Indramayu Menuju Poros Baru Swasembada Gula Nasional
Indramayu Menuju Poros Baru Swasembada Gula Nasional
Oleh Akang Marta
Indonesia kembali meneguhkan langkah besar dalam mewujudkan swasembada pangan, salah satunya melalui penguatan sektor gula nasional. Di tengah tantangan ketergantungan impor dan fluktuasi harga komoditas, pengembangan tebu menjadi agenda strategis yang tak terelakkan. Dalam konteks inilah Indramayu mulai memposisikan diri bukan sekadar sebagai lumbung padi, tetapi juga sebagai daerah kunci pengembangan tebu nasional menuju target swasembada gula tahun 2027.
Selama ini, Indramayu dikenal luas sebagai salah satu sentra produksi beras terbesar di Indonesia. Hamparan sawahnya menjadi tulang punggung ketahanan pangan nasional. Namun, dinamika kebutuhan pangan yang semakin kompleks menuntut daerah tidak hanya bertumpu pada satu komoditas. Diversifikasi pertanian menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Tebu hadir sebagai komoditas strategis yang mampu membuka peluang ekonomi baru bagi petani sekaligus memperkuat industri hilir.
Langkah pengembangan tebu di Indramayu bukanlah kebijakan spontan, melainkan bagian dari desain besar hilirisasi pertanian. Hilirisasi berarti tidak berhenti pada produksi bahan mentah, tetapi menghubungkannya dengan industri pengolahan, distribusi, dan pasar. Dengan demikian, nilai tambah tidak lari keluar daerah, melainkan berputar di tingkat lokal, memperkuat ekonomi masyarakat, dan membuka lapangan kerja.
Saat ini, luas tanam tebu di wilayah Indramayu berada di kisaran tujuh ribu hektare. Angka ini dinilai masih bisa dikembangkan lebih jauh. Pemerintah daerah mulai mengidentifikasi potensi lahan tambahan, termasuk kawasan yang berada di sekitar wilayah kehutanan produksi. Proses ini tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui kajian kelayakan agar tetap menjaga keseimbangan lingkungan, produktivitas tanah, serta kepentingan masyarakat sekitar.
Potensi penambahan lahan diproyeksikan mencapai ribuan hektare. Wilayah-wilayah yang selama ini belum dimaksimalkan secara pertanian mulai dipetakan sebagai calon pengembangan tebu. Tujuannya bukan hanya menambah luas tanam, tetapi juga meningkatkan efisiensi dan kualitas produksi. Dengan pendekatan ini, Indramayu diharapkan mampu menjadi salah satu pusat utama hilirisasi tebu di kawasan Jawa Barat.
Yang menarik, pengembangan tebu ini dirancang tidak mengorbankan fungsi Indramayu sebagai sentra padi. Sawah produktif tetap dilindungi. Perluasan tebu diarahkan ke lahan-lahan alternatif, bukan ke sawah irigasi teknis yang selama ini menjadi tulang punggung produksi beras. Prinsip ini penting agar ketahanan pangan tidak saling meniadakan antar komoditas, melainkan saling melengkapi.
Dari sisi petani, kebijakan ini membawa harapan baru. Tebu bukan hanya tanaman musiman, tetapi komoditas yang memiliki siklus ekonomi panjang dan pasar yang relatif stabil. Namun, biaya tanam tebu tidak kecil. Dalam satu hektare, kebutuhan modal bisa mencapai puluhan juta rupiah. Karena itu, skema dukungan menjadi faktor penentu keberhasilan program.
Model dukungan yang dikembangkan tidak berbentuk uang tunai, melainkan sarana produksi. Petani akan difasilitasi melalui penyediaan benih unggul, pupuk, serta alat dan mesin pertanian. Pendekatan ini bertujuan menjaga efektivitas bantuan agar benar-benar digunakan untuk produksi, bukan untuk konsumsi lain. Selain itu, keterlibatan koperasi menjadi jembatan pembiayaan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Dengan sistem ini, petani tidak dibiarkan berjalan sendiri. Mereka ditemani dari hulu hingga hilir, mulai dari tanam, perawatan, panen, hingga distribusi hasil. Di sinilah pentingnya kelembagaan tani yang kuat. Pertanian modern tidak lagi bertumpu pada kerja individu, tetapi kolaborasi antara petani, koperasi, pemerintah, dan sektor industri.
Secara nasional, pengembangan tebu masih menghadapi kekurangan lahan ribuan hektare untuk memenuhi kebutuhan gula dalam negeri. Jawa Barat, termasuk Indramayu, dipandang strategis untuk menutup celah tersebut. Selain memiliki tanah subur, daerah ini juga ditopang infrastruktur pertanian yang relatif mapan serta sumber daya manusia yang terbiasa mengelola lahan secara intensif.
Namun, pengembangan tebu bukan semata soal menanam. Ada aspek manajemen, teknologi, dan keberlanjutan. Produktivitas harus ditingkatkan melalui varietas unggul, pengelolaan air, mekanisasi, dan pendampingan teknis. Tanpa itu, perluasan lahan hanya akan memperbesar biaya tanpa meningkatkan hasil secara signifikan.
Selain produksi, tantangan lain adalah industri pengolahan. Tebu yang melimpah harus diimbangi dengan kapasitas pabrik gula yang memadai. Jika tidak, petani akan kesulitan menjual hasil panen tepat waktu. Karena itu, konsep hilirisasi menjadi sangat penting: membangun keterhubungan antara kebun, pabrik, logistik, dan pasar.
Di titik ini, Indramayu berpeluang naik kelas. Dari daerah penghasil bahan mentah menjadi pusat ekonomi agroindustri. Perputaran uang tidak hanya terjadi di musim panen, tetapi sepanjang tahun melalui aktivitas pengolahan, distribusi, dan jasa pendukung. Dampaknya bukan hanya dirasakan petani, tetapi juga sektor transportasi, perdagangan, hingga UMKM lokal.
Pengembangan tebu juga membawa dimensi sosial. Ketika lapangan kerja meningkat, tekanan urbanisasi bisa ditekan. Anak muda desa tidak harus pergi jauh mencari pekerjaan jika peluang tersedia di daerah sendiri. Pertanian tidak lagi dipersepsikan sebagai sektor tertinggal, melainkan sebagai industri modern yang menjanjikan masa depan.
Namun, keberhasilan program ini sangat bergantung pada konsistensi kebijakan. Perluasan lahan, pendampingan petani, pembangunan industri, dan perlindungan lingkungan harus berjalan seiring. Tanpa perencanaan jangka panjang, program berisiko berhenti di tengah jalan atau hanya menjadi proyek sesaat.
Penting pula memastikan bahwa masyarakat lokal menjadi subjek utama, bukan sekadar objek. Mereka harus dilibatkan dalam pengambilan keputusan, pengelolaan, dan pembagian manfaat. Jika tidak, pengembangan tebu justru bisa memicu konflik lahan, ketimpangan ekonomi, atau kerusakan ekosistem.
Indramayu sejatinya memiliki modal besar: tanah subur, pengalaman pertanian, serta posisi strategis di jalur ekonomi Jawa Barat. Dengan pengelolaan yang tepat, daerah ini tidak hanya menopang swasembada gula, tetapi juga menciptakan model pembangunan pertanian yang inklusif dan berkelanjutan.
Ke depan, tantangannya bukan lagi apakah Indramayu mampu menanam tebu, melainkan apakah mampu mengelola ekosistemnya. Dari petani, koperasi, industri, hingga pasar harus tersambung dalam satu sistem yang adil dan efisien. Di sinilah letak makna pembangunan sesungguhnya: bukan sekadar menambah luas tanam, tetapi menumbuhkan kesejahteraan.
Jika semua berjalan searah, Indramayu tidak hanya dikenal sebagai lumbung padi nasional, tetapi juga sebagai poros baru swasembada gula Indonesia. Sebuah transformasi dari pertanian tradisional menuju agroindustri modern yang memberi nilai tambah, kemandirian, dan masa depan yang lebih kuat bagi masyarakatnya.
Dengan visi yang matang, kerja konsisten, dan keberpihakan pada petani, Indramayu berpeluang menjadi contoh bagaimana daerah mampu menjawab tantangan pangan nasional melalui inovasi, kolaborasi, dan pengelolaan sumber daya yang berkelanjutan. Dari sawah ke kebun tebu, dari produksi ke hilirisasi, Indramayu sedang menata peran barunya dalam peta ketahanan pangan Indonesia.
