Ads

Bahasa sebagai Cermin Budaya: Memahami Karakter Egaliter Sunda Kuno dari Teks-Teksnya

Bahasa sebagai Cermin Budaya: Memahami Karakter Egaliter Sunda Kuno dari Teks-Teksnya

Ditulis oleh: Akang Marta



Tulisan tentang pengaruh bahasa terhadap perilaku tidak bisa dilepaskan dari kenyataan bahwa bahasa bukan hanya alat komunikasi, tetapi juga cermin budaya, pola pikir, bahkan kepribadian suatu masyarakat. Jika kita menelusuri teks-teks Sunda Kuno, kita akan menemukan hal yang sangat menarik: bahasa yang digunakan cenderung lugas, langsung, dan tidak berbelit-belit. Karakter ini berbeda dengan tradisi Jawa Kuno atau Melayu Lama, yang bahasanya lebih berlapis, penuh kiasan, dan kadang melingkar sebelum sampai pada maksud utama. Dari sini publik dapat menilai bahwa bahasa berpengaruh nyata terhadap cara orang Sunda Kuno mengekspresikan diri sekaligus membentuk identitas kolektif mereka.

Dalam teks Sunda Kuno, misalnya, tidak dikenal sistem tingkatan bahasa atau undak-usuk basa seperti yang kini akrab dalam bahasa Sunda modern di wilayah Priangan. Di sana, seseorang yang berbicara dengan orang tua, sesama teman, atau bahkan hewan, menggunakan kata kerja yang sama untuk tindakan “makan”. Tidak ada diferensiasi kosakata untuk menunjukkan rasa hormat atau hierarki sosial. Hal ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda Kuno lebih egaliter dalam komunikasi. Mereka lebih menekankan kejelasan pesan dibandingkan bentuk kesopanan yang rumit. Dari perspektif publik masa kini, hal ini bisa ditafsirkan sebagai wujud dari sikap langsung, terbuka, dan cenderung apa adanya dalam berkomunikasi.

Jika dibandingkan dengan masyarakat Jawa yang sangat terpengaruh budaya Mataram, tampak kontras yang jelas. Bahasa Jawa mengembangkan tingkatan yang sangat kompleks, mulai dari ngoko, krama, hingga krama inggil. Setiap tingkatan bahasa ini bukan hanya soal kata, tetapi juga mengandung norma sosial yang ketat mengenai siapa berbicara dengan siapa dan dalam situasi apa. Bahasa Sunda Kuno tidak mengenal hal ini. Maka publik bisa melihat bahwa sejak awal, orang Sunda memang memiliki tradisi komunikasi yang lebih sederhana dan langsung, tanpa banyak lapisan simbolik.

Namun kesederhanaan bukan berarti kekurangan. Justru di dalamnya terdapat kekayaan ekspresi yang berbeda. Cerita pantun Sunda Kuno, misalnya, adalah puisi epik yang tetap memiliki rima, tetapi narasinya langsung menuju inti cerita. Tidak ada banyak metafora berlapis atau alur yang berputar-putar. Ini berbeda dengan Kakawin Jawa Kuno atau Gurindam Melayu yang penuh kiasan. Publik dapat memahami bahwa cara berbahasa ini membentuk watak yang lebih lugas dan efisien, sebuah karakter yang masih bisa ditemukan hingga kini dalam beberapa komunitas adat Sunda, terutama di Badui.

Hal menarik lainnya adalah wawasan geografis yang tercermin dalam teks Sunda Kuno. Disebutkan bahwa seorang juru basa dharma murcaya mengetahui bahasa-bahasa dari hampir 50 daerah, bahkan sampai ke Makkah, Mesir, dan Persia. Hal ini menunjukkan keluasan cakrawala orang Sunda Kuno, sekaligus sifat ensiklopedis dalam pengetahuan mereka. Namun berbeda dengan ensiklopedia modern yang sistematis dan terperinci, pengetahuan ensiklopedis Sunda Kuno lebih berupa daftar yang mengandalkan ingatan kolektif. Dari sini publik bisa melihat bahwa kesederhanaan bahasa tidak menghalangi keluasan wawasan. Justru karena bahasa mereka lugas, informasi bisa disampaikan dengan efektif dan mudah dipahami.

Bahasa juga memengaruhi perilaku sosial. Karena tidak adanya tingkatan bahasa dalam Sunda Kuno, relasi sosial cenderung lebih setara. Komunikasi tidak dibatasi oleh rumus sopan santun yang berlapis-lapis, sehingga pesan bisa disampaikan lebih literal dan eksplisit. Publik masa kini bisa membandingkan hal ini dengan masyarakat Jawa, di mana kesopanan berbahasa sangat menentukan cara menyampaikan kritik, teguran, atau bahkan informasi sederhana. Dalam masyarakat Sunda Kuno, kritik atau pesan moral mungkin bisa disampaikan secara lebih terbuka, tanpa takut melanggar norma bahasa.

Kondisi ini juga berkaitan dengan latar sosial ekonomi. Masyarakat Sunda Kuno banyak yang berladang, berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Pola hidup berpindah membuat interaksi sosial lebih terbatas. Bahasa pun berkembang menjadi alat komunikasi seperlunya saja, tanpa perlu struktur rumit. Hal ini berbeda dengan masyarakat sawah yang menetap, seperti di Jawa, yang interaksinya lebih intens dan memerlukan sistem bahasa yang lebih kompleks untuk menjaga harmoni sosial. Publik bisa menarik kesimpulan bahwa sistem bahasa suatu masyarakat sangat dipengaruhi oleh cara hidupnya.

Di sisi lain, kesederhanaan bahasa Sunda Kuno tidak berarti masyarakatnya tidak mengenal sopan santun. Mereka tetap memiliki tata krama, hanya saja tidak diwujudkan dalam perbedaan kosakata atau tingkatan bahasa. Sopan santun mereka lebih pada tindakan nyata dalam interaksi sosial, bukan pada bentuk linguistik. Ini menunjukkan bahwa perilaku masyarakat Sunda Kuno lebih menekankan isi daripada bungkus. Publik dapat melihat nilai ini sebagai sesuatu yang relevan untuk zaman sekarang, ketika komunikasi seringkali terjebak dalam formalitas, padahal esensi pesannya justru hilang.

Tulisan ini yang bisa dibangun dari temuan ini adalah bahwa bahasa memang memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Orang Sunda Kuno dengan bahasanya yang lugas cenderung memiliki pola pikir yang praktis, langsung, dan tidak bertele-tele. Hal ini membentuk perilaku yang efisien dalam berkomunikasi. Sebaliknya, masyarakat dengan bahasa berlapis-lapis cenderung lebih berhati-hati, penuh kiasan, dan lebih menekankan keharmonisan daripada kejelasan. Tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk, tetapi perbedaan ini memberi warna pada karakter bangsa.

Jika publik memahami hal ini, maka kita bisa lebih menghargai keragaman bahasa di Nusantara. Bahasa Jawa dengan undak-usuknya melatih kesabaran, kehati-hatian, dan penghormatan. Bahasa Sunda Kuno dengan kelugasannya mengajarkan kejujuran dan keterbukaan. Bahasa Melayu Lama dengan keindahan kiasannya menumbuhkan apresiasi pada estetika dan retorika. Semua ini adalah kekayaan budaya yang menunjukkan betapa eratnya kaitan antara bahasa, perilaku, dan identitas kolektif.

Di era modern, ketika bahasa Indonesia menjadi lingua franca, publik perlu menyadari bahwa bahasa Indonesia pun dipengaruhi oleh sifat bahasa-bahasa lokal. Tidak adanya tingkatan dalam bahasa Indonesia, misalnya, sangat mirip dengan bahasa Sunda Kuno. Bahasa Indonesia bersifat egaliter, menyatukan penutur dari berbagai latar belakang tanpa membedakan usia atau status sosial dalam kosakata. Hal ini memberi pengaruh pada perilaku masyarakat Indonesia yang relatif egaliter dalam komunikasi, meskipun tetap ada hierarki sosial dalam praktiknya.

Akhirnya, tulisan ini tentang pengaruh bahasa terhadap perilaku bisa dirangkum dalam satu gagasan besar: bahasa bukan hanya cermin budaya, tetapi juga penentu arah pembentukan karakter bangsa. Orang Sunda Kuno dengan bahasa lugasnya membentuk masyarakat yang lebih langsung, efisien, dan egaliter. Masyarakat Jawa dengan bahasa bertingkat membentuk tradisi yang penuh sopan santun dan hierarki. Masyarakat Melayu dengan bahasanya yang berbunga-bunga melahirkan tradisi sastra yang indah dan filosofis. Semua ini menunjukkan bahwa keragaman bahasa Nusantara adalah modal budaya yang sangat berharga.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel