Ads

Pagi Awal 2026: Membangun Positivisme Kuat, Bertahan dengan Maju Perlahan

Pagi Awal 2026: Membangun Positivisme Kuat, Bertahan dengan Maju Perlahan

Oleh: Akang Marta


Pagi awal tahun 2026 datang tanpa gegap gempita. Tidak ada kembang api, tidak ada hitung mundur, tidak ada sorak sorai. Yang ada hanya udara pagi yang masih jujur, kopi yang mengepul pelan, dan kesadaran bahwa waktu terus berjalan apakah kita siap atau tidak. Di pagi seperti inilah refleksi terasa paling jernih. Tidak terburu-buru. Tidak dipaksa. Hanya duduk, menarik napas, dan mengakui satu hal sederhana: kita masih ada, dan itu sudah cukup untuk memulai.

Awal tahun selalu membawa beban simbolik. Seolah-olah kita diwajibkan menjadi versi terbaik dari diri sendiri hanya karena kalender berganti angka. Padahal hidup tidak pernah bergerak dengan lompatan besar. Hidup berjalan dengan langkah-langkah kecil, sering kali tertatih, kadang mundur, namun perlahan menemukan ritmenya. Di pagi awal 2026 ini, aku memilih tidak menjanjikan perubahan spektakuler. Aku memilih satu hal yang lebih jujur: membangun positivisme yang kuat, bersama teman-teman, sambil bertahan dan maju perlahan.

Positivisme yang kumaksud bukan optimisme kosong. Bukan menutup mata dari realitas. Justru sebaliknya, ia lahir dari keberanian untuk melihat keadaan apa adanya, lalu tetap memilih harapan. Positivisme adalah sikap batin yang tidak menyerah meski tahu jalan tidak mudah. Ia bukan teriakan keras, melainkan keyakinan yang tenang. Dan keyakinan semacam ini hanya bisa dibangun bersama bukan sendirian.

Bersama teman-teman, aku belajar bahwa energi positif itu menular. Dalam obrolan sederhana, diskusi kecil, bahkan dalam tawa yang tidak direncanakan, ada kekuatan yang menjaga kita tetap waras. Teman-teman bukan hanya tempat berbagi cerita, tetapi juga ruang untuk saling mengingatkan. Ketika satu orang lelah, yang lain menopang. Ketika satu mulai pesimis, yang lain mengingatkan bahwa kita masih punya alasan untuk bertahan.

Indramayu, bagiku, bukan sekadar tempat tinggal. Ia adalah ruang hidup dengan tradisi, irama, dan karakter yang khas. Di awal 2026 ini, aku kembali menyadari betapa pentingnya merawat tradisi, bukan sebagai romantisme masa lalu, tetapi sebagai jangkar identitas. Tradisi memberi kita pijakan di tengah perubahan cepat. Ia mengajarkan bahwa tidak semua hal harus diubah; ada yang cukup dijaga, dirawat, dan diteruskan.

Tradisi Indramayu adalah tentang kebersamaan, tentang guyub, tentang rasa memiliki. Ia hadir dalam bahasa, dalam kebiasaan, dalam cara orang menyapa dan duduk bersama. Di tengah arus modernitas dan digitalisasi, tradisi sering dianggap kuno. Padahal justru di situlah nilai kemanusiaan dijaga. Tradisi mengingatkan kita bahwa manusia bukan sekadar individu, tetapi bagian dari komunitas.

Di sisi lain, aku juga berada dalam lingkungan akademisi ruang yang seharusnya menjadi rumah bagi pikiran jernih, dialog sehat, dan pencarian kebenaran. Refleksi di awal 2026 ini membawaku pada satu harapan besar: lingkungan akademisi yang lebih baik. Lebih jujur, lebih terbuka, dan lebih manusiawi. Akademisi tidak boleh kehilangan nurani hanya karena sibuk mengejar angka, jabatan, atau pengakuan.

Lingkungan akademik yang sehat bukan tentang siapa paling pintar, tetapi siapa paling mau belajar. Bukan siapa paling vokal, tetapi siapa paling bertanggung jawab. Aku berharap ruang-ruang diskusi tidak lagi dipenuhi ego, melainkan rasa ingin tahu. Bahwa perbedaan pandangan tidak dilihat sebagai ancaman, tetapi sebagai kekayaan intelektual.

Di awal tahun ini, aku juga belajar berdamai dengan konsep “bertahan dengan maju perlahan”. Dunia sering memuja kecepatan. Siapa cepat, dia dapat. Siapa lambat, tertinggal. Namun hidup tidak selalu adil dengan logika itu. Ada fase di mana bertahan saja sudah merupakan pencapaian besar. Ada masa ketika melangkah pelan justru menyelamatkan kita dari kelelahan yang tidak perlu.

Maju perlahan bukan berarti malas. Ia adalah strategi bertahan. Ia adalah bentuk kebijaksanaan untuk mengenali batas diri. Dalam konteks ini, aku belajar untuk tidak membandingkan langkahku dengan langkah orang lain. Setiap orang punya lintasan hidup masing-masing. Yang penting bukan seberapa cepat kita sampai, tetapi apakah kita masih utuh saat berjalan.

Awal 2026 ini juga mengajarkanku untuk lebih ramah pada diri sendiri. Tidak semua rencana harus berhasil. Tidak semua target harus tercapai. Ada kalanya hidup hanya meminta kita hadir, melakukan yang terbaik hari ini, lalu beristirahat tanpa rasa bersalah. Positivisme yang sehat justru lahir dari penerimaan, bukan dari tekanan.

Aku melihat tahun 2026 bukan sebagai medan pembuktian, tetapi sebagai ruang pertumbuhan. Bersama teman-teman, bersama tradisi Indramayu, dan di dalam lingkungan akademisi yang terus diperbaiki, aku ingin berjalan dengan kesadaran penuh. Menjaga niat, merawat relasi, dan tetap rendah hati dalam belajar.

Pagi awal tahun ini menjadi pengingat bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari keputusan kecil: memilih bersikap baik, memilih jujur, memilih bertahan satu hari lagi. Dari pilihan-pilihan kecil itulah hidup disusun. Tidak dramatis, tetapi nyata.

Jika ada satu kalimat yang ingin kusimpan sebagai pegangan di awal 2026 ini, mungkin ini: kita tidak harus menjadi luar biasa untuk menjadi bermakna. Cukup menjadi konsisten, peduli, dan mau terus bergerak meski perlahan. Karena pada akhirnya, hidup bukan lomba lari, melainkan perjalanan panjang yang perlu dinikmati dengan kesadaran.

Di pagi yang masih sunyi ini, aku menguatkan satu keyakinan: membangun positivisme kuat adalah kerja kolektif. Menjaga tradisi adalah bentuk cinta. Memperbaiki lingkungan akademisi adalah tanggung jawab moral. Dan bertahan sambil maju perlahan adalah keberanian.

Dengan itu semua, aku melangkah ke 2026 bukan dengan gegap gempita, tetapi dengan hati yang lebih tenang. Siap berjalan. Siap belajar. Siap tumbuh.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel