Ads

Mahkota di Atas Tumpukan Rongsok: Paradoks Kejujuran Bripka Seladi

 

Mahkota di Atas Tumpukan Rongsok: Paradoks Kejujuran Bripka Seladi



Di sebuah negeri di mana seragam sering kali dianggap sebagai "kartu akses" menuju kemudahan finansial, Bripka Seladi memilih jalan yang sunyi—dan bagi sebagian orang, jalan yang dianggap konyol. Selama 16 tahun, pria ini berdiri di persimpangan jalan sebagai anggota polisi lalu lintas, sebuah posisi yang secara stereotip dianggap "basah". Namun, alih-alih pulang dengan kantong tebal hasil uang suap, Seladi justru pulang untuk berganti pakaian kumal dan menyusuri tempat sampah.

Kejujuran yang Menjadi "Anomali"

Secara kritis, kita harus bertanya: Mengapa sosok jujur seperti Seladi menjadi viral dan dianggap luar biasa? Jawabannya menyedihkan: karena kejujuran telah menjadi anomali. Di tengah berita oknum aparat yang terlibat gratifikasi atau gaya hidup mewah yang tak masuk akal dengan gaji pokok, sosok Seladi yang memegang teguh prinsip "lebih baik memulung daripada menerima suap" adalah sebuah anomali yang indah sekaligus menyakitkan.

Bripka Seladi membuktikan bahwa integritas bukan sekadar bahan pidato di hari ulang tahun institusi, melainkan pilihan hidup yang berdarah-darah. Memulung rongsokan setelah pulang kerja bukan hanya soal mencari tambahan rupiah untuk makan, tetapi merupakan bentuk perlawanan terhadap korupsi sistemik. Ia menunjukkan bahwa perut yang lapar lebih terhormat jika diisi dengan hasil keringat sendiri daripada perut kenyang dari hasil memeras rakyat.

Mentalitas "Sepeda Tua" di Era Digital

Tangkapan layar tersebut memperlihatkan Seladi dengan sepeda tuanya. Di era di mana status sosial diukur dari jenis kendaraan dan merk gawai, sepeda tua Seladi adalah simbol martabat yang tak tergoyahkan. Namun, kesederhanaan ini memakan korban perasaan: anak-anaknya.

Ada bagian memilukan ketika anak-anak Seladi harus menanggung beban sosial berupa hinaan dan tawa ejekan dari teman sebaya karena profesi sampingan ayahnya. Ini adalah refleksi kritis bagi masyarakat kita: mengapa kita lebih mudah menghormati orang yang kaya dari hasil yang tidak jelas daripada orang yang bekerja keras secara jujur meski terlihat "kotor"? Kita sering kali gagal melihat bahwa kotoran pada pakaian pemulung Seladi jauh lebih bersih daripada noda hitam di hati mereka yang memperjualbelikan hukum.

Buah Manis dari Prinsip yang Keras

Dukungan keluarga dan keteguhan hati Seladi akhirnya membuahkan hasil yang paling hakiki: pendidikan. Berhasil menyekolahkan anak hingga meraih gelar sarjana dari hasil rongsokan dan gaji polisi yang halal adalah prestasi yang jauh lebih besar daripada mendapatkan kenaikan pangkat lewat jalur belakang.

Seladi mengajarkan kita bahwa:

  • Integritas tidak mengenal kasta: Anda bisa menjadi polisi atau pemulung, yang penting adalah kejujuran di baliknya.

  • Keikhlasan adalah mesin penggerak: Tanpa keikhlasan, mustahil seseorang bertahan 16 tahun dihina namun tetap tegak berdiri.

  • Pendidikan adalah martabat: Uang halal memiliki "berkah" yang berbeda, mampu mengantar anak-anak meraih masa depan yang gemilang tanpa beban moral masa lalu orang tuanya.

Cermin bagi Kita Semua

Kisah Bripka Seladi adalah cermin retak bagi kita semua. Ia menantang kita untuk mendefinisikan ulang apa itu "kesuksesan". Apakah sukses adalah tentang jabatan dan saldo rekening, atau tentang seberapa nyenyak kita tidur di malam hari tanpa rasa takut akan dosa suap?

Bripka Seladi telah pensiun dengan kepala tegak. Ia mungkin tidak meninggalkan warisan kemewahan, tetapi ia meninggalkan standar moral yang sangat tinggi bagi rekan sejawatnya dan bagi kita semua sebagai warga negara. Ternyata, martabat memang tidak ditentukan oleh apa yang kita kenakan, melainkan oleh apa yang kita tolak demi harga diri.

Penulis: Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel