Ads

Tas Dicatut, Motor Oleng, Mobil Mengejar: Detik-Detik Insiden Jambret yang Mengubah Nasib Sebuah Keluarga

Tas Dicatut, Motor Oleng, Mobil Mengejar: Detik-Detik Insiden Jambret yang Mengubah Nasib Sebuah Keluarga

Oleh Akang Marta 



Pagi Sabtu itu, 26 April 2025, semula berjalan seperti hari-hari biasa bagi sebuah keluarga kecil di Yogyakarta. Tidak ada rencana besar, tidak ada firasat buruk. Sang istri hanya berniat membeli jajan pasar untuk kemudian diantar ke sebuah hotel di kawasan dekat Transmart. Aktivitas sederhana yang sudah kerap dilakukan. Ia berangkat lebih dulu dengan sepeda motor, sementara sang suami mengambil jalur berbeda menggunakan mobil karena arah tujuan mereka berlawanan.

Keduanya tidak janjian bertemu di jalan, tetapi takdir mempertemukan mereka di atas Jembatan Layang Janti. Motor dan mobil melaju sejajar tanpa sengaja. Lalu lintas pagi itu cukup ramai, namun masih terkendali. Udara pagi yang biasanya menenangkan justru menjadi saksi awal perubahan besar dalam hidup mereka.

Setelah turun dari jembatan, menuju kawasan Babarsari, sang istri tetap fokus mengendarai motornya. Tas selempang berisi dompet dan dokumen penting menggantung di bahu kiri. Ia tidak merasa sedang diincar. Jalanan terlihat biasa saja, kendaraan lalu-lalang, orang-orang sibuk dengan tujuan masing-masing.

Namun dalam hitungan detik, segalanya berubah.

Dari sisi kiri, sebuah motor mendekat cepat. Gerakannya tidak wajar. Sebelum sempat berpikir, tangan pelaku menyambar tas. Lebih tepatnya, tali tas dicatut menggunakan benda tajam. Tarikannya keras. Motor yang dikendarai sang istri langsung oleng. Keseimbangan hampir hilang. Jantungnya serasa jatuh. Refleks, ia berteriak sekuat tenaga, “Jambret!”

Teriakan itu pecah di tengah deru kendaraan.

Dalam kondisi panik, sang istri berusaha tetap menjaga motor agar tidak terjatuh. Di saat yang sama, ia melihat jambret melaju kencang membawa potongan tali tasnya. Bukan hanya harta yang terancam, tetapi juga rasa aman di jalan raya yang tiba-tiba lenyap.

Di jalur kanan, sang suami yang mengendarai mobil mendengar teriakan itu. Ia melihat istrinya goyah di atas motor. Tanpa berpikir panjang, naluri sebagai suami dan pelindung keluarga mengambil alih. Ia menginjak pedal gas. Bukan untuk balas dendam, bukan pula untuk melukai, melainkan ingin menghentikan pelaku agar tas dan dokumen penting milik istrinya bisa kembali.

Mobil mulai mengejar motor jambret.

Situasi menjadi tegang. Jalan raya yang semula biasa berubah menjadi arena kejar-kejaran. Sang suami mencoba memepet dari samping, memberi isyarat agar pelaku berhenti. Namun jambret justru makin nekat. Ia memacu motor lebih cepat, zig-zag mencari celah.

Beberapa kali mobil mendekat. Beberapa kali pula pelaku menolak berhenti. Detik-detik itu berjalan cepat sekaligus lambat. Setiap meter terasa menegangkan. Di dalam mobil, sang suami berpacu dengan rasa takut: takut kehilangan barang, takut istrinya trauma, dan tanpa sadar juga mempertaruhkan keselamatan semua orang di jalan.

Pada satu titik, jambret memilih jalur yang salah. Ia naik ke trotoar dengan kecepatan tinggi. Ban motor tidak stabil. Kendaraan kehilangan kendali. Dalam sepersekian detik, motor menghantam tembok bermural di kawasan dekat Bakpia Pathok.

Benturan terdengar keras.

Tubuh pelaku terpental. Motornya remuk menabrak dinding. Percikan muncul. Pelaku terhempas ke aspal dan tengkurap. Di tangannya masih tergenggam pisau cutter, alat yang dipakai untuk memutus tali tas.

Sang istri yang menyusul dari belakang hanya bisa terdiam. Pemandangan di depan mata begitu mengejutkan. Orang yang barusan menjambretnya kini tergeletak tak bergerak. Ia tidak tahu apakah pelaku masih hidup atau sudah meninggal dunia saat itu. Yang jelas, suasana berubah drastis: dari korban kejahatan menjadi saksi tragedi.

Orang-orang mulai berdatangan. Lalu lintas melambat. Kepanikan menyelimuti lokasi. Dalam satu pagi, sebuah rutinitas berubah menjadi peristiwa yang mengguncang batin satu keluarga.

Tak lama kemudian, polisi datang. Sang istri dan suami dibawa ke Polres untuk dimintai keterangan. Pemeriksaan berlangsung dari pagi hingga sore. Mereka menceritakan semuanya: mulai dari membeli jajan pasar, pertemuan di Jembatan Janti, tas yang dicatut, motor yang oleng, hingga mobil yang mengejar.

Saat itu, mereka masih berpikir bahwa ini murni kejahatan jalanan. Mereka korban. Pelaku yang mengalami kecelakaan karena melarikan diri sendiri. Tidak terlintas bahwa proses ini akan berkembang jauh.

Hari demi hari berlalu. Mereka dipanggil kembali untuk BAP sebagai saksi. Mereka kooperatif. Datang setiap kali diminta. Hidup perlahan terasa tidak sama. Setiap telepon dari polisi membuat jantung berdebar.

Sekitar dua hingga tiga bulan kemudian, kabar yang tak pernah mereka bayangkan datang: sang suami ditetapkan sebagai tersangka.

Status itu menghantam mental keluarga. Sang istri mengaku syok. Baginya, ia adalah korban jambret. Suaminya hanya mencoba menolong. Namun hukum memandang lain. Dalam perspektif lalu lintas, pemepetan kendaraan bisa dinilai sebagai kelalaian yang berkontribusi terhadap kecelakaan fatal.

Sejak saat itu, sang suami menjalani wajib lapor setiap pekan. Pendampingan hukum mulai dilakukan. Namun tekanan psikologis tetap terasa. Dari keluarga biasa, mereka berubah menjadi keluarga yang hidup dalam bayang-bayang proses hukum.

Sementara itu, perkara penjambretan dihentikan karena kedua pelaku meninggal dunia. Secara hukum, kasus curas gugur demi hukum dan diterbitkan SP3. Fokus sepenuhnya beralih pada perkara kecelakaan lalu lintas.

Polisi mencoba menempuh jalur restorative justice. Mediasi dilakukan. Namun tidak mudah menyatukan dua perasaan yang sama-sama terluka: keluarga jambret yang kehilangan anggota keluarganya dan keluarga korban yang justru terseret menjadi tersangka.

Dalam pertemuan di kejaksaan, sang istri menyampaikan permintaan maaf. Ia menegaskan bahwa tidak ada niat jahat. Semua terjadi spontan, dalam situasi panik. Mereka juga tidak pernah menginginkan siapa pun kehilangan nyawa.

Kasus ini membuka mata banyak orang. Kejahatan jalanan memang memancing emosi. Naluri manusia adalah mengejar dan mempertahankan hak. Tetapi jalan raya bukan ruang aman untuk meluapkan reaksi spontan. Sedikit keputusan keliru bisa mengubah segalanya.

Tas yang dicatut menjadi awal. Motor yang oleng menjadi tanda bahaya. Mobil yang mengejar menjadi pemicu risiko. Dan tembok bermural menjadi saksi akhir sebuah tragedi.

Bagi keluarga ini, hidup tidak lagi sekadar tentang bekerja dan pulang. Mereka kini belajar tentang betapa tipisnya batas antara korban dan tersangka. Dalam hitungan detik, nasib bisa berbalik arah.

Peristiwa di Jembatan Janti bukan sekadar cerita jambret. Ia adalah pelajaran sosial: bahwa emosi di jalan raya harus dikalahkan oleh akal sehat, dan bahwa satu keputusan spontan bisa mengubah masa depan sebuah keluarga selamanya.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel