Dari Penolakan Menuju Panggilan Zaman: Hikmah Jalan yang Tak Diterima
Dari Penolakan Menuju Panggilan Zaman: Hikmah Jalan yang Tak Diterima
Kisah ini bermula dari sebuah kalimat yang terdengar ringan, nyaris seperti seloroh: “Saya dulu mau sekolah di tempat Bapak, tidak diterima.” Namun di balik kalimat sederhana itu tersimpan hikmah besar tentang bagaimana jalan hidup bekerja. Tidak selalu sesuai rencana manusia, tetapi sering kali selaras dengan kebutuhan zaman. Penolakan yang pada awalnya terasa pahit justru menjadi pintu masuk bagi perjalanan yang lebih luas dan bermakna.
Apa yang tidak diterima di satu pintu, ternyata diterima di pintu lain yang lebih besar. Apa yang tampak sebagai kegagalan, perlahan menjelma menjadi bekal. Dan apa yang semula dianggap “tidak pada tempatnya”, justru menemukan tempat paling relevan dalam sejarah hidup seseorang. Di sinilah kita belajar bahwa hidup bukan tentang memaksakan kehendak, melainkan tentang membaca arah dan menyiapkan diri.
Dalam dunia pendidikan dan intelektualitas, sering kali kita terjebak pada nama besar institusi, jalur yang dianggap ideal, atau standar kesuksesan yang seragam. Padahal, pengalaman menunjukkan bahwa kualitas manusia tidak ditentukan semata oleh di mana ia belajar, melainkan oleh bagaimana ia belajar. Ketekunan, keberanian untuk terus bertanya, dan kesediaan untuk merendahkan hati sering kali lebih menentukan daripada status formal apa pun.
Pada akhirnya, yang membedakan bukanlah kampus atau pesantren mana yang pernah disinggahi, tetapi bagaimana seseorang menjaga adab dalam ilmu dan kekuasaan. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan kesombongan. Kekuasaan tanpa kesediaan mendengar hanya akan berujung pada kehancuran. Sejarah memberi cukup banyak contoh tentang keduanya.
Sebaliknya, persahabatan intelektual yang dibangun di atas kerendahan hati membuka ruang bagi tumbuhnya kebijaksanaan. Di ruang itulah perbedaan dirawat, kritik didengar, dan keputusan diambil dengan kejernihan. Persahabatan semacam inilah yang pada akhirnya menjaga konstitusi tetap bernyawa, menjaga umat tetap teduh, dan menjaga Indonesia tetap berdiri di atas etika, bukan sekadar kekuatan.
Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi
