Belajar Menjadi Orang Baik: Tentang Kerendahan Hati, Lautan Doa, dan Kejujuran Mengakui Diri
Belajar Menjadi Orang Baik: Tentang Kerendahan Hati, Lautan Doa, dan Kejujuran Mengakui Diri
Oleh Akang Marta
Belajar menjadi orang baik bukan perkara mudah. Ia bukan tujuan yang bisa dicentang, bukan pula status yang bisa disematkan di dada. Ia adalah proses panjang, berliku, dan sering kali membuat seseorang harus berani mengakui sesuatu yang paling sulit diucapkan: bahwa dirinya belum baik, belum benar, dan masih jauh dari kata sempurna. Dalam dunia yang gemar memuja pencitraan, pengakuan semacam ini justru terdengar asing, bahkan dianggap kelemahan. Padahal, mungkin di sanalah letak kekuatan yang sesungguhnya.
“Saya ini bukan orang baik, bukan orang bener.” Kalimat ini bukan sekadar pernyataan, melainkan sikap hidup. Sebuah keberanian untuk berdiri di hadapan cermin tanpa riasan, tanpa topeng. Banyak orang ingin tampak benar, ingin diakui baik, ingin diposisikan sebagai panutan. Namun sedikit yang mau berkata jujur bahwa dirinya masih belajar, masih jatuh-bangun, dan masih sering keliru. Kejujuran semacam ini tidak lahir dari keputusasaan, tetapi dari kesadaran yang dalam bahwa kebaikan bukanlah bawaan lahir, melainkan hasil perjuangan batin.
Mengakui diri belum menjadi orang baik bukan berarti menolak kebaikan. Justru sebaliknya, itu adalah langkah pertama untuk mendekat kepadanya. Orang yang merasa sudah baik biasanya berhenti belajar. Ia merasa cukup, merasa selesai, merasa tidak perlu lagi mendengarkan. Sementara orang yang sadar dirinya belum baik akan terus membuka diri, terus memperbaiki niat, dan terus waspada terhadap kesombongan yang sering menyelinap diam-diam.
“Kalau datang kepada saya ingin belajar, emang mau belajar apa?” Pertanyaan ini mengandung makna yang dalam. Ia menolak posisi guru yang diagungkan, menolak peran tokoh yang dikeramatkan. Dalam masyarakat kita, sering kali seseorang ditempatkan terlalu tinggi hanya karena dianggap berilmu, berpengaruh, atau berbeda dari yang lain. Padahal, manusia tetaplah manusia: penuh keterbatasan, penuh kekurangan, dan rentan salah. Mengatakan “saya sendiri tidak bisa apa-apa” bukanlah bentuk merendahkan diri secara palsu, melainkan pengingat bahwa tidak ada manusia yang benar-benar memiliki segalanya.
Belajar tidak selalu harus dari orang yang merasa pandai. Kadang justru dari orang yang jujur mengakui ketidaktahuannya, kita menemukan ketulusan. Sebab ilmu tanpa kejujuran hanya akan melahirkan kesombongan, sementara ketidaktahuan yang disadari bisa melahirkan kebijaksanaan. Dalam konteks ini, belajar menjadi orang baik bukan soal menambah pengetahuan, melainkan menata hati, mengendalikan ego, dan merawat niat agar tetap lurus.
Ajakan istighosah di laut menjadi simbol yang kuat. Laut adalah ruang yang luas, dalam, dan tak mudah ditebak. Ia bisa tenang, bisa pula ganas. Berada di tengah laut berarti melepaskan rasa aman semu, melepaskan pegangan daratan yang biasa kita andalkan. “Tapi nanti ketika sudah berada di tengah lautan, jangan pernah bertanya di mana tepiannya.” Kalimat ini bukan larangan bertanya secara harfiah, melainkan peringatan tentang kesiapan batin.
Banyak orang ingin ikut dalam perjalanan spiritual, tetapi masih ingin jaminan. Ingin kepastian, ingin peta, ingin tahu kapan sampai dan apa hasilnya. Padahal, perjalanan batin sering kali justru dimulai ketika kita berani tidak tahu. Ketika kita rela tenggelam dalam doa, dalam kesunyian, dan dalam ketidakpastian, sambil menyerahkan diri sepenuhnya kepada Yang Maha Mengetahui. Bertanya di mana tepiannya sama saja dengan masih menggenggam rasa takut kehilangan kendali.
Istighosah di laut juga bisa dimaknai sebagai bentuk kepasrahan total. Laut tidak bisa dikuasai, tidak bisa diatur sesuka hati. Ia mengajarkan kerendahan hati: sekecil apa pun manusia di hadapan ciptaan Tuhan. Dalam posisi itu, status sosial, gelar, dan pengakuan publik menjadi tidak relevan. Yang tersisa hanyalah manusia dengan segala keterbatasannya, memohon pertolongan dengan penuh harap dan takut sekaligus.
Lalu ada kalimat penutup yang terdengar jenaka, tetapi sesungguhnya sarat makna sosial: “Kalau yang nulis postingan tentang saya emak-emak janda, bisa geger 7 kecamatan nih.” Di sini, ada kesadaran tentang bagaimana persepsi publik bekerja. Ada humor, ada sindiran, dan ada pengakuan bahwa manusia hidup di tengah masyarakat yang gemar membicarakan, menilai, dan membesar-besarkan sesuatu. Emak-emak janda dalam konteks ini bukan sekadar subjek candaan, tetapi simbol kekuatan opini sosial yang sering diremehkan, padahal sangat berpengaruh.
Kalimat ini sekaligus menunjukkan sikap santai menghadapi omongan orang. Tidak defensif, tidak reaktif, dan tidak merasa perlu membela diri mati-matian. Dalam belajar menjadi orang baik, salah satu ujian terberat adalah bagaimana bersikap ketika menjadi bahan pembicaraan. Apakah kita sibuk meluruskan citra, atau tetap fokus meluruskan niat? Apakah kita terganggu oleh penilaian orang, atau justru menjadikannya cermin untuk bercermin diri?
Menjadi orang baik bukan berarti bebas dari gosip, bebas dari fitnah, atau bebas dari salah paham. Justru sering kali, niat baik disalahartikan, langkah sederhana diperbesar-besarkan, dan kejujuran dianggap kelemahan. Di titik inilah kedewasaan diuji. Apakah kita tetap melangkah dengan tenang, atau berhenti hanya karena takut geger tujuh kecamatan?
Pada akhirnya, belajar menjadi orang baik adalah perjalanan seumur hidup. Tidak ada wisuda, tidak ada sertifikat, dan tidak ada pengakuan resmi. Yang ada hanyalah upaya terus-menerus untuk lebih jujur hari ini dibanding kemarin, lebih sabar minggu ini dibanding pekan lalu, dan lebih rendah hati esok dibanding sekarang. Mengakui diri belum baik bukan akhir, melainkan awal. Awal dari keberanian untuk berubah, untuk belajar, dan untuk berjalan meski belum tahu di mana tepiannya.
Dan mungkin, justru dengan sikap seperti itulah seseorang sedang berada di jalan kebaikan yang paling sunyi, paling jujur, dan paling manusiawi.
