Ads

Lawas Ora Nyeting FB: Ketika yang Perlu Disetel Bukan HP, Tapi Pikiran

 Lawas Ora Nyeting FB: Ketika yang Perlu Disetel Bukan HP, Tapi Pikiran

Oleh Akang Marta


“Lawas ora seting-seting FB sampe klalen arep ganti aran gah ora kelingan carane.” Kalimat ini terdengar sepele, tapi sesungguhnya sangat mewakili banyak orang hari ini. Bukan hanya soal Facebook yang lama tak disentuh, bukan pula sekadar lupa cara mengganti nama. Ia adalah potret manusia modern yang terlalu sibuk menjalani hidup sampai lupa merawat dirinya sendiri baik secara digital maupun batiniah.

Di satu sisi, ada HP yang setiap hari kita pegang. Layar disentuh, aplikasi dibuka, notifikasi dicek tanpa jeda. Tapi di sisi lain, ada pikiran yang jarang kita “setting ulang”. Ada perasaan yang dibiarkan penuh cache, memori yang tak pernah dibersihkan, dan emosi yang terus menumpuk tanpa pernah ditanya kabarnya. Kita rajin update aplikasi, tapi malas update cara berpikir.

“Yu gh pn nyeting MH bkt hp bae di seting.” Kalimat ini seperti nasihat santai, tapi mengandung sindiran halus. Kita sering minta tolong orang lain untuk mengatur HP kita, tapi jarang minta tolong siapa pun untuk membantu menata pikiran kita. Padahal, hidup tidak dijalankan oleh HP, melainkan oleh kepala dan hati.

Ketika Facebook tidak disetel bertahun-tahun, akibatnya paling-paling cuma lupa password atau bingung ganti nama. Tapi ketika pikiran tidak pernah disetel ulang, akibatnya bisa jauh lebih serius. Kita jadi gampang marah, cepat tersinggung, mudah lelah, dan sering merasa hidup ini berat padahal belum tentu seberat itu. Pikiran yang tidak di-setting lama-lama error sendiri.

“Yeting otak tah yeting pikiran ayu mumpung lagi liburan.” Ini kalimat kunci. Liburan seharusnya bukan hanya jeda dari kerja fisik, tapi juga jeda dari kebisingan batin. Banyak orang liburan secara badan, tapi pikirannya tetap kerja lembur. Ke pantai bawa masalah, ke gunung masih mikir cicilan, ke rumah saudara tetap sibuk membandingkan hidup.

Setting pikiran bukan berarti menghapus masalah. Sama seperti HP, setting ulang bukan membuat data hilang, tapi menata ulang agar sistem berjalan lebih ringan. Pikiran yang disetting ulang akan lebih jernih melihat masalah. Yang dulu terasa besar, bisa jadi tampak biasa. Yang dulu bikin sesak, pelan-pelan terasa bisa dihadapi.

“Nooss baeee Bu.” Kalimat ini terdengar seperti ajakan pasrah, tapi sebenarnya ajakan untuk tenang. Dalam hidup, tidak semua harus dikejar, tidak semua harus dipikirkan sekaligus. Ada waktunya kita perlu berkata pada diri sendiri: cukup dulu. Tarik napas. Diam sebentar. Dunia tidak runtuh hanya karena kita berhenti sebentar.

Di zaman sekarang, banyak orang sibuk mengatur citra. Foto harus rapi, status harus lucu atau bijak, nama akun harus estetik. Tapi jarang yang mengatur isi kepalanya sendiri. Akibatnya, meski tampilan luar tampak baik-baik saja, di dalamnya penuh kebisingan. Hati capek, pikiran ruwet, tapi tetap dipaksa tersenyum.

“Kuh ilokan Ari anu kuh…” Kalimat ini terdengar menggantung, seperti pikiran yang belum selesai. Dan memang begitulah pikiran manusia. Tidak semua harus selesai sekarang. Tidak semua harus diberi nama. Ada hal-hal yang cukup disimpan, direnungkan, lalu dilepas perlahan.

Lupa cara ganti nama di Facebook bisa jadi pertanda bahwa hidup sudah terlalu penuh dengan urusan lain. Terlalu banyak yang dipikirkan sampai hal-hal kecil terlewat. Dan itu tidak apa-apa. Yang jadi masalah bukan lupa caranya, tapi lupa bahwa diri sendiri juga perlu diperhatikan.

Setting pikiran bisa dimulai dari hal sederhana. Tidur cukup. Mengurangi membandingkan hidup dengan orang lain. Menerima bahwa tidak semua rencana berjalan mulus. Berhenti menyalahkan diri sendiri atas hal-hal yang berada di luar kendali. Sama seperti HP yang kadang lemot bukan karena rusak, tapi karena terlalu banyak aplikasi berjalan.

Liburan bukan soal pergi jauh. Kadang cukup dengan duduk diam, minum kopi, dan membiarkan pikiran bernapas. Tidak membuka apa pun. Tidak membalas apa pun. Hanya hadir untuk diri sendiri. Itu pun sudah bentuk setting ulang yang mahal nilainya.

Tulisan ini bukan menertawakan orang yang lupa setting FB. Justru sebaliknya, ia adalah cermin. Betapa sering kita sibuk mengurus hal-hal teknis, tapi lupa mengurus hal yang paling penting: kondisi batin. Kita bisa belajar fitur baru di HP dengan cepat, tapi belajar menenangkan diri sering kita tunda.

Maka, jika hari ini Anda lupa cara mengganti nama akun, jangan panik. Mungkin itu tanda bahwa yang lebih perlu diganti bukan nama di Facebook, tapi cara memandang hidup. Jika HP bisa disetting ulang, pikiran pun bisa. Asal kita mau berhenti sebentar dan jujur pada diri sendiri.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang seberapa rapi akun media sosial kita, tetapi seberapa tenang pikiran kita menjalaninya. Nooss baeee, Bu. Seting otak, seting pikiran. Mumpung lagi liburan.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel