Kaget! Harga Talas Rp15.000 per Kilogram, Petani dan Warga Langsung Tertarik Mencoba Tanam
Kaget! Harga Talas Rp15.000 per Kilogram, Petani dan Warga Langsung Tertarik Mencoba Tanam
Siapa sangka, tanaman yang dulu dianggap “biasa saja” kini mulai naik kelas. Talas—umbi-umbian yang sering kita temui di dapur desa—mendadak jadi perbincangan setelah harganya tembus Rp15.000 per kilogram di pasaran. Angka itu tentu membuat banyak orang terkejut. Bukan hanya ibu-ibu pasar, tapi juga petani, pegiat UMKM, bahkan warga kota yang mulai melirik peluang tanam talas di pekarangan.
Dulu, talas sering dianggap makanan alternatif. Ia kalah pamor dibanding beras, jagung, atau singkong. Namun perubahan pola konsumsi, tren pangan lokal, dan kebutuhan bahan baku industri makanan membuat talas kembali mendapat tempat. Dari keripik, bolu, brownies, hingga minuman kekinian, talas hadir dalam berbagai rupa.
Harga yang melonjak ini bukan tanpa sebab. Permintaan meningkat, sementara pasokan belum tentu stabil. Di sinilah cerita menarik bermula: ketika harga naik, kesadaran menanam pun ikut tumbuh.
Talas: Tanaman Sederhana dengan Nilai Ekonomi Tak Sederhana
Secara kasat mata, talas memang tampak sederhana. Daunnya lebar, batangnya tegap, dan umbinya tersembunyi di dalam tanah. Namun di balik kesederhanaannya, talas menyimpan nilai ekonomi yang cukup menjanjikan.
Talas relatif mudah ditanam. Ia tidak memerlukan teknologi rumit. Tanah gembur, air cukup, dan perawatan ringan sudah cukup membuatnya tumbuh. Dalam waktu sekitar 6–8 bulan, talas sudah bisa dipanen. Modalnya pun tidak terlalu besar, sehingga cocok bagi petani kecil maupun warga yang ingin mencoba bertani skala rumah tangga.
Ketika harga masih Rp3.000–Rp5.000 per kilogram, banyak orang menganggap talas kurang menarik. Tapi saat harga menyentuh Rp15.000, perspektif berubah. Tanaman yang dulu dipandang remeh kini mulai dipikirkan secara serius sebagai sumber pendapatan.
Fenomena Harga Naik: Berkah atau Alarm?
Naiknya harga talas memang terlihat menggembirakan. Petani bisa mendapat keuntungan lebih. Namun di sisi lain, kenaikan harga juga harus dibaca secara kritis. Apakah ini tren jangka panjang atau hanya lonjakan sesaat?
Harga bisa naik karena beberapa faktor: cuaca yang memengaruhi produksi, permintaan industri makanan, tren kuliner, hingga distribusi yang tidak merata. Jika semua orang langsung menanam tanpa perhitungan, bisa jadi beberapa bulan kemudian terjadi banjir produksi. Saat itu harga bisa jatuh kembali.
Di sinilah pentingnya tidak sekadar ikut-ikutan. Menanam talas memang bagus, tapi harus disertai perencanaan: melihat pasar, kualitas bibit, pola tanam, hingga kemungkinan pengolahan pascapanen.
Harga tinggi seharusnya bukan hanya euforia, tetapi juga alarm agar petani dan warga berpikir strategis.
Dari Pekarangan ke Peluang
Menariknya, talas bukan hanya urusan sawah dan ladang. Banyak orang mulai menanamnya di pekarangan rumah. Lahan sempit tidak lagi menjadi alasan. Dengan jarak tanam yang fleksibel, talas bisa tumbuh di halaman, kebun kecil, bahkan polybag besar.
Di sinilah talas menjadi simbol pertanian rumah tangga yang produktif. Bayangkan jika satu rumah menanam 10–20 batang talas. Dalam satu musim panen, hasilnya bisa membantu kebutuhan dapur, bahkan menjadi tambahan penghasilan.
Lebih dari itu, menanam talas juga menghidupkan kembali budaya bertani yang mulai pudar. Anak-anak bisa belajar dari tanah, bukan hanya dari layar ponsel. Keluarga kembali akrab dengan proses pangan, dari tanam hingga konsumsi.
Talas dan Ketahanan Pangan Lokal
Dalam konteks yang lebih luas, talas berkontribusi pada ketahanan pangan. Indonesia tidak bisa selamanya bergantung pada satu jenis sumber karbohidrat. Diversifikasi pangan menjadi penting, dan talas adalah salah satu jawabannya.
Talas mengandung karbohidrat, serat, serta mineral yang baik untuk tubuh. Ia bisa menjadi alternatif pengganti nasi atau tepung terigu. Di tengah isu impor pangan dan fluktuasi harga beras, tanaman lokal seperti talas justru semakin relevan.
Menanam talas berarti tidak hanya mengejar rupiah, tetapi juga memperkuat kedaulatan pangan dari level paling dasar: rumah dan desa.
Tantangan di Balik Peluang
Meski tampak menjanjikan, talas tetap memiliki tantangan. Pertama adalah kualitas bibit. Banyak orang asal tanam tanpa memperhatikan varietas. Padahal, jenis talas berbeda akan menghasilkan ukuran, rasa, dan daya simpan yang berbeda pula.
Kedua, pascapanen. Talas segar memiliki umur simpan terbatas. Jika tidak cepat dijual atau diolah, ia bisa rusak. Inilah mengapa penting mendorong pengolahan: keripik, tepung talas, kue, atau frozen food.
Ketiga, pemasaran. Harga Rp15.000/kg di satu daerah belum tentu sama di daerah lain. Tanpa jaringan pasar, petani bisa kembali terjebak pada permainan tengkulak.
Artinya, menanam talas seharusnya diiringi dengan penguatan kelembagaan: koperasi, UMKM, kelompok tani, dan jejaring distribusi.
Dari Umbi ke Industri Kreatif
Menariknya, talas tidak berhenti di dapur. Kini ia masuk ke dunia industri kreatif pangan. Banyak UMKM mengolah talas menjadi produk kekinian: cookies, donat, es krim, minuman taro latte, hingga mie talas.
Di sinilah nilai tambah tercipta. Jika talas mentah dijual Rp15.000/kg, produk olahannya bisa bernilai berkali lipat. Inilah logika ekonomi desa yang perlu diperkuat: bukan hanya menjual bahan mentah, tetapi juga produk jadi.
Dengan pengemasan yang baik dan cerita lokal yang kuat, talas bisa naik kelas dari sekadar umbi desa menjadi komoditas pasar modern.
Harga Tinggi Harus Diikuti Pengetahuan
Sering kali kita terjebak pada euforia harga. Saat harga naik, semua menanam. Saat harga turun, semua berhenti. Pola ini sudah lama terjadi dalam dunia pertanian.
Padahal, yang lebih penting dari harga adalah pengetahuan. Bagaimana menanam yang baik, menghitung biaya produksi, membaca pasar, dan mengelola risiko.
Talas seharusnya menjadi pintu masuk bagi warga untuk belajar pertanian modern berbasis lokal: sederhana, efisien, dan berkelanjutan.
Jika harga Rp15.000/kg hanya disikapi sebagai sensasi, peluang bisa hilang. Tapi jika disikapi sebagai momentum, talas bisa menjadi simbol kebangkitan ekonomi kecil yang nyata.
Talas sebagai Cerita Harapan
Pada akhirnya, cerita tentang harga talas bukan sekadar soal angka. Ia adalah cerita tentang harapan. Harapan petani untuk hidup lebih layak. Harapan warga untuk mandiri pangan. Harapan desa untuk bangkit dari potensi sendiri.
Menanam talas mungkin terlihat sepele. Tapi dari umbi kecil itu, tumbuh banyak hal: kesadaran, ekonomi, solidaritas, dan keberanian mencoba.
Ketika seseorang berkata, “Kaget harga talas Rp15.000, langsung coba tanam,” sebenarnya itu bukan sekadar reaksi pasar. Itu adalah refleksi naluri bertahan hidup, kreativitas, dan semangat untuk tidak diam.
Dan mungkin, dari talas-talas kecil yang ditanam hari ini, kita sedang menanam masa depan yang lebih mandiri, lebih adil, dan lebih membumi.
Penulis: Akang Marta
