Ads

Zahra, 10 Tahun, Es Keliling, dan Pelajaran tentang Keteguhan di Usia yang Terlalu Dini

 

Zahra, 10 Tahun, Es Keliling, dan Pelajaran tentang Keteguhan di Usia yang Terlalu Dini



Di usia yang baru menginjak sepuluh tahun, dunia seharusnya dipenuhi tawa, permainan, dan cerita-cerita kecil tentang sekolah. Anak-anak seusia itu biasanya pulang dengan seragam kusut karena bermain, bukan karena lelah bekerja. Namun hidup tidak selalu ramah pada semua orang. Bagi Azzahra—atau Zahra—masa kanak-kanak justru diwarnai tanggung jawab yang bahkan orang dewasa pun sering mengeluh menjalaninya.

Saat teman-temannya pulang sekolah disambut pelukan ibu, Zahra hanya bisa menatap langit. Ibunya telah lebih dulu berpulang ke haribaan Tuhan ketika ia masih sangat kecil. Sejak itu, rumah tidak lagi sama. Tidak ada lagi suara lembut yang menyiapkan makan, tidak ada tangan hangat yang menenangkan ketika Zahra pulang dengan cerita sedih. Kerinduan itu tumbuh diam-diam dan tak pernah benar-benar selesai.

Ayahnya bukan tak ada. Ia masih hidup. Tetapi jarak dan keadaan membuat raga dan kasih sayangnya terasa amat jauh. Zahra tidak hidup bersama ayahnya. Dalam keseharian, hanya ada satu tempat ia menggantungkan harapan: sang nenek. Nenek yang rambutnya memutih oleh waktu, tubuhnya tak lagi kuat, tapi hatinya masih berusaha menjadi rumah paling aman untuk cucunya.

Anak Kecil dengan Tanggung Jawab Besar

Sepulang sekolah, ketika anak lain berganti baju lalu bermain, Zahra justru menanggalkan tas dan mengganti peran. Dari murid kelas empat SD, ia berubah menjadi pedagang es keliling. Dengan langkah kecil dan tenaga yang terbatas, Zahra menjajakan es dari gang ke gang, dari halaman ke halaman.

Harga satu bungkus es hanya Rp1.000. Dari situ, keuntungan yang Zahra ambil tidak lebih dari 300 rupiah. Angka yang mungkin bagi sebagian orang tidak cukup untuk membeli permen, tetapi bagi Zahra, itu adalah harapan. Jika dagangan ramai, ia bisa membawa pulang sekitar Rp9.000. Namun jika hujan turun atau pembeli sepi, Zahra pulang dengan tangan hampa.

Tak ada jaminan penghasilan. Tak ada kepastian. Yang ada hanya usaha kecil yang diulang setiap hari dengan tubuh yang masih seharusnya sibuk tumbuh, bukan menanggung beban hidup.

Jalan Kaki dan Perut Kosong

Sekolah Zahra tidak dekat. Setiap hari ia menempuh jarak sekitar dua hingga tiga kilometer dengan berjalan kaki. Kadang langkahnya ringan, kadang terasa berat. Lebih berat lagi ketika perut kosong. Tidak selalu ada uang saku. Tidak selalu ada bekal.

Rasa lapar sering menjadi teman di perjalanan. Tapi Zahra belajar satu hal lebih awal dari anak-anak seusianya: menunda keluhan. Ia mengalahkan lapar dengan tekad. Bukan karena ia kuat, tapi karena ia tahu satu hal—ia tidak boleh putus sekolah.

Di kepala kecil Zahra, sekolah bukan sekadar kewajiban. Sekolah adalah pintu keluar dari kemiskinan, dari keterbatasan, dari nasib yang tidak ingin ia warisi begitu saja.

Bukan Mencari Mewah, Hanya Bertahan

Zahra tidak menjajakan es demi gawai baru atau baju bagus. Ia melakukannya untuk hal yang sangat sederhana: agar neneknya bisa makan dan agar dirinya tetap duduk di bangku kelas empat SD.

Ia tidak menuntut dunia berlebihan. Ia tidak meminta hidup yang glamor. Ia hanya ingin hidup sedikit lebih layak. Ia ingin tetap belajar tanpa dihantui ketakutan bahwa besok ia harus berhenti sekolah karena tidak ada biaya.

“Zahra ingin terus sekolah, Kak. Biar bisa bantu Nenek terus,” ucapnya lirih, di sela-sela napas lelah menjajakan es.

Kalimat itu sederhana, tapi berat. Karena keluar dari mulut anak sepuluh tahun yang seharusnya belum terlalu paham arti bertahan hidup.

Anak-anak yang Terpaksa Dewasa

Kisah Zahra bukan hanya cerita satu anak. Ia adalah potret banyak anak Indonesia yang terpaksa dewasa sebelum waktunya. Mereka belajar tentang uang, tanggung jawab, dan kehilangan lebih cepat daripada belajar tentang permainan.

Di satu sisi, kita sering memuji anak seperti Zahra sebagai “hebat” dan “kuat”. Tapi di sisi lain, kita juga harus jujur: tidak seharusnya anak-anak memikul beban seperti ini sendirian. Keteguhan Zahra memang mengharukan, tetapi situasi yang memaksanya seperti itu seharusnya membuat kita bertanya: di mana peran kita sebagai masyarakat?

Apakah kita sudah cukup peduli pada anak-anak di sekitar kita? Ataukah kita baru tergerak ketika kisah mereka viral?

Antara Ketahanan dan Ketidakadilan

Ada batas tipis antara mengagumi ketahanan dan menormalisasi ketidakadilan. Zahra kuat, iya. Tapi apakah adil jika seorang anak harus memilih antara lapar dan sekolah?

Negara bicara tentang wajib belajar, tapi di lapangan banyak anak yang masih harus bekerja untuk sekadar bertahan. Sistem bantuan sosial ada, tapi tidak selalu menjangkau semua yang membutuhkan. Lingkungan kadang peduli, kadang juga sibuk dengan urusan masing-masing.

Zahra bertahan bukan karena sistem bekerja sempurna, tapi karena hatinya belum mau menyerah.

Sekolah sebagai Harapan Terakhir

Bagi Zahra, sekolah bukan hanya tempat belajar membaca dan berhitung. Sekolah adalah harapan terakhir. Ia percaya bahwa dengan belajar, ia bisa mengubah nasib neneknya, dan suatu hari berdiri lebih tegak di dunia yang sekarang terasa terlalu besar untuk tubuh kecilnya.

Di bangku kelas, Zahra bukan hanya murid. Ia adalah pejuang sunyi. Ia membawa cerita hidup yang tidak tertulis di buku pelajaran. Ia membawa kelelahan yang tidak semua guru lihat. Tapi juga membawa semangat yang sering mengalahkan orang dewasa.

Peran Kita: Lebih dari Sekadar Simpati

Sering kali, kisah seperti Zahra berhenti pada rasa haru. Kita terenyuh, memberi like, menulis komentar sedih, lalu melanjutkan hidup seperti biasa. Padahal, anak-anak seperti Zahra tidak butuh kasihan, tapi kepedulian yang nyata.

Kepedulian bisa berupa perhatian lingkungan, dukungan sekolah, gotong royong warga, hingga kebijakan yang benar-benar menyentuh. Anak tidak boleh menjadi tenaga kerja utama keluarga. Mereka seharusnya menjadi pusat perlindungan.

Zahra tidak sedang meminta dunia menyelamatkannya. Tapi dunia seharusnya tidak membiarkannya berjalan sendiri.

Menghormati Masa Kecil

Masa kecil adalah fase yang tidak bisa diulang. Ketika seorang anak harus menjual es keliling untuk bertahan, kita patut hormat pada keberaniannya, tapi juga patut gelisah pada keadaan yang memaksanya begitu.

Zahra berhak lelah tanpa harus khawatir tentang uang. Ia berhak belajar tanpa harus memikirkan apakah neneknya bisa makan malam. Ia berhak bermimpi tanpa dibayangi putus sekolah.

Dari Zahra untuk Kita Semua

Zahra mengajarkan bahwa keteguhan tidak selalu lahir dari kenyamanan. Kadang justru tumbuh dari kekurangan. Ia tidak mengeluh keras, tidak marah pada dunia, hanya berjalan pelan membawa es dan harapan.

Namun, kisah Zahra seharusnya tidak hanya membuat kita kagum, tapi juga berpikir. Bahwa di sekitar kita, mungkin masih banyak Zahra lain yang berjalan diam-diam, menahan lapar, menjaga mimpi.

Kalau anak sepuluh tahun saja bisa sekuat itu, maka orang dewasa seharusnya bisa lebih peduli. Agar suatu hari, Zahra tidak lagi dikenal sebagai “anak penjual es”, tapi sebagai anak yang berhasil mewujudkan cita-citanya—bukan karena terpaksa kuat, tapi karena akhirnya benar-benar dilindungi.

Penulis: Akang Marta

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel