Ads

Menjaga Negara, Merawat Iman: Konstitusi dan Peran Santri di Masa Depan Indonesia

Menjaga Negara, Merawat Iman: Konstitusi dan Peran Santri di Masa Depan Indonesia



Narasi panjang tentang santri, konstitusi, dan ruang intelektual pada akhirnya membawa kita pada satu pertanyaan mendasar: seperti apa wajah Indonesia ke depan? Apakah santri akan terus berada dalam posisi dicurigai ketika memasuki ruang-ruang kekuasaan dan pengetahuan modern? Apakah konstitusi akan selalu dipertentangkan dengan agama, seolah keduanya tidak mungkin berjalan berdampingan?

Jawaban atas kegelisahan itu justru hadir dari kisah-kisah konkret, bukan dari slogan ideologis. Kisah tentang santri yang mampu berdiri sebagai penjaga konstitusi tanpa kehilangan iman. Tentang intelektual Muslim yang bisa berbicara di forum global tanpa menggadaikan keyakinannya. Di sini kita belajar bahwa kesetiaan pada konstitusi tidak harus berarti pengingkaran terhadap agama, sebagaimana kesalehan beragama tidak otomatis menjelma menjadi hasrat untuk mendominasi negara.

Pengalaman Indonesia menunjukkan jalan yang khas. Islam tidak hadir sebagai alat pemaksaan politik, melainkan sebagai sumber etika publik: keadilan, kejujuran, keberpihakan pada yang lemah, dan penghormatan pada martabat manusia. Nilai-nilai inilah yang justru memperkuat demokrasi dan konstitusionalisme, bukan melemahkannya. Ketika santri masuk ke ruang-ruang hukum dan politik, yang dibawanya bukan syariat sebagai simbol kekuasaan, melainkan adab sebagai fondasi perilaku.

Keberadaan santri di ruang global sering kali disalahpahami sebagai ancaman. Padahal sesungguhnya ia adalah jembatan. Jembatan antara Timur dan Barat, antara iman dan rasionalitas, antara tradisi dan modernitas. Santri global memperlihatkan bahwa identitas keislaman tidak harus defensif, dan bahwa keterbukaan pada dunia tidak identik dengan kehilangan jati diri.

Di tengah polarisasi global dan ketegangan identitas, Indonesia memiliki modal sosial yang berharga. Jika santri, konstitusi, dan demokrasi terus dipertemukan dalam ruang dialog yang jujur, masa depan Indonesia tidak perlu ditakuti. Ia bisa menjadi contoh bahwa negara yang majemuk dapat dikelola dengan iman yang matang dan akal yang sehat.

Penulis: Akang Marta
Indramayu Tradisi

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel