Ads

Antrian Panjang dan Penitipan Dokumen SD Muhammadiyah Sapen: Pendidikan Berkualitas Jadi Dambaan Orang Tua

Antrian Panjang dan Penitipan Dokumen SD Muhammadiyah Sapen: Pendidikan Berkualitas Jadi Dambaan Orang Tua

Oleh Akang Marta



Ketika sebagian orang tua masih sibuk menyiapkan popok dan susu formula untuk bayi mereka, sebagian lainnya sudah memikirkan bangku sekolah dasar bagi buah hati mereka. Fenomena unik ini terjadi di SD Muhammadiyah Sapen yang berlokasi di daerah Demangan, Gondok Kusuman, Kota Yogyakarta. Bagi masyarakat Yogyakarta yang dikenal sebagai kota pelajar, fenomena antrian pendaftar SD Muhammadiyah Sapen kerap menjadi sorotan publik, bahkan sering kali menjadi bahan perbincangan di media sosial.

Tingginya minat masyarakat terhadap sekolah ini membuat penitipan dokumen calon peserta didik kini disebut telah menembus tahun ajaran 2032 hingga 2033. Artinya, orang tua yang memiliki bayi saat ini sudah mulai mendaftarkan dokumen anaknya agar bisa menjadi calon murid SD Muhammadiyah Sapen hampir satu dekade mendatang. Fenomena ini tentu saja menimbulkan rasa penasaran sekaligus kekaguman dari masyarakat luas, karena jarang sekali ditemui sekolah dasar yang mampu menarik minat orang tua sedemikian jauh ke depan.

Kabar tentang SD Muhammadiyah Sapen yang ramai diperbincangkan ini juga dikonfirmasi langsung oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haidar Nasir. Ia menilai fenomena tersebut sebagai cerminan kualitas pendidikan, integritas, dan keberhasilan sekolah dalam mendidik generasi penerus bangsa. Menurut Haidar, tingginya animo masyarakat bukan hanya soal reputasi sekolah, tetapi juga mencerminkan kepercayaan publik terhadap kualitas layanan pendidikan yang ditawarkan oleh institusi berbasis Muhammadiyah ini.

Kepala SD Muhammadiyah Sapen, Agung Rahmanto, menyadari ramainya perbincangan publik terkait antrian panjang calon murid. Ia menegaskan pentingnya meluruskan konteks agar tidak terjadi kesalahpahaman. Menurut Agung, seleksi penerimaan murid baru di SD Muhammadiyah Sapen tidak menggunakan tes akademik. Seleksi dilakukan murni berdasarkan usia calon peserta didik sesuai ketentuan yang berlaku. Latar belakang murid di sekolah ini sangat beragam; ada peserta didik yang sudah lancar membaca, menulis, dan berhitung sejak awal, ada pula yang belum mengenal huruf dan angka sama sekali. Bahkan, SD Muhammadiyah Sapen juga menerima murid berkebutuhan khusus, sehingga inklusivitas menjadi salah satu prinsip utama sekolah ini.

Agung menegaskan bahwa antrian panjang yang ramai dibicarakan bukanlah pendaftaran resmi, melainkan mekanisme penitipan dokumen kependudukan berupa akta kelahiran dan kartu keluarga. Proses penerimaan murid baru sendiri baru dilakukan satu tahun sebelum tahun ajaran dimulai. Awalnya, penitipan dokumen hanya dibuka untuk calon murid berusia enam tahun. Namun tingginya desakan orang tua membuat sekolah akhirnya membuka penitipan dokumen untuk tahun-tahun berikutnya, bahkan bagi bayi yang baru lahir. Kasus termuda tercatat pendaftaran bayi yang baru lahir pada 30 November 2025. Hingga saat ini, penitipan dokumen telah mencapai tahun ajaran 2032 hingga 2033 dengan jumlah 148 calon murid. Pada angkatan-angkatan sebelumnya, jumlah penitipan dokumen bahkan pernah melampaui 450 calon murid. Sementara itu, kuota penerimaan sekolah hanya 230 murid per angkatan. Agung menegaskan bahwa penitipan dokumen tidak otomatis menjamin anak diterima. Finalisasi penerimaan dilakukan satu tahun sebelum masuk sekolah dengan mempertimbangkan urutan penitipan dan usia minimal enam tahun sesuai ketentuan Permendikdas.

Isu biaya pendidikan juga menjadi sorotan publik, terutama di tengah tingginya minat masyarakat. SD Muhammadiyah Sapen menegaskan bahwa sekolah ini tidak hanya melayani keluarga mampu, tetapi juga menjalankan fungsi dakwah melalui skema subsidi silang. Setiap angkatan, 10% kuota diperuntukkan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu. Bentuk subsidi beragam, mulai dari bantuan sebagian hingga pembebasan biaya penuh. Besaran SPP di sekolah ini juga variatif; untuk murid dari keluarga kurang mampu, biaya pendidikan bisa Rp0, bahkan sudah termasuk makan siang dan snack setiap hari. Sementara itu, tarif SPP tertinggi mencapai Rp1.400 per bulan dan sudah mencakup fasilitas makan.

Meskipun minat masyarakat terus meningkat, pihak sekolah menegaskan tidak akan menambah kuota murid. SD Muhammadiyah Sapen memilih menjaga kualitas layanan pendidikan ketimbang memperbesar jumlah peserta didik. Sekolah tetap berpegang pada Permendikbud Nomor 26 Tahun 2025 yang mengatur pembatasan jumlah rombongan belajar. Sebagai bagian dari peningkatan kualitas, sekolah tengah menyiapkan gedung baru di kawasan Ringroad Barat Kasihan, yang dijadwalkan mulai digunakan pada 13 Juli 2026. Menurut Agung, pembangunan gedung baru tersebut bukan untuk menambah kuota murid, melainkan untuk meningkatkan mutu layanan pendidikan yang selama ini telah dipercaya oleh masyarakat.

Fenomena ini juga menunjukkan adanya kesadaran orang tua di Yogyakarta terhadap pendidikan anak. Banyak orang tua yang mulai memikirkan pendidikan sejak dini, bukan sekadar menyiapkan kebutuhan fisik bayi. Hal ini menandakan perubahan paradigma, di mana pendidikan dipandang sebagai investasi jangka panjang dan faktor penting dalam pembentukan karakter anak. Selain itu, animo tinggi masyarakat juga mencerminkan kepercayaan publik terhadap reputasi dan kualitas SD Muhammadiyah Sapen, yang telah terbukti mampu menggabungkan prestasi akademik dengan pembentukan karakter dan nilai-nilai moral Islami.

SD Muhammadiyah Sapen menjadi contoh bagaimana sekolah berbasis agama sekaligus modern dapat beradaptasi dengan kebutuhan masyarakat dan tetap menjaga prinsip inklusivitas. Sekolah tidak hanya melayani anak-anak dari keluarga mampu, tetapi juga memberikan kesempatan bagi anak-anak berkebutuhan khusus dan keluarga kurang mampu. Ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan tidak semata-mata bisnis, tetapi juga medium dakwah dan pengembangan sosial.

Di tengah sorotan publik dan media sosial, sekolah pun tetap menjaga transparansi dan keadilan dalam mekanisme penerimaan. Penitipan dokumen tidak berarti penerimaan otomatis, melainkan sebagai bentuk perencanaan awal bagi orang tua dan sekolah. Dengan sistem ini, SD Muhammadiyah Sapen mampu mengelola animo masyarakat yang tinggi tanpa mengorbankan kualitas pendidikan. Sistem ini juga memberikan kepastian bagi orang tua, sekaligus menegaskan bahwa sekolah tetap berpegang pada ketentuan yang berlaku, termasuk batas usia minimal enam tahun dan kuota rombongan belajar yang telah ditetapkan.

Fenomena ini menjadi cerminan betapa pentingnya pendidikan dasar yang berkualitas bagi masyarakat Indonesia. Ketika sebagian orang tua menyiapkan popok dan susu formula, sebagian lainnya sudah memikirkan masa depan akademik anak mereka. Fenomena ini bukan sekadar unik, tetapi juga inspiratif, karena menunjukkan kesadaran kolektif akan pentingnya pendidikan. SD Muhammadiyah Sapen pun berhasil membuktikan bahwa reputasi, integritas, dan kualitas pendidikan mampu menarik kepercayaan masyarakat dalam jangka panjang.

Keberhasilan SD Muhammadiyah Sapen ini juga memberikan pelajaran bagi sekolah-sekolah lain di Indonesia. Integrasi nilai moral, pelayanan inklusif, dan skema subsidi silang menjadi kunci penting untuk membangun kepercayaan masyarakat. Selain itu, transparansi dan keadilan dalam mekanisme penerimaan membantu menjaga kredibilitas sekolah sekaligus memastikan setiap anak memiliki kesempatan yang adil untuk mengenyam pendidikan berkualitas.

Dengan pembangunan gedung baru dan peningkatan fasilitas, SD Muhammadiyah Sapen terus menegaskan komitmennya terhadap pendidikan bermutu. Fokus pada kualitas layanan pendidikan, bukan kuota semata, menjadi prinsip yang patut dicontoh. Fenomena ini sekaligus membuktikan bahwa pendidikan dasar berkualitas tidak hanya menjadi kebutuhan, tetapi juga dambaan masyarakat, yang rela merencanakan masa depan anaknya bertahun-tahun ke depan demi mendapatkan pendidikan terbaik.

Dengan demikian, fenomena antrian panjang calon murid SD Muhammadiyah Sapen di Yogyakarta bukan hanya soal jumlah, tetapi juga refleksi kualitas, integritas, dan kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan. Dari bayi yang baru lahir hingga calon murid enam tahun, orang tua telah menunjukkan kesadaran tinggi akan pentingnya pendidikan sebagai fondasi masa depan. Di tengah tantangan biaya pendidikan dan beragam latar belakang murid, SD Muhammadiyah Sapen mampu mengelola minat tinggi masyarakat dengan prinsip inklusivitas, transparansi, dan kualitas pendidikan yang konsisten. Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa pendidikan yang bermutu mampu menggerakkan kesadaran masyarakat dan membentuk generasi penerus bangsa yang cerdas, berkarakter, dan berintegritas.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel