Dari Popularitas ke Kapasitas: Refleksi Cinta Kritis untuk Masa Depan Dermayu
Dari Popularitas ke Kapasitas: Refleksi Cinta Kritis untuk Masa Depan Dermayu
Oleh Akang Marta
Setiap daerah memiliki harapan besar terhadap pemimpinnya. Harapan itu bukan sekadar janji kampanye atau baliho yang terpampang di sudut jalan, melainkan perubahan nyata yang bisa dirasakan rakyat dalam kehidupan sehari-hari. Dermayu sebagai tanah yang kaya sejarah dan sumber daya seharusnya mampu berdiri sejajar dengan daerah maju lainnya. Namun, di balik potensi besar itu, tersimpan kegelisahan: mengapa kemajuan yang diimpikan terasa berjalan lambat?
Banyak warga sebenarnya tidak berdiri di posisi memihak atau memusuhi siapa pun. Kritik yang lahir bukan karena kebencian, melainkan karena rasa memiliki. Ketika seseorang mengingatkan pemimpin, itu bukan berarti ingin menjatuhkan, tetapi justru ingin melihat daerahnya tumbuh lebih baik. Kritik adalah bentuk cinta yang jujur, bukan serangan pribadi.
Selama ini, pola pemilihan pemimpin sering kali bertumpu pada popularitas. Siapa yang terkenal, siapa yang ramai dibicarakan, siapa yang viral, sering dianggap paling layak. Padahal, memimpin daerah tidak cukup dengan nama besar. Kepemimpinan membutuhkan etos kerja, kapasitas manajerial, kepekaan sosial, serta keberanian mengambil keputusan demi kepentingan rakyat, bukan demi citra.
Akibatnya, banyak pemimpin terpilih yang ternyata tidak siap menghadapi kompleksitas persoalan. Mereka datang dengan janji, tetapi tersandung pada realitas. Program ada di atas kertas, tetapi lemah di pelaksanaan. Rakyat menunggu perubahan, namun yang datang justru rutinitas tanpa arah jelas.
Dermayu memiliki kekayaan yang luar biasa. Tanahnya subur, lautnya luas, migasnya besar, pertaniannya kuat, dan manusianya pekerja keras. Secara logika, daerah dengan potensi sebesar itu seharusnya bisa melesat jauh. Namun kenyataannya, kemajuan belum sepenuhnya terwujud. Pertanyaan pentingnya bukan siapa yang salah, tetapi apa yang perlu diperbaiki.
Salah satu masalah mendasar adalah orientasi kepemimpinan. Banyak kebijakan lebih sibuk mengurus tampilan daripada dampak. Proyek terlihat megah, tetapi tidak selalu menjawab kebutuhan rakyat. Jalan berlubang masih ada, kemiskinan belum tertangani optimal, lapangan kerja belum sepenuhnya berpihak pada warga lokal, dan pelayanan publik sering terasa lambat.
Kritik yang muncul sering disalahartikan sebagai permusuhan. Padahal, mengingatkan pemimpin adalah bagian dari tanggung jawab warga. Jika rakyat diam, justru itu tanda ketidakpedulian. Suara yang jujur seharusnya diterima sebagai bahan evaluasi, bukan dianggap ancaman.
Ada satu pesan moral yang penting: jabatan bukan sekadar kehormatan, tetapi amanah. Seorang pemimpin tidak hanya bertanggung jawab di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan nilai-nilai kemanusiaan dan moral. Ketika ada rakyat yang kelaparan, ketika ada warga celaka di jalan rusak, ketika ada pengangguran yang dibiarkan, semua itu bukan sekadar data statistik, tetapi beban tanggung jawab kepemimpinan.
Maka, kepemimpinan bukan soal duduk di kursi, melainkan soal keberpihakan nyata. Apakah kebijakan benar-benar menyentuh rakyat kecil? Apakah hasil bumi dinikmati warga sendiri atau justru lebih banyak mengalir keluar daerah? Apakah putra-putri Dermayu menjadi tuan rumah di tanahnya sendiri, atau hanya penonton?
Ke depan, Dermayu perlu arah baru. Daerah ini harus diisi oleh pemimpin yang lahir dari bumi sendiri, memahami karakter masyarakatnya, dan memiliki etos kerja tinggi. Bukan sekadar populer, tetapi kompeten. Bukan sekadar pandai berbicara, tetapi mampu bekerja.
Seleksi kepemimpinan seharusnya tidak hanya mengandalkan wajah di baliho, tetapi rekam jejak. Bagaimana integritasnya, bagaimana kemampuannya mengelola sumber daya, bagaimana keberaniannya menolak kepentingan sempit, dan bagaimana komitmennya terhadap rakyat kecil. Semua itu lebih penting daripada sekadar terkenal.
Dermayu tidak kekurangan potensi, tetapi sering kekurangan pengelolaan. Pertanian bisa menjadi kekuatan pangan, laut bisa menjadi pusat ekonomi pesisir, migas bisa menjadi penopang kesejahteraan, dan industri bisa membuka lapangan kerja luas. Namun semua itu membutuhkan kepemimpinan yang berpikir jangka panjang, bukan sekadar periode jabatan.
Masalah lainnya adalah mental birokrasi. Tanpa etos kerja yang kuat, kebijakan hanya menjadi tumpukan dokumen. Pelayanan publik harus berubah dari budaya lambat menjadi budaya melayani. Rakyat bukan beban, melainkan tujuan dari seluruh sistem pemerintahan.
Kritik warga yang lahir dari hati seharusnya menjadi cermin bagi penguasa. Bukan untuk disangkal, tetapi direnungkan. Jika banyak suara mengatakan hal yang sama, berarti ada pesan yang harus diperbaiki. Kepemimpinan yang besar bukan yang anti kritik, tetapi yang mampu belajar dari kritik.
Selain pemimpin, masyarakat juga punya peran. Warga tidak cukup hanya memilih lalu diam. Pengawasan sosial penting agar arah pembangunan tidak menyimpang. Demokrasi bukan hanya di bilik suara, tetapi juga dalam keberanian menyampaikan pendapat secara santun dan bertanggung jawab.
Cinta pada daerah tidak selalu berarti memuji. Kadang justru berarti berani mengatakan yang pahit. Dermayu tidak akan maju jika semua orang hanya berkata baik-baik demi kenyamanan. Kemajuan lahir dari kejujuran, kerja keras, dan keberanian berubah.
Jika melihat sejarah, daerah besar selalu tumbuh karena kepemimpinan yang visioner dan rakyat yang kritis. Keduanya harus berjalan bersama. Pemimpin bekerja, rakyat mengawasi. Pemimpin merencanakan, rakyat mengingatkan. Itulah ekosistem sehat dalam pemerintahan.
Dermayu pantas menjadi kabupaten yang berdaya, bukan hanya dikenal sebagai penghasil bahan mentah, tetapi sebagai pusat kesejahteraan. Rakyatnya tidak perlu jauh merantau jika daerahnya mampu menyediakan peluang. Anak mudanya tidak hanya bangga pada asal-usul, tetapi juga pada masa depan.
Karena itu, perubahan harus dimulai dari cara berpikir. Memilih pemimpin bukan karena siapa yang paling ramai, tetapi siapa yang paling siap. Menilai bukan dari janji, tetapi dari kerja. Menghormati bukan karena jabatan, tetapi karena keberpihakan pada rakyat.
Pada akhirnya, semua kritik ini bukan lahir dari kebencian, melainkan dari rasa sayang. Sayang pada Dermayu, sayang pada masyarakatnya, dan sayang pada masa depannya. Daerah ini terlalu kaya untuk terus berjalan biasa-biasa saja.
Jika kepemimpinan ke depan diisi oleh orang-orang yang beretos kerja, berintegritas, dan berpihak pada warga, maka Dermayu tidak hanya dikenal karena hasil buminya, tetapi juga karena kualitas hidup rakyatnya.
Refleksi ini adalah ajakan, bukan tuduhan. Ajakan untuk berpindah dari politik popularitas menuju politik kapasitas. Ajakan untuk menjadikan jabatan sebagai amanah, bukan panggung. Dan ajakan untuk membangun Dermayu bukan dengan janji, tetapi dengan kerja nyata.
Sebab masa depan daerah tidak ditentukan oleh siapa yang paling terkenal, tetapi oleh siapa yang paling tulus dan mampu bekerja untuk rakyatnya.
