabupaten; menyingkirkan orang Cina; dan menjauhkan tentara Batavia, pasukan dalem Indramayu, Sukasari, dan Tomono (Marihandono, 2003: 12―14).

Tuntutan mengembalikan Raja Kanoman hingga hak-haknya dipulihkan baru terpenuhi ketika Daendels menduduki Jawa. Kendati demikian, ia menolak bekerja sama, oleh karenanya Raja Kanoman kembali dibuang pada tahun 1810. Kemudian Daendels membagi Cirebon menjadi dua, dan keduanya harus patuh kepada kekuasaan residen-residen Belanda. Di sepanjang pemerintahan Daendels ini pemberontakan bersenjata tidak pernah berhenti. Akibatnya, gubernur jendral itu menghapus dua kesultanan yang baru dipecahnya untuk selamanya (Lombard, 2000: 80). Akan tetapi, pada tanggal 13 Maret 1809 Daendels kembali memecah Cirebon menjadi tiga daerah, dan kedudukan sultan sama dengan bupati. Indramayu adalah salah satu wilayah administratif Karesidenan Cirebon bagian utara, yang pada tahun 1809―1815 dikepalai oleh Sultan Panembahan Kacirebonan (Hardjasaputra dan Haris, 2011: 131―134). Menginjak masa Raffles, para pemegang jabatan kesultanan yang sah hanya diberi uang pensiun. Posisi para pejabat itu tergantikan oleh bupati-bupati (Lombard, 2000: 80).

Situasi Cirebon belum juga membaik setelah Inggris menggantikan Belanda (waktu itu dibawah Prancis). Raffles (1812—1816) mengeluarkan kebijkan berupa pungutan pajak tanah pusaka dalam bentuk sewa tanah setelah Daendels menghilangkan pemilikan tanah sultan pada tahun 1808. Mereka yang memiliki tanah pusaka mendapat ganti rugi. Kebijakan ini ternyata tidak memberikan kepuasanbagi anggota kerabat dan pejabat-pejabat sultan, karena dalam praktiknya sering kali dikorupsi oleh pegawai pemerintah (Kartodirjo, 1984: 61).

Pemberontakan kembali meletus di beberapa desa, antara lain Kedondong Cirebon, yang dikenal dengan Perang Kedondong. Di desa itu pasukan Bagus Rangin dihadang oleh tentara Cirebon dan tentara Belanda bersenjata api. Dua pasukan gabungan tersebut berhasil memukul mundur pemberontak. Dengan tetap semangat, gerombolan pemberontak berlarian ke Desa Kaliwedi, Arjawinangun, Cirebon mengajak penduduk setempat untuk melakukan perlawanan. Akan tetapi, mereka kembali diserang sehingga banyak pemberontak yang tewas.

Hingga tahun 1816 pemberontakan terus bergejolak. Bagus Rangin dan putranya, Bagus Kandar, berperan besar dalam pemberontakan itu. Dengan mudah mereka mengajak sejumlah kepala desa untuk memberontak, dan hasilnya tidak sia-sia, banyak yang turut bergabung. Bahkan, salah seorang pemimpin pemberontakan, Bagus Serit, berhasil merekrut 50 kader bersenjata lengkap di Desa Babadan dalam waktu singkat. Ia juga pernah menyampaikan surat anjuran menghasut dan memberontak kepada tiga sultan Cirebon (Kacirebonan, Kanoman, dan Kaprabonan) yang berisi ajakan bergabung untuk membebaskan Cirebon dari tangan kolonial. Akan tetapi, oleh Sultan Sepuh surat itu justu diberikannya kepada Residen Servatius (Van der Kemp, 1979: 15; 44—45).


Pemberontakan di Indramayu pada Awal Abad ke-19
Sesungguhnya pemberontakan penduduk Indramayu yang dipimpin oleh para kebagusan adalah wujud ekspresi antipemerintah pribumi (Indramayu dan Cirebon), Hindia Belanda, dan orang Cina. Pemberontakan itu sedikitnya berlangsung selama tiga generasi, dari Raden Benggala Wiralodra, Raden Benggali Singalodra, hingga Raden Semangun Singalodraka. Kendati pun detail keterangan waktu tidak dijelaskan secara eksplisit, tetapi terdapat beberapa sumber terkait, baik sejarah maupun babad, yang dapat digunakan sebagai penunjang untuk mengidentifikasi kronologi peristiwa.


Sebab Terjadinya Pemberontakan
Sejak Benggali Singalodra mengirim surat kepada Adriyan Theodor Vermuelen di Batavia, hubungan Indramayu dan Hindia Belanda mulai terjalin. Berdasarkan tradisi yang ada, pengangkatan bupati layaknya raja, harus dilimpahkan kepada putra sulung (kecuali wafat atau perempuan), namun Benggali Singalodra memutus mata rantai tradisi itu dengan melibatkan pihak pemerintah Batavia, saat berebut kekuasaan dengan Benggala Wiralodra. Surat yang dikirim ke Batavia berisi permohonan agar Benggali Singalodra menjadi bupati. Keputusannya, mereka berdua dapat menduduki jabatan bupati masing-masing tiga tahun, diawalai oleh Benggala Wiralodra, walaupun harus ditunda selama lima bulan. Pascakonflik tidak lagi ada bupati kecuali ditunjuk langsung oleh gubernur jendral, dan prosesi pengangkatannya harus diketahui oleh pemerintah Hindia Belanda. Permasalahan keluarga bupati itu terjadi pada masa pemerintahan Gubernur Jendral Johannes Siberg (1801—1805).

Inisiatif Benggali Singalodra mengirim surat ke Adriyan Theodor tentu saja didukung oleh pemerintah Batavia, karena sesungguhnya mereka tidak menghendaki pergantian bupati, juga sultan, secara turun-temurun tetapi dengan cara ditunjuk. Perihal demikian pernah dipraktikan pada Raden Simuk atau Muchamad (1800―1809), pribumi pertama yang diangkat langsung oleh pemerintah Hindia Belanda (Hardjasaputra dan Haris, 2011: 134).

Sekitar pertengahan masa pemerintahan Benggali Singalodra, gubernur jendral Johannes digantikan oleh Albertus Hendricus Wiese (1805―1808). Hampir tidak ada permasalahan yang tampak di intern keluarga bupati karena sudah ada kesepakatan sehubungan dengan jabatan bupati yang telah diputuskan oleh Johannes Siberg. Bersama putranya, Kartawijaya, Benggala Wiralodra meninggalkan Indramayu menuju Kejaksan, Cirebon. Meskipun sudah memutuskan keluar dari lingkaran keluarga akan tetapi tidak menjadi oposisi bagi pemerintahan adiknya, juga tidak turut menggalang kekuatan bergabung dengan para pemberontak yang sudah bermunculan di desa-desa. Sebaliknya, mantan bupati itu memilih belajar dan mengaji, menjadi seorang ulama, sementara anaknya menjadi komandan perang, menjaga perbatasan Indramayu atas perintah perintah Sultan Kacirebonan.

Tiga tahun sudah pemerintahan Benggali Singalodra, jabatan bupati berikutnya dilimpahkan kepada putra kelimanya, Raden Semangun Singalodraka, sesuai dengan yang diharapkan pemerintah Hindia Belanda. Penobatan Raden Semangun sebagai bupati itu atas perintah gubernur jendral, bertepatan dengan masa pemerintahan Daendels. Pada masa inilah pemberontakan besar bermunculan di berbagai tempat, yang dikepalai oleh para kebagusan sebagaimana yang dilaporkan Patih Astrasuta dan Patih Purwadarnata kepada dalem. Pada saat yang sama, beberapa desa yang kini masuk dalam kecamatan Karangampel, Juntinyuat, dan Krangkeng, wabah epidemi meluas, penduduk terjangkit penyakit kusta. Pemerintahan Raden Semangun tampaknya berlangsung singkat juga, kurang lebih 2—3 tahun, lalu segera digantikan oleh Sultan Panembahan Kacirebonan pada tahun 1809―1815.

Di tangan Daendels, pengangkatan semua demang harus diketahui residen. Sedikitnya ada 5 demang yang ada di Indramayu: Kertahuda Demang Lohbener; Wiraksana Demang Lohbener; Mangundira Demang Bangodua; Marngali/ Wirakusuma Demang Paseban; Subrata Demang Wulungmalang (pupuh kasmaran, naskah Sri Baduga); dan Wangsanaya Demang Indramayu. Artinya, kontrol Daendels tidak berhenti di pemerintahan dalem, melainkan sampai ke para demang. Kedudukan para demang tersebut bergantung pada pemerintah Hindia Belanda, seperti disebutkan dalam pasal 6 dan pasal 26: demang diangkat oleh sultan atas pengetahuan reseden, dan tidak ada pemecatan kecuali diketahui residen. Pasal tersebut adalah salah satu hasil kesepakatan antara Kesultanan Kanoman dan Kasepuhan dengan Hindia Belanda (Marihandono, 2003: 15—16).

Penjualan tanah kepada orang Cina beberapa tahun sebelumnya, juga menjadi masalah tersendiri sekaligus menjadi bom waktu yang berakibat buruk bagi keadaan Indramayu. Cina di daerah ini berasal dari Batavia, sebagai akibat dari peperangan Jawa selama 17 tahun pada abad ke-18. Mereka berlari mengikuti daerah pesisir pantai utara dari Batavia ke arah timur (lihat Ricklefs, 2007: 139).

