Ads

Sunda Kuno: Jembatan Menuju Identitas Bangsa yang Kuat di Era Globalisasi

Sunda Kuno: Jembatan Menuju Identitas Bangsa yang Kuat di Era Globalisasi

Ditulis oleh: Akang Marta



Membicarakan Sunda Kuno dalam konteks Indonesia modern selalu memunculkan pertanyaan yang menarik sekaligus menantang. Apakah warisan teks, naskah, dan kebudayaan Sunda Kuno bisa memberi kontribusi nyata bagi Indonesia di tengah arus globalisasi? Pertanyaan ini bukan hanya relevan, tetapi juga menyentuh dilema klasik antara ilmu pengetahuan murni dengan kebutuhan praktis sebuah bangsa. Sering kali masyarakat berharap para akademisi mampu langsung memberikan jawaban kontekstual atas persoalan zaman sekarang dengan merujuk pada warisan masa lalu. Namun, seperti yang dikatakan para filolog, tugas utama ilmuwan adalah membaca, meneliti, dan mendokumentasikan sebanyak mungkin jejak literasi lama. Dari situlah kemudian lahir bahan yang bisa dimanfaatkan oleh siapa saja, baik untuk kebutuhan kebijakan, seni, hingga pembangunan identitas kebangsaan.

Pelajaran terbesar dari Sunda Kuno sesungguhnya terletak pada kesadaran bahwa masa lalu tidak pernah benar-benar hilang. Teks-teks, prasasti, artefak, bahkan tradisi lisan yang diwariskan berabad-abad lalu tetap ada dan tersedia. Permasalahannya bukan pada ketiadaan warisan, melainkan pada ingatan kolektif bangsa yang sering kali pendek. Kita lebih sering terpukau pada hal-hal baru dan asing, sambil lupa bahwa dalam naskah dan tradisi kita sendiri terdapat khazanah pengetahuan yang luas. Di titik inilah relevansi Sunda Kuno bisa ditempatkan: bukan sebagai jawaban instan untuk masalah geopolitik atau kebijakan negara, tetapi sebagai sumber daya epistemik yang bisa memperkuat identitas Indonesia dalam menghadapi dunia global.

Ketika dunia semakin terhubung, bangsa yang kuat bukanlah bangsa yang sekadar meniru atau mengimpor gagasan dari luar, melainkan bangsa yang mampu meneguhkan jati dirinya melalui pemahaman atas warisan budayanya. Sunda Kuno menyimpan potensi besar untuk itu. Melalui teks dan naskah kuno, kita bisa menemukan cara pandang leluhur Sunda terhadap alam, masyarakat, kepemimpinan, bahkan spiritualitas. Semua itu dapat dipelajari dan, bila relevan, diadaptasi menjadi inspirasi baru dalam membangun Indonesia yang berdaulat secara budaya.

Namun, tentu penting untuk menegaskan bahwa tidak semua warisan masa lalu bisa langsung dipakai. Sebagaimana seorang filolog katakan, kita tidak bisa memaksakan sebuah teks atau konsep kuno untuk menjadi metode praktis pemerintahan masa kini. Tidak semua gagasan masa lalu relevan secara teknis dengan problem kontemporer. Tetapi yang lebih penting adalah menyediakan ruang literasi agar masyarakat dan para pengambil kebijakan dapat menengok warisan itu, lalu menafsirkan sendiri nilai yang dapat diambil. Dengan demikian, peran akademisi bukan memaksakan relevansi, melainkan menyediakan jembatan pengetahuan.

Dalam konteks literasi kebangsaan, Sunda Kuno menjadi bahan penting bagi apa yang disebut sebagai upaya “reinventing Indonesia”. Menggali kembali naskah, prasasti, dan peninggalan kuno bukanlah usaha untuk bernostalgia, melainkan untuk menegaskan bahwa identitas Indonesia tidak datang begitu saja setelah kemerdekaan. Identitas itu dibangun dari lapisan-lapisan sejarah yang panjang, di mana Sunda Kuno menjadi salah satu bagian pentingnya. Melalui naskah dan peninggalan budaya, kita bisa melihat bahwa Indonesia sebenarnya sudah memiliki konsep-konsep kebangsaan, keadilan, dan etika sosial jauh sebelum istilah-istilah modern itu diperkenalkan oleh bangsa Barat.

Sayangnya, kelemahan kita sebagai bangsa sering kali terletak pada kemauan untuk memperpanjang ingatan. Buku-buku sejarah, naskah kuno, penelitian akademik, semuanya ada. Tetapi masyarakat luas jarang meliriknya, apalagi menjadikannya inspirasi. Akibatnya, warisan intelektual bangsa hanya berhenti di kalangan terbatas, sementara arus globalisasi dengan mudah membentuk cara pandang generasi muda tanpa filter budaya. Inilah jurang yang harus segera dijembatani. Sunda Kuno, bersama warisan nusantara lainnya, bisa menjadi penopang literasi nasional apabila ada upaya serius untuk menghadirkannya dalam ruang publik.

Kita bisa mencontoh bagaimana bangsa lain memperlakukan warisan budaya mereka. Mitologi Nordik, misalnya, kini bukan hanya menjadi bahan penelitian sejarah, tetapi juga dijadikan inspirasi industri kreatif seperti film, novel, dan gim. Nilai ekonominya luar biasa besar, sekaligus memperkuat identitas budaya bangsa yang bersangkutan. Mengapa Indonesia tidak bisa melakukan hal yang sama dengan Sunda Kuno? Teks, legenda, dan tradisi yang ada bisa diolah kembali menjadi karya seni, film, atau bahkan kebijakan pendidikan yang memperkaya wawasan kebangsaan. Yang diperlukan hanyalah kemauan untuk membuka kembali naskah dan berani menafsirkannya dengan perspektif masa kini.

Sunda Kuno juga memberi pelajaran penting dalam hal epistemologi. Ia mengingatkan kita bahwa pengetahuan tidak selalu datang dari Barat atau dari tradisi modern. Indonesia memiliki warisan literatur yang kaya, yang jika digali, bisa memberikan alternatif cara berpikir di luar kerangka dominan global. Misalnya, cara pandang masyarakat Sunda kuno terhadap alam yang menekankan keseimbangan, bisa menjadi inspirasi bagi kebijakan lingkungan di era krisis iklim saat ini. Begitu pula pandangan mereka tentang kepemimpinan yang lebih bersifat etis dan spiritual, bisa memberi perspektif berbeda di tengah politik modern yang sering pragmatis.

Namun, sekali lagi, tugas mengekstraksi nilai-nilai ini bukan hanya ada di pundak para akademisi. Filolog dan sejarawan bisa membuka pintu dengan menafsirkan teks dan menyediakan bahan, tetapi masyarakat luas, seniman, budayawan, bahkan politisi lah yang perlu menghidupkan kembali warisan itu dalam kehidupan sehari-hari. Kolaborasi semacam ini akan membuat Sunda Kuno tidak hanya hidup di rak perpustakaan atau jurnal ilmiah, tetapi juga hadir dalam percakapan publik, dalam karya kreatif, dan dalam pembentukan identitas bangsa.

Tulisan tentang Sunda Kuno seharusnya diarahkan pada kesadaran bahwa masa lalu bukanlah beban, melainkan sumber daya. Globalisasi memang menuntut kita bergerak cepat, tetapi justru di tengah arus cepat itulah kita butuh jangkar agar tidak hanyut. Sunda Kuno bisa menjadi salah satu jangkar itu. Dengan menghidupkan literasi sejarah dan budaya, Indonesia bisa tampil di kancah global bukan sekadar sebagai peniru, tetapi sebagai bangsa dengan identitas kuat yang memiliki kontribusi intelektual sendiri.

Lebih jauh, Sunda Kuno juga bisa menjadi bagian dari diplomasi budaya Indonesia. Dunia saat ini semakin terbuka pada keragaman perspektif. Menawarkan pandangan hidup, etika, atau filsafat yang lahir dari naskah-naskah kuno bisa menjadi cara baru untuk memperkenalkan Indonesia kepada dunia. Jika Jepang bisa memperkenalkan budaya samurai dan Zen, jika India bisa menghidupkan kembali teks Veda dan yoga, maka Indonesia pun bisa menghadirkan Sunda Kuno, Jawa Kuno, atau tradisi nusantara lain sebagai kontribusi pada percakapan global.

Pada akhirnya, pelajaran dari Sunda Kuno adalah bahwa masa lalu selalu menunggu untuk dibaca kembali. Barangnya ada, teksnya ada, peninggalannya ada. Yang sering kali hilang adalah kemauan kita untuk menengok, membaca, dan menghidupkannya kembali. Jurang terbesar bukan pada hilangnya manuskrip, melainkan pada ingatan kolektif bangsa yang terlalu pendek. Jika opini publik mulai menaruh perhatian pada pentingnya literasi sejarah, maka jurang itu bisa kita isi kembali. Dari situ, Indonesia bisa membangun masa depan yang kuat, bukan dengan melupakan masa lalu, tetapi dengan menjadikannya sumber inspirasi yang tiada habisnya.

 

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel