Ads

Cari yang Lajang Saja, yang Beristri Biasanya Nggak Ada Duitnya, Karena Dipegang Istrinya

 Hanya Sekadar Himbauan: Tentang Batas, Logika, dan Realitas yang Sering Diabaikan

Oleh Akang Marta



Ini sebenarnya bukan nasihat sok suci, bukan pula ceramah panjang yang ingin mengatur hidup orang lain. Ini cuma himbauan sederhana, terutama untuk para cewek, yang mungkin sering kali terjebak dalam situasi abu-abu: cari yang lajang saja. Yang sudah beristri, tolong jangan digoda. Bukan karena dia suci, bukan karena kita ingin terlihat paling benar, tapi karena realitanya sering kali tidak seindah ekspektasi. Dan satu hal yang jarang diakui dengan jujur: biasanya nggak ada duitnya, karena dipegang istrinya.

Kalimat terakhir ini memang terdengar lucu, tapi justru di situlah kejujurannya. Banyak drama bermula bukan dari cinta yang tulus, tapi dari ilusi. Ilusi bahwa laki-laki beristri itu lebih mapan, lebih dewasa, lebih bertanggung jawab, dan lebih “aman”. Padahal, yang sering terjadi justru sebaliknya. Hidupnya sudah penuh kewajiban, pikirannya terbagi, dan dompetnya ya, sering kali sudah bukan wilayahnya lagi.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering melihat fenomena ini berulang. Ada cewek yang merasa “menang” karena bisa menarik perhatian pria beristri. Seolah-olah itu sebuah pencapaian. Padahal yang didapat bukan kemenangan, melainkan potensi masalah yang panjang. Bukan hanya untuk istri sah, tapi juga untuk diri sendiri.

Laki-laki beristri hidup dalam sistem yang berbeda. Ada tanggung jawab, ada perhitungan, ada prioritas. Bahkan kalaupun dia terlihat royal di awal, itu sering kali bukan uang bebas. Itu uang yang punya konsekuensi. Dan ketika konsekuensi datang, yang paling sering kena dampaknya justru pihak ketiga.

Himbauan ini bukan soal menyalahkan satu pihak. Bukan juga soal menganggap cewek sebagai penggoda atau laki-laki sebagai korban. Ini soal akal sehat. Soal membaca situasi dengan jujur. Soal tidak memaksakan perasaan ke dalam ruang yang sejak awal sudah sempit.

Cinta, perhatian, dan kasih sayang itu bukan barang langka. Tapi ketenangan hidup itu mahal. Dan ketenangan hampir tidak pernah lahir dari hubungan yang berdiri di atas konflik orang lain.

Ada juga realitas lain yang jarang dibahas secara terbuka: laki-laki beristri yang “terlihat menarik” sering kali menarik bukan karena dirinya, tapi karena sistem yang menopangnya. Ada istri yang mengurus rumah, ada keluarga yang menjaga stabilitas, ada rutinitas yang membuat hidupnya terlihat rapi. Ketika sistem itu diganggu, yang muncul bukan romantisme, tapi kekacauan.

Dan soal duit, mari kita jujur. Banyak yang mengira laki-laki beristri itu mapan. Padahal sebagian besar keuangan rumah tangga sudah dialokasikan. Ada kebutuhan anak, ada cicilan, ada dapur yang harus ngebul setiap hari. Jadi kalaupun dia terlihat sering traktir, sering janji ini-itu, sering pamer perhatian, besar kemungkinan itu hanya serpihan, bukan inti.

Lalu ketika suatu saat cewek berharap lebih kejelasan, komitmen, atau bahkan bantuan nyata yang muncul justru alasan. Alasannya klasik: “uang lagi dipegang istri”, “lagi susah”, “nanti dulu”, “tunggu waktu yang tepat”. Dari sini biasanya drama dimulai.

Himbauan ini juga tentang menghargai diri sendiri. Cewek tidak kekurangan pilihan. Dunia ini luas. Banyak laki-laki lajang yang jujur, punya ruang hidup, dan tidak membawa beban rumah tangga orang lain. Mungkin tidak se-glamor yang sudah beristri, mungkin belum mapan, tapi setidaknya jalannya jelas dan tidak sembunyi-sembunyi.

Hubungan yang sehat tidak dimulai dari bisik-bisik. Tidak tumbuh dari rasa takut ketahuan. Tidak berkembang dari jadwal yang selalu harus disesuaikan dengan “istrinya lagi di mana”. Kalau dari awal sudah rumit, ke depannya jarang jadi sederhana.

Untuk para laki-laki beristri, himbauan ini juga cermin. Jangan merasa bangga ketika masih ada yang menggoda. Itu bukan bukti kehebatan, tapi tanda bahwa batas belum dijaga dengan baik. Kesetiaan bukan cuma soal tidak melakukan, tapi juga soal tidak membuka peluang.

Masyarakat kita sering kali menormalisasi hal-hal seperti ini dengan bercanda. “Ah, cuma chat doang.” “Cuma teman.” “Nggak ngapa-ngapain.” Padahal banyak keretakan besar berawal dari hal-hal kecil yang dianggap sepele. Dari obrolan ringan, dari perhatian yang salah alamat, dari ego yang ingin diakui.

Pada akhirnya, himbauan ini bukan larangan keras, bukan hukum mati. Ini sekadar pengingat bahwa hidup itu soal pilihan. Dan setiap pilihan punya konsekuensi. Menggoda yang sudah beristri mungkin terasa seru sesaat, tapi jarang berakhir baik.

Cari yang lajang saja. Bukan karena yang beristri itu buruk, tapi karena hidup sudah cukup rumit tanpa harus menambah masalah yang sebenarnya bisa dihindari. Dan soal duit iya, sering kali memang dipegang istrinya. Tapi yang lebih penting dari itu: masa depan dan ketenangan hidup juga bukan milik kita untuk dipinjam-pakai.

Hidup ini terlalu berharga untuk dihabiskan dalam hubungan setengah-setengah. Terlalu singkat untuk dijalani dengan sembunyi-sembunyi. Dan terlalu mahal untuk dibayar dengan air mata yang sebenarnya tidak perlu.

Jadi, ini bukan sindiran, bukan hinaan. Hanya himbauan. Dengan sedikit humor, sedikit realitas, dan banyak harapan agar kita semua lebih bijak membaca situasi sebelum perasaan terlanjur jauh dan logika tertinggal di belakang.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel