Ads

Kolonialisme dan Jurang Sejarah Sunda: Membangun Kembali Identitas Bangsa

Kolonialisme dan Jurang Sejarah Sunda: Membangun Kembali Identitas Bangsa

Penulis: Akang Marta



Kolonialisme selalu meninggalkan jejak luka yang dalam bagi bangsa yang pernah berada di bawah cengkeramannya. Namun, bagi masyarakat Sunda, luka itu terasa lebih rumit dan berlapis. Sejarah mencatat bahwa wilayah Jawa Barat, dengan tanahnya yang subur dan masyarakatnya yang relatif makmur, justru menjadi semacam laboratorium awal bagi praktik kolonialisme Belanda. Sistem cultuurstelsel yang kelak merenggut tenaga dan sumber daya manusia di berbagai wilayah Jawa, pertama-tama diuji coba di Cirebon dan sekitarnya. Artinya, masyarakat Sunda tidak hanya menjadi korban, tetapi juga objek eksperimen dari sistem kolonial yang menindas.

Kondisi ini semakin kompleks jika kita hubungkan dengan hilangnya rantai budaya yang sebelumnya begitu kaya. Pada abad-abad sebelumnya, teks-teks Sunda Kuno semacam Siksa Kandang Karesian menjadi sumber pengetahuan, etika, dan pedoman hidup masyarakat. Akan tetapi, sejak masuknya pengaruh Islam melalui Cirebon dan Banten, ditambah tekanan kolonial yang datang kemudian, tradisi literasi Sunda seakan terputus. Tidak ada lagi karya monumental yang lahir, tidak ada teks besar yang bisa dijadikan acuan. Sejarawan sering menyebut periode ini sebagai “jurang sejarah”, suatu masa di mana dokumentasi budaya seakan berhenti, meninggalkan lubang besar dalam pemahaman kita terhadap perjalanan masyarakat Sunda.

Ketika Belanda menemukan naskah-naskah kuno Sunda pada abad ke-18, mereka seperti menjumpai peradaban yang telah mati. Tradisi membaca dan memahami teks itu sudah lama hilang di kalangan orang Sunda sendiri. Tidak ada lagi yang mampu membaca aksara lama, apalagi meresapi makna filosofis di dalamnya. Hal ini menunjukkan betapa panjangnya masa jeda dalam transmisi budaya. Dalam kondisi demikian, ketika kolonialisme datang dengan membawa sistem eksploitatif, masyarakat Sunda nyaris tidak memiliki pegangan epistemik atau kesadaran kolektif yang kuat untuk menyadari bahwa mereka sedang ditindas. Eksploitasi terjadi secara halus, seakan tanpa perlawanan berarti, karena masyarakat sudah tercerabut dari akar-akar kebudayaannya sendiri.

Jika kita renungkan, dampak kolonialisme tidak hanya sebatas pengurasan sumber daya alam dan pemaksaan kerja rodi. Dampak yang paling parah adalah hilangnya kesinambungan budaya, sehingga masyarakat kehilangan daya kritis dan kemampuan untuk mengorganisasi perlawanan yang berbasis pada identitas kultural mereka. Tanpa teks, tanpa tradisi literasi yang hidup, masyarakat dipaksa untuk menjalani kehidupan praktis sehari-hari tanpa kerangka ideologis yang mempersatukan mereka. Maka tidak heran, orang Sunda di masa itu seakan “tidak sadar” bahwa mereka sedang dieksploitasi.

Namun, menyebut periode itu sebagai “zaman kegelapan” juga membutuhkan kehati-hatian. Istilah tersebut sering memberi kesan bahwa masyarakat sepenuhnya pasif dan tidak ada kehidupan budaya sama sekali. Padahal, kehidupan pasti tetap berjalan. Nilai-nilai lokal barangkali tetap diwariskan secara lisan, hanya saja tidak lagi terdokumentasikan dalam teks yang bisa diwariskan lintas generasi. Kekosongan dalam literatur bukan berarti masyarakat kehilangan seluruh kearifan, melainkan lebih pada persoalan historiografi: kita tidak memiliki cukup sumber untuk merekonstruksi periode tersebut. Jurang sejarah yang menganga ini lebih banyak disebabkan oleh hilangnya dokumentasi tertulis, bukan hilangnya total kehidupan intelektual.

Kolonialisme Belanda memperparah situasi tersebut. Sistem tanam paksa yang diuji coba di wilayah Sunda menempatkan masyarakat dalam posisi serba sulit. Mereka harus bekerja untuk kepentingan kolonial, sementara ruang budaya mereka sendiri semakin terdesak. Ironisnya, justru di tengah kondisi seperti itu, identitas Sunda yang dahulu kaya dengan teks dan doktrin spiritual perlahan memudar. Baru pada abad ke-19 dan 20 kita mulai menyaksikan kembali kebangkitan pemikir-pemikir Sunda seperti Hasan Mustafa, atau kiai-kiai lokal yang mulai menghidupkan kembali orisinalitas pemikiran.

Dari perspektif opini publik hari ini, jurang sejarah yang tercipta akibat kolonialisme mengajarkan kita bahwa kekuatan budaya tidak boleh dilepaskan dari peran literasi. Ketika masyarakat kehilangan kemampuan untuk membaca, menulis, dan merekam pengetahuan mereka sendiri, maka mereka menjadi rapuh di hadapan kekuatan eksternal. Kolonialisme berhasil bukan hanya karena kekuatan militer atau politiknya, melainkan juga karena masyarakat yang ditaklukkan kehilangan perangkat kultural untuk membela diri.

Oleh sebab itu, pembelajaran penting bagi kita sekarang adalah menghidupkan kembali tradisi literasi Sunda, bukan hanya sebagai kebanggaan etnis, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran kritis terhadap sejarah. Naskah-naskah kuno yang ditemukan bukan sekadar benda antik yang dipajang di museum, melainkan cermin yang bisa membantu kita memahami bagaimana leluhur kita pernah memandang dunia. Dengan memahami itu, kita bisa mengisi celah historiografi yang selama ini kosong, sekaligus membangun narasi alternatif terhadap sejarah kolonial yang selalu ditulis dari sudut pandang penguasa.

Dalam konteks global, apa yang dialami masyarakat Sunda sebenarnya bukan fenomena unik. Banyak bangsa lain yang juga mengalami periode “sunyi teks” atau kekosongan literatur ketika mereka berada di bawah tekanan kolonial atau imperium besar. Namun, yang membedakan adalah bagaimana bangsa tersebut kemudian bangkit dan menafsirkan kembali masa lalunya. Orang Yahudi, misalnya, juga pernah mengalami periode 200-300 tahun tanpa lahirnya kanon baru, tetapi kemudian mereka mampu menuliskan ulang narasi mereka. Tantangan bagi masyarakat Sunda adalah apakah kita mampu melakukan hal serupa: merekonstruksi kembali identitas kultural dari puing-puing sejarah yang tersisa.

Kolonialisme memang telah menciptakan jurang sejarah, tetapi jurang itu bukan berarti tak bisa dijembatani. Kita bisa menutup celah itu dengan riset, dengan menghidupkan kembali tradisi membaca naskah kuno, dengan membangun kesadaran publik bahwa sejarah tidak boleh dilihat hanya dari perspektif kolonial. Sayangnya, hingga hari ini, penelitian terhadap naskah-naskah Sunda masih relatif minim dibandingkan dengan perhatian terhadap teks Jawa atau Bali. Padahal, potensi untuk menemukan kearifan lokal yang relevan bagi zaman sekarang sangat besar.

Tulisan ini seharusnya mendorong adanya kesadaran kolektif bahwa menghidupkan kembali tradisi intelektual Sunda bukan semata tugas akademisi atau filolog, melainkan tugas masyarakat luas. Sekolah-sekolah bisa mulai mengenalkan aksara Sunda secara serius, bukan sekadar formalitas. Komunitas bisa mengadakan diskusi atau lokakarya membaca naskah kuno. Media bisa membantu mengangkat isu ini agar tidak hanya menjadi wacana elit, tetapi juga bagian dari kebudayaan populer. Dengan cara itu, jurang sejarah yang ditinggalkan kolonialisme bisa perlahan kita isi dengan narasi baru.

Pada akhirnya, kolonialisme bukan hanya peristiwa politik-ekonomi, melainkan juga peristiwa epistemik. Ia mencabut bangsa dari akar budayanya, lalu memaksakan sistem nilai baru yang membuat bangsa itu merasa rendah diri terhadap dirinya sendiri. Kesadaran akan jurang sejarah ini penting agar kita tidak mengulangi kesalahan serupa di masa kini. Modernisasi yang kita jalani jangan sampai membuat kita kembali tercerabut dari kebudayaan kita sendiri. Jika itu terjadi, maka kolonialisme hanya berganti wajah, dari Belanda ke kapitalisme global, tetapi dampaknya tetap sama: hilangnya identitas, hilangnya daya kritis, dan hilangnya kedaulatan budaya.

Masyarakat Sunda, dan bangsa Indonesia pada umumnya, harus belajar dari jurang sejarah ini. Kolonialisme telah mengajarkan betapa rapuhnya sebuah bangsa ketika ia melupakan budayanya. Kini saatnya kita menjadikan budaya sebagai benteng sekaligus sumber inspirasi. Karena bangsa yang mampu merawat ingatan sejarahnya adalah bangsa yang tidak akan mudah diperdaya lagi oleh kekuatan mana pun.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel