Lulusan Paket C dan Tantangan Program Kesetaraan Pendidikan di Indonesia
Lulusan Paket C dan Tantangan Program Kesetaraan Pendidikan di Indonesia
Belakangan ini, pernyataan Mendikdasmen Abdul Mukhti menarik perhatian publik. Ia menyoroti bahwa banyak anggota DPR periode 2024-2029 merupakan lulusan paket C, atau setara dengan pendidikan kesetaraan SMA, melalui program PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat). Program ini mencakup paket A, B, dan C, dan bertujuan memberikan kesempatan belajar bagi mereka yang tidak menempuh jalur pendidikan formal. Meskipun program ini sukses menarik banyak peserta, fenomena lulusan paket C yang duduk di kursi legislatif menimbulkan pertanyaan serius tentang hubungan antara pendidikan formal dan kapasitas pengambilan keputusan strategis.
Menurut data BPS yang dimuat oleh Kompas, terdapat anggota DPR yang hanya lulusan SMA, D3, hingga S1, S2, dan S3, serta sejumlah besar anggota yang tidak mencantumkan pendidikan formalnya. Dari jumlah tersebut, lulusan paket C termasuk di antaranya, yang menunjukkan adanya kesenjangan antara pendidikan formal dan kemampuan legislatif. Idealnya, seorang legislator harus memiliki pendidikan dan wawasan cukup agar mampu menganalisis dampak kebijakan, merumuskan undang-undang yang tepat sasaran, dan mempertimbangkan implikasi jangka panjang bagi masyarakat.
Program kesetaraan pendidikan melalui paket C seharusnya menjadi solusi penting untuk meningkatkan akses pendidikan. PKBM memungkinkan masyarakat dewasa yang tidak menempuh pendidikan formal tetap memperoleh ijazah setara SMA. Program ini berdampak positif bagi individu yang ingin memperbaiki kualitas hidupnya, membuka peluang karier, dan meningkatkan literasi. Namun, ketika lulusan paket C menempati posisi strategis tanpa pelatihan tambahan atau pengembangan kapasitas legislatif, muncul risiko bahwa keputusan penting di tingkat nasional bisa diambil tanpa pemahaman mendalam.
Pendidikan rendah dalam posisi strategis juga berpotensi memunculkan kebijakan populis yang tidak tepat sasaran. Contohnya, program pemerintah yang dijalankan tanpa perencanaan matang atau pengawasan memadai cenderung gagal memenuhi tujuan jangka panjang. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan formal yang lebih tinggi dan pengalaman intelektual mendalam tetap menjadi faktor krusial untuk menghasilkan kebijakan publik berkualitas.
Fenomena lulusan paket C di DPR juga memunculkan pertanyaan tentang sistem politik dan pemilu. Sementara partai politik sering mencalonkan kandidat berkualitas dengan pendidikan tinggi, mekanisme pemilu yang bergantung pada dana besar, popularitas, dan strategi politik tertentu memungkinkan kandidat dengan latar belakang pendidikan rendah tetap terpilih. Hal ini menunjukkan bahwa masalah bukan hanya pada pendidikan individu, tetapi juga pada sistem yang memungkinkan calon legislatif dengan kapasitas terbatas duduk di posisi strategis.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, dibutuhkan beberapa langkah penting. Pertama, pendidikan berkelanjutan dan pelatihan legislatif bagi anggota DPR, termasuk lulusan paket C, agar kemampuan analisis dan pengambilan keputusan mereka meningkat. Kedua, penyaringan calon legislatif berbasis kompetensi perlu diperkuat untuk memastikan pendidikan dan wawasan menjadi salah satu kriteria utama. Ketiga, masyarakat juga harus berperan aktif dengan menjadi pemilih kritis yang menilai calon legislatif berdasarkan kapasitas, bukan hanya popularitas atau dana kampanye.
Kesimpulannya, program kesetaraan pendidikan melalui paket C merupakan pencapaian penting bagi akses belajar masyarakat. Namun, ketika lulusan paket C menempati posisi legislatif tanpa pengembangan kapasitas, risiko kebijakan populis dan pengambilan keputusan yang kurang tepat meningkat. Dengan penguatan pendidikan berkelanjutan, seleksi berbasis kompetensi, dan pemilih yang kritis, Indonesia dapat menyeimbangkan akses pendidikan dengan kualitas kepemimpinan di tingkat nasional. Program PKBM tetap relevan, tetapi harus disertai langkah strategis agar lulusan paket C juga mampu mendukung pengambilan kebijakan yang cerdas dan berwawasan jauh ke depan.