Secara umum, tanah-tanah partikelir tersebut mulai muncul sejak tahun 1602— 1799, berlanjut ke masa Daendels, Raffles, John Fendall, hingga Van der Capellen (1820). Pemilik tanah berhak memberlakukan berbagai macam pajak, yang tentunya merugikan penduduk pribumi. Bahkan, praktik penjualan tanah tidak hanya meliputi tanah dan berbagai jenis tanaman, melainkan dengan petaninya juga (Pusponegoro dan Notosusanto, 2008: 400). Distrik Eretan Kulon, Kandanghaur, Cikedung, Pasekan, dan Lohbener adalah tanah partikelir yang sudah lama dijual kepada orang Cina: Cina Celeng dan Cina baru. Tidak heran jika di Kandanghaur dan Lohbener, Cina Celeng menjadi sasaran pemberontakan sejak tahun 1802 (Ekadjati dkk., 1990: 99). Demikian pula penduduk Desa Pamayahan, Bantarjati, Celeng, dan Cikedung, mereka ikut memberontak. Di Cikedung, pemberontakan itu berlangsung dari tahun 1806 hingga tahun 1812.

Perihal serupa juga dialami penduduk Cirebon. Marihandono (2003: 14) menjelaskan, orang-orang Cina di Cirebon seringkali memeras dengan meminta uang dan tanah penduduk. Di samping itu, penduduk juga dikenakan pajak kepala, pajak tanah, pajak jembatan, dan lain-lain. Faktor inilah yang menyebabkan keraton Cirebon pada akhir abad ke-18 semakin melemah, selain karena kebijakan yang terkait dengan perkebunan kopi.


Pemberontakan Bagus Rangin di Indramayu
Tidak banyak sumber yang mengungkap sosok Bagus Rangin. Menurut Ekadjati dkk. (1990: 103), Bagus Rangin adalah penerus perlawanan Pangeran Suryawijaya (Raja Kanoman). Ia berasal dari Demak, Blandong, Raja Galuh, Majalengka. Putra Sentayem itu dilahirkan pada tahun 1761. Ia adalah cucu dari Buyut Waridah; keturunan Embah Buyut Sambeng. Kakaknya bernama Buyut Rangin; adiknya bernama Buyut Salimar dan Ki Bagus Serit. Ayah Bagus Rangin adalah seorang kiai besar yang memiliki banyak santri, antara lain Bagus Rangin.

Bagus Rangin adalah sosok pemberani dan siap berperang sehingga mudah sekali mendapatkan pengikut. Jumlah pengikut Bagus Rangin membentang dari ujung timur Semarang hingga Sumedang, Raja Galuh, dan berbagai wilayah lainnya, termasuk Indramayu. Ia menolak berunding dengan pemerintah. Alasan Bagus Rangin dianggap sebagai pemberontak oleh pemerintah karena membantu penduduk dalam mengatasi wajib kerja untuk pemerintah Hindia Belanda di Bantarjati. Bagus Manuh berpendapat, kepentingan Bagus Rangin sebetulnya hanya mengumpulkan rakyat dan menunjuk seseorang menjadi pemimpin, ia sendiri tidak menginginkan apa-apa (Marihandono, 2003: 17).

Berbeda dari naskah Sri Baduga yang menyatakan bahwa motif perlawanan Bagus Rangin yaitu hendak merebut kekuasaan dalem Indramayu, seperti tersebut dalam pupuh Dangdanggula. Niatan Bagus Rangin mendapatkan respon baik dari masyarakat sekitarnya. Dimana pun Bagus Rangin berada selalu mendapat dukungan dari penduduk setempat, sehingga sulit ditangkap. Ia terus melakukan mobilisasi massa, melancarkan gerakan sporadis, dan menyalakan api semangat perlawanan. Orang-orang yang memegang peranan penting dalam gerakan pemberontakan selain Bagus Rangin adalah Bagus Surapersanda, Bagus Seling, Bagus Sena, Bagus Jabin, Bagus Prasana, Bagus Layung, Kiai Serit, Bagus Leja, Bagus Kandar, Bagus Jari, dan Ciliwidara. Mereka berasal dari wilayah yang berbeda, ada yang dari Bantarjati, Biyawak, Jatitujuh, Kulinyar, Pasiripis, Pamayahan, dan ada pula yang dari Banten. Kepada para pengikut, mereka tidak hanya memberikan persenjataan dan ilmu kanuragan, tetapi juga mengatur strategi perang. Bantarjati Jatitujuh adalah sarang mereka di daerah Majalengka, sedangkan di Indramayu sarangnya di Desa Pamayahan Lohbener.

Mengenai jumlah pemberontak, ada beberapa catatan yang perlu saya kemukakan. Berdasarkan laporan Nyi Resik, seperti disampaikan kepada Raden Semangun, di Bantarjati terdapat 1000 pemberontak yang dipimpin oleh Bagus Rangin. Naskah Cikedung menyebutkan jumlah pemberontak 600 orang, sedangkan naskah Kedawung dan naskah Sri Baduga masing-masing mencatat 700 orang. Arsip kolonial mencatat lebih besar lagi, jumlahnya 35―45 ribu, 3000 diantaranya pernah dibawa Bagus Rangin untuk menyerang markas pasukan dalem Indramayu.

Dalam penyerangan menuju pusat administrasi dalem Indramayu, pasukan Bagus Rangin dihadang oleh Cina Celeng, Lohbener, yang megakibatkan peperangan besar, kelompok pemberontak banyak yang melarikan diri. Kala itu, jumlah orang Cina hanya 20 orang tetapi mereka sangat kuat dan tidak takut mati melawan para pengikut kebagusan, pemimpinnya adalah Kwe Beng, Eng San, Eng Jin, Eng Lie, dan Tiang Lie. Seorang pemimpin pemberontak, Surapersanda atau yang dikenal Bagus Urang, diingatkan oleh Kwe Beng supaya tidak memberontak karena mereka memiliki hubungan baik. Karena tidak menghiraukan, akibatnya Bagus Urang tewas, jenazahnya dikebumikan di Desa Pamayahan.

Kemudian Bantarjati Jatitujuh diserang oleh pasukan dalem Indramayu yang dipimpin oleh Raden Semangun dan Patih Astrasuta. Pemberontak sudah mengetahui sebelum penyerangan dilakukan, oleh karenanya mereka membuat jebakan di jembatan. Tidak ada pasukan yang berani melewati jebakan itu kecuali Patih Astrasuta. Akibatnya, patih dan pengawalnya tewas dikeroyok kebagusan. Patih Astrasuta terkena panah Bagus Serit, jenazahnya dimakamkan di Bantarjati.

Raden Semangun kemudian kembali menyerang Bantarjati dengan membawa pasukan yang lebih besar untuk membalaskan dendam kematian sang patih. Akan tetapi, sebelum diserang, 500 pasukan bersenjata lengkap terlebih dahulu hijrah ke Cikedung karena mereka sudah mengetahui. Waktu itu yang memimpin adalah Bagus Rangin, Bagus Serit, Bagus Kandar, Bagus Jari, dan Bagus Jabin.

Melalui utusannya, Demang Wangsanaya, Raden Semangun mengirim surat bantuan kepada Gusti Kanjeng Raja Kompeni yang tak lain adalah Daendels (Gusti Kanjeng Raja Kumpeni) di Batavia pada tahun 1808. Bantuan 300 tentara (soldadu) dengan membawa meriam, yang dipimpin oleh dua orang letnan (litnan I dan litnan II) dikerahkan. Meriam diseret dengan dua ekor kerbau. Akhirnya, tiga kekuatan bergabung: tentara Batavia, pasukan dalem Indramayu, dan orang Cina. Para pemberontak berhasil dikalahkan, karena kekuatan tidak sebanding. Bagus Persanda, Bagus Urang, dan Bagus Rangin lari tunggang langgang menuju markas.

Sampai di Pamayahan, mereka terus berlari ke arah barat, memasuki hutan Sinang, Cikole, Legoksiu, dan Dulangsontak, serta menyeberangi sungai Cilanang, Cibinuwang, Cipedang, Cilege, Cipancu, Ciwidara, Koceyak, Parung Balung, hingga melewati Sungai Cipunagara dan Cigadung. Tempat tinggal mereka selalu berpindah-pindah, hingga melewati perbatasan Pagaden, distrik Pamanukan, Tegalslawi, Subang, Karawang, dan seterusnya. Rencananya, mereka akan menghimpun kekuatan lagi untuk melakukan pemberontakan.

Akibat penumpasan itu pemerintah Belanda mengalami kerugian sebanyak f. 1.830, jumlah yang fantastis di zamannya, namun kerugian tersebut ditanggung oleh pemerintah Indramayu. Oleh karena bupati Indramayu tidak mampu membayar maka bupati menyerahkan beberapa wilayah kekuasaannya kepada pihak yang telah membantu.

Seiring dengan perputaran waktu, perlawanan terhadap tentara Belanda tidak hanya dilakukan oleh para kebagusan, melainkan sejumlah elit keraton. Ditengarai mereka adalah kelompok barisan Raja Kanoman yang pernah melakukan perlawanan terhadap Belanda, atau orang-orang yang sudah terpengaruh aksi para kebagusan, seperti perlawanan Raden Kertawijaya dan Raden Welang atas 40 tentara Belanda di Palimanan Cirebon.

Subscribe to receive free email updates:

Banyak dikunjungi :