Ads

Dari Dapur Sekolah ke Lumbung Desa: MBG sebagai Motor Baru Ekonomi Kerakyatan

Dari Dapur Sekolah ke Lumbung Desa: MBG sebagai Motor Baru Ekonomi Kerakyatan

Oleh Akang Marta



Selama ini, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) lebih sering dibicarakan dari sisi kesehatan dan pendidikan. Anak-anak kenyang, angka stunting ditekan, dan konsentrasi belajar meningkat. Namun, di balik piring makan siswa, ada efek lain yang tidak kalah penting: denyut ekonomi desa yang mulai hidup kembali. MBG bukan sekadar program sosial, melainkan juga mesin penggerak ekonomi kerakyatan yang bekerja secara sistematis dari hulu ke hilir.

Dr. Dadan Hindayana menjelaskan bahwa setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) membutuhkan bahan baku dalam jumlah besar dan berkelanjutan. Untuk satu SPPG saja, kebutuhan beras bisa mencapai sekitar lima ton per bulan. Belum termasuk ribuan butir telur, puluhan kilogram sayuran, ratusan liter susu, daging, ikan, buah, serta bumbu dapur. Jika jumlah SPPG mencapai ribuan, bisa dibayangkan betapa besarnya rantai permintaan yang tercipta setiap hari.

Inilah yang membuat MBG berbeda dari program bantuan konvensional. Negara tidak hanya membagikan makanan, tetapi secara sadar menciptakan pasar. Prinsip yang dipakai adalah creating demand, yakni menciptakan permintaan yang stabil dan terjamin bagi produk lokal. Petani, peternak, nelayan, hingga UMKM desa tidak lagi sekadar menunggu pembeli, tetapi memiliki kepastian serapan dari negara melalui SPPG.

Sebanyak 70 persen anggaran SPPG diarahkan untuk membeli bahan baku dari lingkungan sekitar. Artinya, uang negara tidak berhenti di dapur sekolah, tetapi mengalir kembali ke sawah, kandang, kolam, kebun, dan pasar desa. Jika di satu provinsi seperti Jawa Barat terdapat sekitar 5.000 SPPG, maka perputaran uang yang masuk ke desa-desa bisa mencapai puluhan triliun rupiah per tahun. Ini bukan angka kecil, melainkan transformasi ekonomi struktural.

Efek domino pun mulai terasa. Ketika SPPG membutuhkan pasokan rutin, petani terdorong meningkatkan produksi. Lahan tidur kembali digarap, pola tanam diperbaiki, dan kualitas hasil panen diperhatikan karena ada standar menu yang harus dipenuhi. Peternak ayam dan sapi mendapat kepastian penjualan telur, daging, dan susu. Nelayan kecil memperoleh pasar tetap untuk hasil tangkapannya. UMKM bumbu, tahu, tempe, dan olahan pangan ikut bergerak karena permintaan meningkat.

MBG secara tidak langsung mengubah mentalitas ekonomi desa. Jika sebelumnya banyak usaha berjalan musiman dan spekulatif, kini mulai bergeser menjadi usaha berbasis kontrak dan keberlanjutan. Petani tidak lagi bertanya, “Siapa yang mau beli?” tetapi, “Berapa yang harus saya siapkan bulan depan?” Kepastian inilah yang membuat ekonomi rakyat naik kelas dari sekadar bertahan hidup menjadi perencanaan usaha.

Yang lebih menarik, program ini membuka peluang besar bagi generasi muda untuk kembali ke desa. Selama bertahun-tahun, desa sering kehilangan anak mudanya karena dianggap tidak menjanjikan secara ekonomi. Namun dengan adanya MBG, rantai pasok SPPG membutuhkan manajer logistik, distributor sayur, pengelola peternakan modern, hingga pengusaha pangan lokal. Menjadi pemasok SPPG bukan usaha satu kali, melainkan bisnis jangka panjang karena negara menjamin pembeliannya melalui anggaran rutin.

Anak muda desa kini tidak harus bermigrasi ke kota untuk mencari kerja. Mereka bisa membangun usaha di kampung halaman: menanam sayur organik, beternak ayam petelur, membuka koperasi pangan, atau mengelola cold storage ikan. MBG menciptakan ekosistem baru yang membuat desa kembali relevan sebagai pusat produksi, bukan sekadar daerah konsumsi.

Keunggulan lain MBG adalah fleksibilitas berbasis kearifan lokal. Standar menu memang ditetapkan, tetapi bahan dasarnya disesuaikan dengan potensi daerah. Di wilayah pesisir, ikan menjadi menu utama. Di daerah pegunungan, sayur dan umbi lokal dioptimalkan. Di sentra peternakan, susu dan telur lebih dominan. Dengan cara ini, MBG tidak mematikan produk lokal, justru mengangkatnya sebagai identitas pangan daerah.

Pendekatan ini sekaligus memperkuat kemandirian pangan. Desa tidak lagi sepenuhnya tergantung pada pasokan luar, melainkan membangun sistem produksi sendiri. Ketika rantai pasok pendek, biaya distribusi turun, kualitas pangan lebih segar, dan risiko kelangkaan bisa ditekan. MBG menjadi alat strategis memperkuat ketahanan pangan nasional dari bawah, bukan hanya dari pusat.

Di sisi lain, UMKM pangan desa ikut naik kelas. Selama ini, banyak UMKM kesulitan masuk pasar karena tidak punya pembeli tetap. Dengan SPPG, UMKM bisa memproduksi tempe, tahu, roti, bumbu, atau makanan olahan sesuai standar gizi. Mereka belajar soal higienitas, pengemasan, pencatatan keuangan, hingga konsistensi suplai. Secara tidak langsung, MBG menjadi sekolah bisnis bagi ekonomi rakyat.

Efek lanjutan dari perputaran uang ini adalah meningkatnya daya beli desa. Ketika petani dan UMKM mendapatkan pendapatan rutin, mereka berbelanja di pasar lokal, memperbaiki rumah, menyekolahkan anak, dan membuka usaha baru. Uang tidak cepat lari ke kota, tetapi berputar di desa. Inilah yang disebut ekonomi sirkular desa, di mana produksi dan konsumsi saling menguatkan.

Program MBG juga mengajarkan bahwa kebijakan sosial bisa sekaligus menjadi kebijakan ekonomi. Selama ini, bantuan sering dipersepsikan hanya sebagai biaya. MBG membuktikan bahwa bantuan yang dirancang dengan benar justru menjadi investasi. Negara membelanjakan anggaran, tetapi hasilnya kembali dalam bentuk produktivitas, stabilitas ekonomi desa, dan pengurangan kemiskinan struktural.

Tentu, tantangan tetap ada. Produksi harus konsisten, kualitas harus terjaga, dan distribusi harus efisien. Petani dan UMKM perlu pendampingan agar mampu memenuhi standar gizi, keamanan pangan, dan ketepatan waktu. Namun justru di sinilah nilai strategis MBG: ia memaksa sistem desa untuk berbenah, bukan berjalan seadanya.

Ke depan, jika ekosistem ini terus diperkuat, MBG bisa menjadi fondasi ekonomi pangan nasional. Desa tidak hanya dikenal sebagai penerima program, tetapi sebagai pemasok utama kebutuhan gizi anak bangsa. Dari sawah, kandang, dan laut desa, lahir generasi sehat sekaligus ekonomi yang berdaulat.

Pada akhirnya, MBG menunjukkan bahwa satu piring makan bisa menggerakkan banyak hal. Ia mengenyangkan siswa, menghidupkan petani, membesarkan UMKM, menarik kembali anak muda ke desa, dan memperkuat kemandirian pangan. Dari dapur sekolah, denyut ekonomi desa kembali berdetak.

Inilah wajah baru pembangunan: bukan hanya memberi, tetapi menciptakan. Bukan hanya membantu, tetapi memberdayakan. MBG tidak sekadar soal makan bergizi, melainkan tentang bagaimana negara menyalakan mesin ekonomi rakyat dari titik paling sederhana, namun paling strategis: kebutuhan dasar manusia. Dari desa yang produktif, Indonesia menata masa depannya dengan lebih adil, sehat, dan berkelanjutan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel