Tentang Tipikal Cowok Idaman Para Cewek
Tentang Tipikal Cowok Idaman Para Cewek
Oleh Akang Marta
Di awal tahun ini, aku kembali memikirkan satu hal yang jarang dibicarakan dengan jujur: ke mana seorang cowok bercerita ketika ia jatuh, ketika ia capek, ketika hidup terasa terlalu berat untuk ditanggung sendirian. Pertanyaan ini tidak pernah muncul di ruang-ruang ramai. Ia hadir pelan, biasanya di malam hari, ketika suara dunia mengecil dan pikiran mulai berisik.
Kenyataannya sederhana namun pahit: kebanyakan cowok tidak punya tempat curhat seperti cewek. Tidak ada telepon berjam-jam hanya untuk bercerita tanpa tujuan. Tidak ada ruang aman untuk menangis tanpa takut dihakimi. Dan hampir tidak pernah ada pelukan yang bisa didatangi kapan saja. Sejak kecil, banyak cowok diajari satu hal yang sama: kuatlah, jangan manja, jangan merepotkan orang lain.
Kalau cowok lagi jatuh, ia jarang bilang. Kalau lagi capek, ia lebih sering diam. Bukan karena tidak ingin bicara, tetapi karena tidak tahu harus bicara ke siapa. Ia tidak mungkin lari ke orang tua lalu memeluk dan mengadu seperti anak kecil. Bukan karena tidak butuh, tetapi karena merasa itu bukan perannya lagi. Ia sudah terlalu lama memikul ekspektasi untuk selalu terlihat baik-baik saja.
Akhirnya, yang terjadi sering kali sama. Cowok itu memilih diam. Memasang headset. Memutar lagu yang ia suka—lagu yang mungkin tidak pernah ia ceritakan maknanya ke siapa pun. Lagu yang liriknya terasa seperti berbicara langsung ke dadanya. Lalu rokok dinyalakan. Asap dihembuskan pelan, seolah bersama asap itu ia melepaskan sedikit beban yang terlalu penuh di dalam kepala.
Cowok itu sudah terbiasa menelan masalahnya sendiri. Mengurus lukanya sendiri. Mengelola kecewanya sendiri. Tidak ada drama, tidak ada keluhan panjang. Yang ada hanya kelelahan yang disimpan rapi. Capek dipendam. Kecewa disimpan. Luka diurus diam-diam. Semua dilakukan dengan satu prinsip yang tertanam sejak kecil: jangan bikin orang lain khawatir.
Dari luar, cowok seperti ini sering terlihat kuat. Tenang. Terkendali. Tidak banyak bicara. Banyak orang mengira mereka tidak punya masalah, atau masalah mereka tidak sebesar orang lain. Padahal kenyataannya bukan begitu. Mereka bukan tidak sakit. Mereka hanya tidak terbiasa menunjukkan rasa sakitnya.
Ada ironi yang sunyi di sini. Cowok sering menjadi tempat bersandar bagi banyak orang—keluarga, pasangan, teman—tetapi jarang memiliki tempat untuk bersandar sendiri. Ia menjadi pendengar yang baik, penopang yang sabar, pemecah masalah yang rasional. Namun ketika ia sendiri butuh didengar, dunia seolah tidak menyediakan kursi untuknya.
Sebatang rokok sering kali menjadi simbol dari semua itu. Bukan soal nikotin atau kebiasaan buruknya, tetapi tentang ritual diam. Tentang jeda. Tentang momen singkat di mana cowok itu bisa berhenti sejenak dari tuntutan hidup. Selama masalah itu masih bisa “diselesaikan” dengan satu batang rokok, ia merasa tidak perlu mengganggu siapa pun. Ia memilih menanggung sendiri, seperti yang selalu ia lakukan.
Setelah rokok habis, ia berdiri. Menghela napas. Lalu kembali ke dunia. Kembali menjalankan perannya. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah tadi malam tidak ada pertempuran di dalam kepala. Seolah ia tidak sedang lelah. Karena begitulah ia belajar hidup: kuat bukan berarti tidak terluka, tetapi tetap berjalan meski terluka.
Di awal tahun ini, aku merasa refleksi seperti ini penting. Bukan untuk meromantisasi penderitaan cowok, bukan pula untuk menyalahkan siapa pun. Tetapi untuk jujur. Jujur bahwa banyak cowok hidup dengan kesepian yang tidak terlihat. Kesepian yang tidak selalu berarti sendirian secara fisik, tetapi sendirian dalam memikul beban batin.
Budaya kita sering memuji cowok yang “tahan banting”. Yang tidak mengeluh. Yang tidak cengeng. Namun jarang bertanya: apa harga yang harus dibayar untuk itu semua? Berapa banyak emosi yang dipendam? Berapa banyak luka yang tidak pernah sembuh sempurna karena tidak pernah dibicarakan?
Aku percaya, banyak cowok sebenarnya ingin bercerita. Ingin didengar tanpa dihakimi. Ingin mengeluh tanpa dicap lemah. Ingin mengatakan “aku capek” tanpa merasa bersalah. Tetapi ruang itu jarang ada. Dan ketika ruang tidak tersedia, diam menjadi pilihan paling aman.
Refleksi ini bukan ajakan untuk mengubah cowok menjadi sosok yang berbeda dari dirinya. Ini adalah ajakan untuk lebih manusiawi. Untuk mengakui bahwa cowok juga butuh ruang aman. Butuh teman yang mau mendengar tanpa menggurui. Butuh lingkungan yang tidak langsung memotong cerita dengan solusi instan.
Di awal tahun ini, mungkin sudah saatnya kita belajar hal sederhana: bertanya dengan tulus. “Kamu baik-baik saja?” dan benar-benar siap mendengar jawabannya. Memberi ruang tanpa paksaan. Tidak semua cowok akan langsung terbuka. Tetapi mengetahui bahwa ruang itu ada saja sudah cukup menenangkan.
Dan untuk para cowok yang membaca refleksi ini: diam bukanlah kesalahan. Bertahan bukanlah kelemahan. Tetapi ingatlah, kamu juga berhak didengar. Kamu juga berhak lelah. Kamu juga berhak punya tempat untuk cerita, meski pelan-pelan, meski satu kalimat dulu.
Awal tahun ini mengajarkanku satu hal penting: kekuatan sejati bukan tentang menelan semuanya sendirian, tetapi tentang tahu kapan harus diam dan kapan berani membuka sedikit pintu. Dunia mungkin belum sepenuhnya ramah bagi cowok yang ingin bercerita, tetapi perubahan selalu dimulai dari kesadaran.
Dan selama ini, jika satu batang rokok menjadi teman paling setia dalam sunyi, semoga suatu hari nanti ada juga manusia yang bisa duduk di sampingmu, mendengar tanpa menghakimi, dan berkata, “nggak apa-apa capek, gue di sini.”
Karena pada akhirnya, cowok bukan tidak butuh didengar. Mereka hanya terlalu lama hidup tanpa tempat untuk bercerita.
