Ads

Legenda Hutan Sinang: Pertarungan Para Pendekar dan Jejak Pakungwati

 

Legenda Hutan Sinang: Pertarungan Para Pendekar dan Jejak Pakungwati

Ditulis oleh: Akang Marta


Di tepian pantai utara Jawa, kala angin masih berbau asin garam dan burung camar menari di cakrawala, terbentanglah Hutan Sinang yang bagaikan tirai hijau penutup rahasia bumi. Bak permata hijau di pelupuk tanah Indramayu, hutan itu menyimpan kisah yang tak lekang oleh hujan dan tak lapuk oleh panas. Orang-orang tua menyebutnya tempat bertemunya dunia kasar dan dunia halus, persinggahan roh yang tak mengenal batas. Di sanalah tanah, air, dan angin bersatu membentuk panggung bagi sejarah dan gaib yang berjalin. Maka nama Sinang pun hidup, meski zaman terus berganti, seolah pepatah lama berkata: “Pohon boleh tumbang, akar tetap berdenyut.”

Alkisah, pada abad ke-15, hutan itu pernah menjadi gelanggang pertempuran, saat darah menitik di atas dedaunan, dan bumi bergemuruh oleh teriakan manusia. Namun perang di sana tak sekadar adu tombak dan keris, melainkan juga pertarungan batin para tokoh sakti. Ada pendekar yang berilmu dari gunung jauh, ada pertapa yang bernafas seribu mantra, ada pula bayang gaib yang tak bernama namun berperan. Langit mendung menjadi saksi, laut beriak membawa kabar, bahwa yang bertempur bukan hanya jasad, melainkan juga jiwa. Sebagaimana pepatah mengatakan, “Senjata tajam hanya melukai raga, doa sakti menembus sukma.”

Dari kabut cerita itu, orang mengenang sosok seorang pendekar bersorban hitam, yang disebut-sebut mampu berjalan di atas ombak, seakan laut adalah lantai rumahnya. Lawannya adalah seorang pertapa berambut putih panjang, yang bersemayam di gua sunyi, menguasai aji dari kitab tua. Pertempuran mereka tak pernah berakhir dengan kemenangan mutlak, karena setiap serangan dibalas dengan doa, dan setiap doa dilawan dengan kesabaran. Hingga malam turun, keduanya lenyap dalam kabut, meninggalkan jejak sunyi di tanah Sinang. Dari situlah muncul pepatah desa: “Ilmu sejati bukan untuk menang, melainkan untuk menimbang dunia.”

Kini, Hutan Sinang tinggal tersisa dalam tutur, dalam dongeng yang bergaung di balai desa, diiringi asap dupa dan denting gamelan malam. Orang masih percaya bahwa di sela pepohonan yang tersisa, roh para pendekar dan pertapa masih bersemayam, menjaga batas antara nyata dan maya. Anak-anak mendengar kisahnya dengan mata berbinar, sementara para tetua menunduk khidmat seolah sedang menyampaikan amanat. Hutan Sinang menjadi cermin, bahwa sejarah dan gaib adalah dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Maka orang bijak pun berpesan, “Barangsiapa melupakan akar, ia akan terombang-ambing tanpa arah.”

Pertapa Tua dan Ramalan Hutan

Di sudut sunyi hutan yang lebat, tinggallah seorang pertapa renta bernama Ki Wiralodra, rambutnya memutih laksana benang kapas yang diterpa embun pagi. Ia memilih kesunyian sebagai kawannya, dan beringin raksasa sebagai payung abadi tempat ia menambatkan doa. Dalam hening itu, dunia gaib dan dunia nyata bersua, bagai bayangan dan cahaya yang tak pernah tercerai. Angin malam pun seolah tunduk pada napasnya, membawa bisikan alam yang tersimpan di rimba purba. Maka, hutan Sinang bukan sekadar belantara, melainkan kitab terbuka bagi mereka yang berani membaca rahasianya.

Konon, Ki Wiralodra kerap berbincang dengan para penunggu gaib yang bersemayam di balik kabut dan akar. Macan putih muncul bagai penjaga kesetiaan, naga hitam menjelma bayangan kekuatan, dan gagak yang berputar di langit menjadi isyarat akan datangnya petaka. Alam raya menjadi cermin, hewan-hewan gaib itu hanyalah lambang dari rahasia semesta yang enggan diungkapkan terang-terangan. Seperti pepatah kuno, “apa yang samar bukan berarti tiada, dan apa yang nyata kadang hanya bayangan fana.” Dengan itulah sang pertapa menakar arah zaman, membaca tanda-tanda tanpa tinta.

Ramalan pun terucap dari bibirnya yang renta, bagaikan air mengalir dari celah batu yang keras. Katanya, kelak hutan Sinang akan menjadi lautan darah, tempat senjata beradu dan ambisi menetes bagai hujan merah di dedaunan. Barang siapa mampu menaklukkan hutan ini, dialah yang menggenggam urat nadi perdagangan sepanjang pesisir utara Jawa. Ramalan itu bagai bara dalam sekam, diam-diam menyulut hati banyak orang yang mendengarnya. Begitulah, takdir sering berjalan dengan kaki gaib, membawa kabar sebelum peristiwa datang menjelma.

Desas-desus ramalan itu akhirnya sampai ke telinga para pendekar yang bernaung di bawah panji Kesultanan Pakungwati. Mereka mendengar bisikan itu laksana genderang perang dari kejauhan, menggema tanpa terlihat wujudnya. Hutan Sinang mendadak berubah menjadi panggung yang dirindukan dan ditakuti sekaligus, bagai perawan ayu yang diperebutkan banyak pangeran. Para pendekar sadar, siapa yang menguasai hutan itu akan menulis sejarah di atas papan waktu Jawa. Dan demikianlah, jalan takdir mulai berputar, menyiapkan lakon besar yang kelak dikenang turun-temurun.

Pendekar Pakungwati dan Para Penentang

Di bawah payung langit Pakungwati, dikisahkan para pendekar dikirim laksana bintang yang menjaga arah samudra. Mereka adalah tembok hidup, pelindung jalur dagang dari bayang perompak dan prajurit yang haus kuasa. Di antara mereka tampak Raden Jatnika, pendekar muda, darahnya masih hangat oleh restu leluhur. Pedang pusakanya berkilau biru kala purnama, seakan bulan sendiri menitipkan cahaya dalam bilahnya. Sebilah senjata yang ditempa bukan hanya oleh api, melainkan doa laut selatan yang tak pernah padam.

Namun, hukum jagat selalu berkata: “Di mana cahaya bersinar, di sanalah bayangan menari.” Dari arah timur datang pasukan bayaran, wajah-wajah gelap yang dipimpin Ki Jagatmaya. Namanya diucap dengan gemetar, sebab ia manusia yang menolak mati, tubuhnya keras bagai batu karang dilanda ombak seribu tahun. Konon ia pernah bertapa di Goa Kera, menukar bayangannya sendiri dengan roh siluman, hingga hidupnya tak lagi dibatasi oleh fana. Dialah angin malam yang membawa bisikan maut, lawan yang membuat darah pendekar bergejolak.

Pertemuan mereka bagaikan dua samudra bertubrukan, ombak dan ombak tak ada yang mundur. Hutan Sinang yang biasa tenang, seakan berubah menjadi gelanggang para dewa, tempat pepohonan berdoa agar rantingnya tak patah. Burung-burung beterbangan, lari dari denting senjata yang bernyanyi lebih nyaring dari kidung pagi. Tanah bergetar, rumput ikut menggigil, menyaksikan ilmu sakti bersilang laksana petir yang beradu di angkasa. Begitulah, sejarah sering lahir dari benturan dua tekad yang sama kerasnya.

Pertempuran pun menjelma kisah yang berhembus turun-temurun, dari bibir orang tua ke telinga cucu, dari nyala obor ke bara api perapian. Mereka berkata, “Barang siapa menanam dendam, maka panennya adalah darah; barang siapa menanam restu, maka panennya adalah cahaya.” Raden Jatnika dan Ki Jagatmaya menjadi dua nama yang terikat seperti api dan asap, tak bisa dipisahkan dalam ingatan. Hutan Sinang tetap berdiri, namun di setiap desir angin, ada gema sabda leluhur yang berbisik: bahwa hidup adalah gelanggang, dan manusia hanyalah bayang-bayang yang diuji oleh waktu.

Pertarungan Gaib di Malam Purnama

Tatkala purnama menggantung laksana perak di cawan langit, pasukan Pakungwati dan pengikut Ki Jagatmaya menyalakan bara perang. Tombak beradu bagai petir yang memukul bumi, keris menari laksana kilat yang merobek malam. Darah jatuh, menetes di tanah lembab, menjadi persembahan bisu bagi leluhur yang menyaksikan. Namun di balik hiruk pikuk baja dan daging, terselubung pertempuran gaib yang lebih ngeri daripada jerit manusia. Seperti kata pepatah: perang lahir adalah bayangan, perang batin adalah hakikat.

Raden Jatnika berdiri dengan pedang pusakanya, bagaikan cahaya fajar yang menantang gulita. Di hadapannya, Ki Jagatmaya menjelma guruh, dengan ajian lebur saketi yang mampu melelehkan baja dan hati. Sementara itu, Ki Wiralodra sang pertapa tua, duduk di bawah beringin tua yang berakar bagai urat bumi. Matanya terpejam, bibirnya bergetar membaca doa, menjaga keseimbangan jagat agar tidak runtuh. Ia tahu, yang goyah bukan hanya manusia, melainkan tatanan semesta.

Tiba-tiba langit murka, kegelapan menutupi wajah bulan. Gagak berputar-putar, suaranya laksana ratapan arwah yang tak pernah menemukan jalan pulang. Dari perut bumi yang retak, bangkitlah Naga Hitam Sinang, makhluk gaib penjelmaan roh prajurit tanpa pemakaman. Tubuhnya menjulang, sisiknya bagai baja berlumur malam, matanya menyala seperti bara dendam. Ia meraung, dan barisan prajurit dari kedua belah pihak pun porak-poranda laksana dedaunan ditiup badai.

Raden Jatnika terdesak, langkahnya goyah, hatinya hampir karam oleh gelombang ketakutan. Namun, di tengah kegaduhan batin, ia mendengar gema ajaran gurunya: “Hanya hati yang bening, bagai telaga tanpa lumpur, mampu menundukkan gaib yang liar.” Ia pun menancapkan pedang birunya ke tanah, menunduk, bersujud, pasrah pada kuasa Sang Hyang Agung. Seakan bumi dan langit turut mendengar, angin berhenti, dan hening menjelma doa. Dalam kepasrahan itu, kekuatan batin menyala lebih terang daripada seribu api.

Seketika, pedang biru itu memancar cahaya laksana matahari menembus kabut. Kilau sucinya memantul pada tubuh naga, menembus kulit dan tulang dendamnya. Naga meraung, raungannya memecah malam, lalu tubuhnya larut dalam asap hitam yang tercerai-berai. Tanah kembali diam, langit kembali terang, bulan kembali bersinar bagai mutiara di cawan langit. Dan pepatah kuno pun terbukti: kemenangan sejati bukan dari kuatnya tangan, melainkan dari sucinya hati.

Kutukan Hutan Sinang

Di tanah Sinang, darah merah menetes bagai embun besi yang jatuh ke bumi. Ki Jagatmaya, meski tubuhnya kebal, akhirnya roboh ditelan cahaya biru dari pedang Raden Jatnika. Pedang itu bukan sekadar baja, melainkan titisan doa leluhur yang ditempa di perapian laut selatan. Kilauannya menari di bawah bulan, seolah bintang turun untuk menutup riwayat seorang manusia tak kenal mati. Maka, rontoklah angkara, namun tumbuhlah kutukan yang lebih tajam dari bilah baja.

Sebelum napasnya putus, Ki Jagatmaya meludah kata-kata pahit ke tanah. "Wahai bumi Sinang, engkau bukan taman kedamaian, melainkan cawan darah dan nisan para penguasa," demikian sabdanya. Kata-kata itu bergaung, tak seperti suara manusia, tetapi bagai gong besar dipukul tangan gaib. Angin malam membawa kutukan itu, melilit pohon, mengendap di akar, dan meresap ke urat bumi. Sejak itu, hutan Sinang bukan sekadar hutan, melainkan kitab terkutuk yang ditulis dengan darah dan arwah.

Berabad-abad kemudian, tanah itu tetap menyimpan gemanya. Orang yang melintas mendengar suara gamelan tanpa rupa, bunyinya lirih namun menekan dada. Ada yang melihat bayangan prajurit berbaris, langkahnya teratur namun tanpa wajah. Ada pula yang mencium bau anyir darah meski tak ada luka, seakan tanahnya sendiri berdarah. Sinang pun menjadi panggung sunyi di mana dunia gaib dan dunia fana bersilang jalan.

Hutan itu ibarat cermin retak, memantulkan wajah siapa pun dengan garis-garis kehancuran. Raja yang mencoba menaklukkannya selalu kehilangan rasa damai, bagai duduk di singgasana emas namun dipanggang api di bawahnya. Tiada istana yang bisa berdiri tanpa gentar, bila akarnya tumbuh di tanah Sinang. Bumi di sana menolak ketenangan, seperti laut menolak api, dan angin menolak rantai. Maka, pepatah berkata, “Siapa menanam kuasa di tanah terkutuk, akan menuai bayangan sendiri.”

Demikianlah, Sinang hidup sebagai dongeng yang tak lekang, kisah yang berdenyut di dada para pengelana. Ia bukan sekadar hutan, tetapi pusaka gelap yang diwariskan dari sumpah seorang pendekar hitam. Setiap desir angin adalah bisikan arwah, setiap ranting patah adalah tanda peringatan. Di sana, waktu seakan berlutut pada kutukan, enggan melangkah bebas. Dan manusia hanya bisa lewat, berdoa lirih, agar tidak menjadi bagian dari kitab darah yang ditulis di tanah Sinang.

Hutan Menjadi Desa

Hutan yang dahulu menjadi medan tumpah darah kini beralih rupa menjadi tempat bersemi kehidupan. Prajurit yang lolos dari gelegar perang menanam harapan di tanah berlumur sejarah. Mereka menebang pepohonan bagai meruntuhkan tembok sunyi, membuka jalan bagi rumah-rumah bambu yang sederhana. Dari bara luka lahirlah api kehidupan, dari runtuhnya nyawa tumbuh tunas penghidupan. Desa itu dinamakan Sinang, tanda peringatan agar darah masa lalu tak pernah benar-benar kering.

Para tetua berkata, tanah ini adalah kitab yang ditulis dengan tinta darah dan air mata. Setiap jengkal bumi menyimpan gema sabda dan tapak kaki pendekar yang gugur. Maka, anak cucu diajarkan untuk menunduk sebelum berjalan, sebab tanah ini bukan sekadar bumi, melainkan pusaka yang hidup. Di antara desir angin dan gemerisik daun, terdengar wejangan halus: “Sapa nandur bakal ngundhuh.” Barang siapa menanam kesombongan, kelak akan menuai keruntuhan.

Desa Sinang pun tumbuh dengan dua wajah: satu penuh cahaya kerja keras, satu lagi bayangan kutukan lama. Sawah terbentang bagai permadani hijau, tetapi kadang terdengar gamelan tanpa rupa yang menari di tepi malam. Sungai memberi air, namun sesekali memantulkan bayangan prajurit berbaris. Kehidupan berjalan, tapi sejarah bernafas di setiap sudut. Sinang menjadi panggung tempat hidup dan arwah bersanding tanpa benar-benar berdamai.

Orang tua mengajarkan, “Urip iku sawang-sinawang,” hidup adalah bayangan yang saling menatap. Maka janganlah merasa tinggi, sebab gunung pun akan runtuh bila sombong menumpuk di puncaknya. Tanah Sinang telah menjadi guru, menegur dalam bisikan angin dan menasihati lewat suara jangkrik. Ia mengingatkan bahwa dunia adalah arena pergulatan abadi, antara darah dan bunga, antara perang dan damai. Desa ini bukan sekadar tempat tinggal, tetapi cermin takdir yang bercahaya sekaligus berduri.

Begitulah, Sinang berdiri di antara kutukan dan anugerah, antara luka dan kesuburan. Desa ini adalah prasasti yang ditulis dengan bahasa alam, bukan batu. Di sana, setiap langkah manusia menyentuh jejak para leluhur yang tak kasat mata. Siapa pun yang berani lupa akan sejarahnya, akan ditelan bayangan sendiri. Sinang pun menjadi suluk kehidupan: bahwa dari gelap lahir terang, dari perang tumbuh damai, dan dari tanah yang dikutuk justru muncul kehidupan.

Legenda yang Hidup

Cerita tentang Hutan Sinang bagaikan bara yang disembunyikan dalam abu, tak pernah benar-benar padam meski hujan zaman mengguyurnya. Anak-anak mendengarnya sebagai tembang pengantar tidur, tentang Raden Jatnika dan Ki Jagatmaya yang berkelahi dalam gulita. Pemuda menjadikannya tantangan hati, menyusuri bekas pepohonan besar untuk mengukur nyali. Setiap langkah kaki mereka seakan mengetuk pintu gaib yang tak terlihat, membuka tabir antara dunia manusia dan dunia arwah. Maka kisah itu hidup, bersemayam dalam rongga jiwa dan denyut tanah Sinang.

Bagi mata orang luar, Sinang hanyalah nama desa di Indramayu, sebidang tanah yang ditumbuhi sawah dan dipagari angin laut. Namun bagi telinga yang mau mendengar, ia adalah kitab tak tertulis, di mana sejarah dan mitos teranyam seperti benang emas dalam tenunan. Darah yang pernah tertumpah menyatu dengan doa yang tak pernah selesai diucapkan. Itulah sebabnya, desa ini bukan sekadar tempat tinggal, melainkan altar sunyi bagi roh leluhur. Di sanalah manusia belajar, bahwa tanah bukan hanya pijakan, melainkan ingatan yang menyala.

Konon, pada malam purnama, hutan itu masih bergetar oleh jejak langkah prajurit yang tak terlihat. Denting pedang terdengar samar, seolah perang itu belum pernah usai. Angin membawa bisikan serupa kidung duka, mengingatkan bahwa luka lama tak pernah betul-betul sembuh. Langkah manusia hanya bayang singkat, namun suara roh adalah gema panjang yang tak henti berulang. Maka siapa pun yang mendengar, sadar bahwa Sinang bukan sekadar desa, melainkan panggung antara fana dan baka.

Orang bijak berkata, "Gunung bisa runtuh, sungai bisa kering, tapi cerita tak akan mati." Demikian pula Sinang, ia abadi dalam dongeng yang terus berpindah dari lidah ke lidah. Anak cucu yang lahir selalu dibekali cerita, agar tahu dari mana mereka datang dan kepada siapa mereka harus hormat. Roh leluhur adalah pagar yang tak kasat mata, mengingatkan manusia agar rendah hati di tanah yang diwariskan darah. Sebab, barang siapa sombong, akan ditelan bumi bersama jejak langkahnya.

Maka, Sinang adalah cermin bagi kehidupan: pertemuan antara nyata dan gaib, sejarah dan mitos, doa dan darah. Desa ini mengajarkan, bahwa manusia hanya tamu di tanah leluhur, dan setiap tamu harus tahu tata krama. Di hutan itulah waktu membeku, menyimpan rahasia yang tak habis digali. Siapa pun yang mendengar kisahnya akan mengerti, bahwa legenda bukan sekadar dongeng, melainkan suluh yang menuntun jiwa. Dan selama cerita itu hidup, nama Sinang takkan pernah hilang dari ingatan manusia.

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel