Ads

Menjaga Dua Gerbang Emas Generasi: Strategi Gizi untuk Kecerdasan dan Daya Saing Bangsa

Menjaga Dua Gerbang Emas Generasi: Strategi Gizi untuk Kecerdasan dan Daya Saing Bangsa

Oleh Akang Marta



Setiap bangsa besar lahir bukan hanya dari kekuatan ekonomi atau teknologi, tetapi dari kualitas manusianya. Manusia yang sehat, cerdas, dan tangguh adalah fondasi utama peradaban. Karena itulah pemerintah menempatkan program gizi sebagai salah satu agenda strategis nasional. Ambisi ini bukan tanpa dasar. Ia berpijak pada sains biologi manusia yang menunjukkan bahwa masa depan seseorang, bahkan masa depan bangsa, ditentukan sejak sangat dini melalui apa yang ia makan dan serap oleh tubuhnya.

Dr. Dadan Hindayana menjelaskan bahwa dalam siklus hidup manusia terdapat dua jendela kesempatan emas yang tidak boleh terlewatkan jika Indonesia ingin melahirkan generasi pemimpin yang unggul. Dua fase ini menjadi titik kritis intervensi gizi: fase awal kehidupan dan fase pertumbuhan remaja. Keduanya saling melengkapi, membentuk kecerdasan sekaligus kekuatan fisik.

Fase pertama dikenal sebagai 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK), yang dimulai sejak janin dalam kandungan hingga anak berusia dua tahun. Pada periode ini, perkembangan sel-sel otak berlangsung sangat cepat dan masif. Jutaan koneksi saraf terbentuk setiap hari. Otak anak ibarat bangunan yang sedang dikerjakan fondasinya. Jika bahan bangunan kurang, struktur di atasnya akan rapuh meskipun nanti diperbaiki.

Pada masa kehamilan, kualitas makanan ibu menentukan kualitas otak dan organ janin. Protein, zat besi, asam folat, yodium, dan omega-3 berperan penting dalam pembentukan jaringan saraf. Setelah lahir, ASI eksklusif dan makanan pendamping yang tepat melanjutkan proses penyempurnaan ini. Jika pada fase ini anak mengalami kekurangan gizi, dampaknya bersifat permanen. Tubuh mungkin bisa dikejar, tetapi kapasitas kognitif sulit diperbaiki.

Kondisi inilah yang sering disebut sebagai stunting. Banyak orang mengira stunting hanya soal tinggi badan, padahal lebih dalam dari itu: ia menyentuh kecerdasan, emosi, dan produktivitas. Anak stunting cenderung memiliki daya konsentrasi rendah, mudah lelah, dan sulit bersaing dalam pendidikan. Dalam skala nasional, ini berarti kerugian besar bagi daya saing bangsa.

Data menunjukkan bahwa rata-rata IQ penduduk Indonesia berada di kisaran 78. Salah satu penyebabnya adalah minimnya intervensi gizi pada kelompok ekonomi bawah yang justru menyumbang pertumbuhan penduduk terbesar. Jika kelompok ini tidak ditopang dengan gizi memadai sejak awal, maka ketimpangan kualitas sumber daya manusia akan terus berulang dari generasi ke generasi.

Karena itu, intervensi pada 1000 HPK bukan sekadar program kesehatan, melainkan strategi pembangunan jangka panjang. Negara hadir melalui edukasi calon ibu, pemantauan kehamilan, penyediaan pangan bergizi, dan kampanye pola asuh sehat. Ibu bukan hanya melahirkan anak, tetapi melahirkan masa depan bangsa.

Namun, cerita tidak berhenti pada balita. Dr. Dadan menekankan adanya jendela emas kedua, yakni fase usia 8 hingga 18 tahun. Jika fase pertama fokus pada optimalisasi otak, maka fase kedua fokus pada optimalisasi fisik dan penyempurnaan potensi tubuh. Di masa ini, tulang memanjang, otot berkembang, hormon bekerja aktif, dan kapasitas fisik manusia ditentukan.

Sering kali masyarakat menganggap tinggi badan dan kekuatan fisik semata-mata ditentukan oleh faktor genetik. Padahal, genetika hanya menyediakan potensi, sedangkan gizi menentukan apakah potensi itu tercapai atau tidak. Dr. Dadan membagikan pengalaman pribadinya sebagai ilustrasi. Dengan intervensi gizi yang terbatas pada masa remaja, tinggi badannya berhenti di sekitar 168 cm. Sementara anak-anaknya yang memperoleh asupan optimal sejak kecil hingga remaja tumbuh mencapai 181 hingga 185 cm.

Perbedaan ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari asupan protein hewani, kalsium, vitamin, dan energi yang cukup. Tulang membutuhkan kalsium dan vitamin D, otot membutuhkan protein, dan metabolisme membutuhkan energi yang stabil. Jika remaja kekurangan zat ini, pertumbuhan akan terhenti lebih cepat dari seharusnya.

Inilah mengapa intervensi gizi di usia sekolah dan remaja menjadi sangat penting. Negara tidak hanya ingin anak-anak Indonesia pintar, tetapi juga kuat secara fisik. Dalam kompetisi global, postur tubuh, stamina, dan kesehatan jangka panjang ikut menentukan produktivitas tenaga kerja, kualitas atlet, bahkan ketahanan mental.

Dengan memberikan daging sapi, telur, susu, ikan, dan sayuran secara rutin melalui program makan bergizi, negara sedang membangun fondasi fisik generasi masa depan. Anak-anak tidak hanya duduk di kelas, tetapi tumbuh menjadi manusia dengan struktur tubuh yang mampu bekerja keras, berpikir lama, dan beradaptasi dengan tantangan zaman.

Yang menarik, dua fase ini saling terkait. Anak yang mendapatkan gizi baik pada 1000 HPK akan lebih siap menerima optimalisasi pada fase remaja. Sebaliknya, jika fase pertama rusak, fase kedua hanya bisa menambal, bukan memperbaiki sepenuhnya. Maka, kebijakan gizi harus utuh dari kandungan hingga bangku sekolah.

Intervensi ini juga menyentuh aspek keadilan sosial. Tanpa campur tangan negara, hanya keluarga mampu yang bisa memberikan gizi optimal bagi anak-anaknya. Kelompok miskin akan tertinggal secara biologis dan intelektual. Program gizi nasional hadir untuk memotong rantai ketimpangan itu. Setiap anak, tanpa melihat latar belakang ekonomi, berhak atas tubuh sehat dan otak cerdas.

Lebih jauh, gizi juga memengaruhi karakter. Anak yang sehat lebih percaya diri, lebih aktif, dan lebih stabil secara emosional. Kekurangan gizi sering berkorelasi dengan mudah marah, rendah motivasi, dan kesulitan bersosialisasi. Jadi, intervensi gizi bukan hanya mencetak manusia pintar dan tinggi, tetapi juga manusia yang berkepribadian kuat.

Ketika pemerintah serius mengawal dua titik kritis ini, sesungguhnya yang sedang dibangun bukan sekadar program makan, melainkan strategi peradaban. Bangsa yang ingin maju tidak bisa menunggu hasil instan. Ia harus berinvestasi pada rahim ibu, pada piring makan anak, dan pada masa pertumbuhan remaja.

Indonesia menuju 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya banyak, tetapi unggul. Unggul dalam berpikir, unggul dalam fisik, unggul dalam mental. Semua itu dimulai dari keputusan sederhana namun strategis: memastikan anak-anak mendapatkan gizi yang tepat pada waktu yang tepat.

Pada akhirnya, kunci kecerdasan bangsa bukan terletak pada gedung sekolah megah atau kurikulum canggih semata, tetapi pada bagaimana negara menjaga dua gerbang emas kehidupan manusia. Dari kandungan hingga remaja, dari otak hingga tulang, dari gizi hingga karakter. Jika dua titik kritis ini dikawal dengan serius, maka Indonesia tidak sedang bermimpi tentang masa depan, tetapi sedang menyiapkannya secara ilmiah, adil, dan berkelanjutan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel