Ads

CEO, Bos Ayam, dan Seni Menyembunyikan Diri di Tengah Dunia yang Gemar Pamer

CEO, Bos Ayam, dan Seni Menyembunyikan Diri di Tengah Dunia yang Gemar Pamer

Oleh Akang Marta



“Apa aku bongkar saja identitasku yang sebenarnya sebagai CEO biar dia menyesal?”
Kalimat itu terdengar seperti adegan sinetron atau film motivasi murahan. Seolah-olah hidup ini adalah panggung besar tempat kebenaran harus dibuka dengan efek dramatis agar lawan terdiam dan menyesal. Tapi cerita ini langsung belok ketika ada yang nyeletuk, “CEO ikuh merk banyu kemasan ya bro?” Wakakakaka.

Di situlah letak keindahannya. Satir yang sederhana, tapi menghantam tepat di ulu hati budaya pamer yang semakin hari semakin kehilangan makna.

Iya bro, betul. Kang M sedang menyamar jadi Bos Ayam. Bukan karena dia takut, bukan karena dia miskin, apalagi karena dia gagal. Justru sebaliknya. Di balik bau amis, celemek lusuh, dan tangan yang belepotan, ada aset yang nilainya bisa bikin orang-orang berjas rapi mendadak minder. Milyaran dolar. Tapi semua itu tidak perlu diumumkan.

Karena ternyata, menjadi CEO tidak selalu berarti duduk di kursi empuk, berbicara bahasa Inggris campur-campur, lalu memposting foto di ruang meeting ber-AC. Kadang CEO itu hanyalah singkatan dari Cuci Elap Ompreng. Pekerjaan yang tidak pernah masuk seminar motivasi, tapi justru menopang hidup banyak orang.

Lucunya, di zaman sekarang, orang lebih sibuk terlihat sukses daripada benar-benar hidup dengan jujur. Jabatan menjadi identitas. Gelar menjadi harga diri. Padahal ketika semua itu ditanggalkan, yang tersisa hanyalah manusia dengan isi kepala dan sikap hidupnya.

Bos Ayam sering diremehkan. Dipandang sebelah mata. Dikiranya hidup dari sisa-sisa, dari keringat yang tidak layak dibanggakan. Padahal justru dari situ, pelajaran paling jujur lahir. Tentang kerja keras tanpa sorotan, tentang uang yang didapat dari tangan sendiri, bukan dari citra yang dibangun di media sosial.

Orang-orang yang gemar meremehkan sering lupa satu hal: hidup ini bukan lomba caption. Bukan juga ajang unjuk siapa paling kelihatan sukses. Banyak orang kaya yang tidak berisik. Banyak orang berisi yang memilih diam. Dan banyak pula orang yang kelihatannya hebat, tapi rapuh ketika tidak lagi dipuji.

Ketika muncul keinginan untuk “membongkar identitas”, sebenarnya itu bukan soal ingin membalas. Itu refleksi dari dunia yang terlalu sering mengukur manusia dari kulitnya. Seolah nilai seseorang baru sah kalau sudah disahkan oleh jabatan dan angka.

Padahal, orang yang benar-benar mapan tidak punya kebutuhan untuk membuat orang lain menyesal. Dia tidak hidup dari reaksi orang lain. Dia tidak menunggu pengakuan. Dia sudah selesai dengan dirinya sendiri.

Menyamar jadi Bos Ayam bukan strategi marketing. Itu pilihan hidup. Pilihan untuk tetap membumi di tengah dunia yang semakin kehilangan tanah pijakan. Pilihan untuk tidak mabuk status di saat banyak orang tenggelam dalam ilusi kesuksesan instan.

CEO (Cuci Elap Ompreng) mungkin terdengar lucu. Tapi di situlah letak kejujurannya. Tidak ada kepalsuan. Tidak ada topeng prestise. Yang ada hanya kerja nyata, keringat, dan kesadaran bahwa hidup tidak harus selalu terlihat mewah untuk bermakna.

Ironisnya, orang-orang yang paling ribut mengaku CEO seringkali tidak pernah memimpin apa-apa. Mereka memimpin citra, bukan manusia. Mereka sibuk membangun branding, tapi lupa membangun karakter. Mereka takut terlihat kecil, karena isi dalamnya kosong.

Sementara Bos Ayam yang diam-diam itu, justru memimpin dirinya sendiri. Tidak silau pujian, tidak runtuh oleh hinaan. Dia tahu siapa dirinya, dan itu sudah cukup.

Kalau identitas itu dibongkar, siapa sebenarnya yang akan menyesal? Bukan si Bos Ayam. Tapi mereka yang sejak awal terburu-buru menilai. Mereka yang merasa lebih tinggi hanya karena duduk di kursi yang lebih empuk. Mereka yang lupa bahwa roda hidup tidak selalu berputar searah caption Instagram.

Tulisan ini bukan tentang CEO atau Bos Ayam. Ini tentang pilihan sikap. Tentang keberanian untuk menjadi sederhana di dunia yang memuja kemewahan. Tentang keteguhan untuk bekerja jujur di tengah budaya pencitraan.

Karena pada akhirnya, hidup tidak menanyakan apa jabatanmu, tapi bagaimana caramu memperlakukan orang lain. Tidak peduli berapa asetmu, tapi bagaimana kamu menjalaninya. Tidak penting apa gelarmu, tapi apakah kehadiranmu membawa manfaat.

Jadi, perlu kah membongkar identitas agar orang lain menyesal? Tidak selalu. Kadang, diam justru lebih elegan. Kadang, tetap jadi Bos Ayam adalah bentuk kemenangan paling tenang.

Biarlah mereka tertawa. Biarlah mereka salah paham. Selama kita tahu siapa diri kita, tidak ada yang perlu dibuktikan. Karena CEO sejati tidak sibuk menjelaskan. Dia sibuk menjalani hidupnya dengan lurus.

Dan kalau pun CEO itu hanya “Cuci Elap Ompreng”, setidaknya itu pekerjaan yang jujur, halal, dan tidak hidup dari kebohongan. Di dunia yang penuh topeng, itu sudah lebih dari cukup.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel